
Tanpa canggung dan ragu kedua insan yang menyandang status sebagai tunangan itu melakukan candaan khas sepasang kekasih di dapur cade milik Dewa.
Sontak saja karyawan yang kebetulan sudah datang dan melihat mereka sedang berciuman, membuat mereka menelan ludahnya sendiri.
Prang!
Nampan yang terbuat dari bahan stainless terjatuh dari tangan salah satu karyawan yang sedang memergoki mereka.
Sontak saja Dewa dan Ayuna menyudahi ciuman mereka dan mereka menoleh ke arah sumber suara berasal.
Mata Ayuna terbelalak karena melihat beberapa karyawan berdiri di depan pintu dapur dan kaget melihat Dewa dan Ayuna yang melihat ke arah mereka.
Ayuna segera berpindah ke belakang tubuh Dewa. Dia bersembunyi pada punggung Dewa agar tidak terlihat oleh mereka.
"Kalian sudah datang?" tanya Dewa pada mereka semua.
Pintar sekali Dewa menyembunyikan kegugupan dan rasa malunya. Dia seolah-olah biasa saja tanpa terbebani dengan rasa apapun.
"I-iya Pak," jawab mereka semua canggung.
Mereka takut dimarahi oleh Dewa karena melihatnya sedang berciuman bersama Ayuna secara live.
"Ya sudah, kalian teruskan pekerjaan kalian. Saya mau ke kantor dulu," ucap Dewa sambil berbalik menghadap Ayuna.
Ayuna di dekap oleh Dewa dan dia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Dewa.
Dengan posisi mendekap Ayuna seperti itu, Dewa membawa Ayuna berjalan keluar dari dapur tersebut menuju kantornya yang ada di lantai atas.
Malu... malu... malu... malu..., celoteh Ayuna dalam hatinya.
"Gak usah malu Ay. Kita kan udah dewasa dan kita bukan pasangan selingkuh. Jadi kamu tenang saja," tutur Dewa sambil mengurai sedikit pelukannya.
Dewa memegang dagu Ayuna dan mengarahkannya untuk menatap matanya. Mata mereka kembali beradu pandang.
"Apa kamu malu Ay?" tanya Dewa sambil terkekeh.
__ADS_1
Ayuna menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Dewa padanya.
"Mending kita nikah aja Ay biar gak malu kayak tadi. Kalau kita udah nikah kan gak ada yang membicarakan kita," tutur Dewa dengan matanya yang masih menatap mata Ayuna dan memberikan senyuman manisnya pada calon istrinya itu.
"Emmm... meskipun gak nikah sekarang kan bisa memberitahu mereka kalau kita sudah tunangan, jadi biar mereka gak berpikir buruk tentang aku," ucap Ayuna gugup mencoba untuk menolak permintaan Dewa yang mengajaknya menikah lebih cepat.
"Kenapa? Apa kamu gak mau menikah sama aku?" tanya Dewa menyelidik.
"Bukannya gitu, hanya saja...," Ayuna ragu meneruskan ucapannya.
"Kenapa?" tanya Dewa kembali.
Ayuna diam, dia masih belum menjawabnya meskipun mata mereka masih saling beradu pandang.
"Ay...," Dewa memanggil nama Ayuna bermaksud agar Ayuna menjawabnya.
"Aku... aku belum siap," jawab Ayuna yang matanya melihat ke arah bawah setelah mengatakannya.
"Belum siap? Belum siap untuk apa Ay? Kita hanya menikah, kamu perlu persiapan apalagi?" tanya Dewa dengan gemas.
Ayuna mengarahkan kembali pandangannya pada Dewa seolah tidak percaya dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dewa padanya.
"Hah?! Kamu masih akan berkumpul dengan mereka Ay?" tanya Dewa dengan mata yang terbelalak karena kaget mendengar perkataan Ayuna.
"Iya dong... mereka kan sahabat-sahabatku," jawab Ayuna dengan bangganya.
"Meskipun sudah lulus?" tanya Dewa kembali untuk mencari jawaban dari apa yang dia pikirkan selama ini.
"Iya. Kami itu sahabat yang selalu ada setiap kita membutuhkan ataupun tidak," jawab Ayuna dengan bangganya memamerkan persahabatannya dengan Felix, Gavin,Viktor dan Devan.
"Meskipun kamu sudah menikah Ay?" tanya Dewa kembali.
"Iya. Emangnya kenapa? Ada yang salah? Bukannya persahabatan gak ada kata putusnya?" jawab Ayuna dengan bertanya kembali pada Dewa.
Dewa hanya tersenyum lebar dan menempelkan dahinya dengan dahi Ayuna. Dia tidak berani melarang Ayuna meskipun dia sangat keberatan dengan persahabatan Ayuna bersama dengan empat orang laki-laki.
__ADS_1
Sepertinya aku harus benar-benar mempercepat pernikahan kami agar mereka tidak bisa lebih hati-hati dan tidak bisa lebih dekat dengan Ayuna seperti waktu sebelum menikah denganku, Dewa berkata dalam hatinya.
Tok... tok... tok...
Suara pintu kantor Dewa diketuk oleh orang yang berada di luar pintu tersebut.
"Masuk!" seru Dewa memberi perintah pada orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
Masuklah salah satu karyawan Dewa yang ternyata bartender andalan cafe tersebut. Dia membawa dua cangkir yang berisikan kopi dan teh untuk mereka berdua.
Setelah itu masuklah karyawan lainnya yang membawakan snack dan kue untuk Dewa dan Ayuna.
Dewa seperti biasanya, dia cuek dan pandai menutupi rasa malunya. Sedangkan Ayuna, dia sangat malu pada mereka, hingga dia memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk melihat pemandangan di luar jendela tersebut.
Hanya beberapa saat mereka langsung keluar setelah memberikan apa yang mereka bawa untuk Dewa dan Ayuna, karena mereka takut mengganggu sepasang manusia yang tadi mereka pergoki sedang bercumbu.
"Sebentar lagi saya akan turun. Kita akan briefing gabungan seperti biasanya," tutur Dewa pada mereka sebelum keluar dari ruang kerja Dewa.
"Baik Pak, akan kami laksanakan," jawab mereka berdua secara bergantian.
Ayuna masih betah memandang pemandangan yang ada di luar kaca jendela itu. Dia terpukau dengan keindahan alam sekitarnya, hingga dia tidak menyadari jika mereka berdua yang membawakan makanan dan minuman sudah keluar dari ruangan tersebut.
Dewa beranjak dari duduknya dan mendekati Ayuna yang masih terpukau dengan pemandangan di luar jendela kaca itu.
Tiba-tiba saja Ayuna dikagetkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Dan Ayuna tahu jika tangan kekar itu milik Dewa.
Aroma maskulin yang selalu di pakai oleh Dewa membuat Ayuna mengetahui aroma khas milik Dewa.
"Lihat apa?" tanya Dewa yang kini meletakkan dagunya pada ceruk leher Ayuna.
"Pemandangannya bagus. Aku suka. Melihat pemandangan di sana membuat kita menjadi tenang," jawab Ayuna sambil tersenyum dan menunjuk apa yang dia lihat.
"Apa kamu suka?" tanya Dewa yang masih dalam posisinya seperti tadi.
"Iya. Aku suka melihatnya. Seolah kita melupakan semua kesulitan kita," jawab Ayuna dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita tinggal di sini saja?" tanya Dewa sambil menoleh ke arah wajah Ayuna meskipun dagunya masih berada pada ceruk leher Ayuna.
"Ngaco ih. Gak bisa. Kegiatan kita semua ada di sana. Dan tempat ini di sediakan untuk kita yang lelah akan keseharian kita agar kembali fresh seperti di sini," tutur Ayuna sambil mengusap rambut Dewa yang sedang bermanja padanya.