Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 63 Di mana suamiku?


__ADS_3

Hari ini Ayuna melaksanakan acara wisudanya. Kedia orang tua Dewa yang berjanji akan datang mendadak memberi kabar bahwa tidak bisa hadir karena pekerjaan Antonio, papa Dewa tidak bisa diwakilkan.


Dengan terpaksa Ayuna menghadiri acara wisudanya hanya dengan kedua orang tuanya dan juga tentunya Dewa sebagai suaminya.


Ayuna yang baru turun dari podium bingung mencari suaminya. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Dewa yang sudah menemani hari-harinya sebagai suaminya.


"Ma, Kak Dewa mana?" tanya Ayuna pada Bu Andini.


"Tadi ada di sini loh. Apa mungkin dia pergi ke toilet ya?" ucap Bu Andini sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari menantunya.


Wajah Ayuna kini murung. Entah kenapa dengan tidak adanya Dewa di sisinya membuat dirinya kehilangan separuh raganya.


"Ayuna, kita foto bareng-bareng yuk," ucap Devan yang baru saja datang bersama dengan teman-temannya menghampiri Ayuna.


Ayuna menganggukkan kepalanya, tapi terlihat jelas dirinya tidak bersemangat. Mereka mengambil beberapa foto berlima, setelah itu mereka berfoto bersama semua orang tua mereka.


Mereka berfoto bersama dengan gaya-gaya berbeda seperti foto kelulusan mereka dulu sewaktu SMA. Sejenak Ayuna lupa akan kehilangan suaminya yang sedari tadi dia cari.


Tiba-tiba ada seseorang yang memberitahukan bahwa Ayuna harus datang ke ruangan Dewa. Dia bingung karena Dewa sudah tidak bekerja di sana, sehingga Ayuna mempunyai pikiran buruk akan perintah itu.


"Udah, lebih baik kamu ke sana saja. Siapa tau Dewa ada di sana," tutur Bu Andini sambil mendorong-dorong tubuh Ayuna agar segera berjalan menuju ruangan Dewa.


"Kan Kak Dewa sudah tidak menjadi dosen di kampus ini Ma," ucap Ayuna sambil menoleh ke belakang melihat mamanya meskipun badannya berjalan dengan didorong oleh mamanya.


"Siapa yang tau dia masih bawa kunci ruangannya," jawab Bu Andini tanpa berpikir.


"Ih Mama ngarang. Mana mungkin ada yang kayak gitu. Yang bener aja sih Ma," protes Ayuna sambil berjalan lirih dengan didorong oleh Bu Andini.


"Udah, gak usah kebanyakan ngomong. Cepetan sana. Kasihan orang yang lagi nunggu kamu," sahut Bu Andini dengan gemasnya mendorong badan Ayuna.


Ayuna membalikkan badannya dengan menampakkan wajah bingungnya. Kemudian dia berkata,


"Orang? Bukannya Kak Dewa Ma?"


"Cari tau sendiri sana. Lagian Dewa juga orang kan, bukan hewan," jawab Bu Andini sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyuruh Ayuna pergi.


Ayuna menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia berjalan sambil menggerutu,


"Punya Mama gitu banget. Gak kuatir gitu kalau anaknya diculik orang."


Perlahan kaki Ayuna sampai di depan ruangan Dewa. Dengan jantung yang berdebar, dia mengetuk pintu tersebut.

__ADS_1


Pintunya tiba-tiba terbuka, hanya saja tidak ada siapapun yang keluar dari ruangan tersebut.


Jantung Ayuna semakin berdebar. Dia sangat takut jika ada orang yang sengaja menjahilinya di saat Dewa tidak bersamanya.


Tiba-tiba ada tangan dari dalam ruangan tersebut yang menarik tangan Ayuna di saat dia sedang lengah.


Sontak saja badan Ayuna terhuyung dan tertarik masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Aaaaaah...," seru Ayuna ketika badannya ditarik masuk ke dalam ruangan tersebut.


Badan Ayuna disandarkan pada tembok dan matanya terbelalak ketika lampu ruangan itu dinyalakan.


Orang yang menarik tangannya tadi yaitu orang yang berada di hadapannya sedang mengunci badannya dengan kedua tangan kekarnya.


"Sayang, lama sekali datangnya?" tanya orang tersebut dengan senyumnya yang membuat Ayuna diam karena terpanah melihatnya.


"Kamu... kamu ngapain di sini?" tanya Ayuna yang masih enggan mengalihkan pandangannya dari senyuman orang yang ada si hadapannya itu.


"Aku menunggumu sayang," jawab orang tersebut dengan menyuguhkan kembali senyuman yang mampu membuat Ayuna terperangah.


"Kenapa harus di sini?" tanya Ayuna yang masih terpanah memandang orang tersebut.


"Karena ruangan ini banyak bersejarah untuk kita," jawab orang tersebut dengan lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Ayuna.


"Ini ruanganku sayang...," ucap orang tersebut sambil mengusap lembut pipi Ayuna.


"Kok bisa? Bukannya udah gak jadi dosen di sini?" tanya Ayuna menyelidik.


Ya, dia adalah Dewa. Orang yang berada dalam ruangan tersebut adalah Dewa. Orang yang menarik tangan Ayuna adalah Dewa. Dan orang yang ada di hadapan Ayuna saat ini, mengunci badan Ayuna dengan kedua lengan kekarnya adalah Dewa, suami Ayuna.


"Nanti akan aku ceritakan. Aku sengaja membawamu ke tempat ini karena ruangan ini sangat bersejarah untuk kita. Aku ingin mengenangnya kembali bersamamu," ucap Dewa sambil mendekatkan wajahnya pada Ayuna.


Wajah Dewa semakin mendekat, bisa dipastikan apa yang akan Dewa perbuat pada Ayuna.


Namun, ketika wajah Dewa semakin mendekat dan bibirnya hendak menyentuh bibir Ayuna, seketika Ayuna menolehkan wajahnya ke samping. Tentu saja hal itu membuat Dewa kecewa.


Wajah Dewa terlihat kecewa. Senyumnya yang tadinya merekah, kini sirna sudah.


Ayuna menahan tawanya melihat wajah kecewa dari suaminya. Dia ingin membalas kejahilan suaminya dengan kejahilannya saat ini.


"Ceritakan dulu, baru aku mau di itu-itu," ucap Ayuna sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Dahi Dewa mengernyit, kemudian dia berkata,


"Itu-itu apa?"


"Ya itu, digituin," jawab Ayuna sambil memperagakan bibir yang sedang berciuman menggunakan kedua tangannya.


Kini giliran Dewa yang menahan tawanya. Dia sungguh terhibur dengan tingkah istrinya itu.


"Ya sudah, kita duduk di sana dulu, setelah itu akan aku ceritakan semuanya padamu," ucap Dewa sambil menunjuk sofa yang biasanya ditempati oleh mereka berdua ketika berada di ruangan tersebut.


Dewa menceritakan pada Ayuna jika kakeknya lah pendiri kampus itu. Hanya saja Antonio, papa dari Dewa tidak pernah ada waktu untuk mengurusnya sehingga Dewa lah yang diberi wewenang untuk mengurusnya.


Hingga suatu ketika ada dosen yang sedang cuti beberapa bulan dan mereka harus mencari penggantinya untuk sementara waktu.


Karena sangat mendesak dan tidak banyak waktu lagi, Dewa lah yang menggantikannya untuk mengajar mata kuliah dosen tersebut karena kebetulan sekali Dewa menguasainya.


"Jadi... jadi ini...," ucap Ayuna gugup sehingga tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Dewa tersenyum dan..


Cup!


Dia mencuri ciuman di pipi Ayuna. Mata Ayuna terbelalak menerima ciuman dari suaminya itu, tapi sayangnya tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya.


Cup!


Dewa kembali mencium pipi sebelah yang belum diciumnya tadi.


Ayuna semakin membelalakkan matanya karena mendapatkan serangan mendadak dari suaminya.


Cup!


Kini bibir Ayuna lah yang mendapat serangan dari suaminya. Sontak saja tangan Ayuna memukul dadanya, kemudian memukul lengannya dengan bertubi-tubi.


"Ampun Ay... habisnya kamu diam aja, sepertinya pasrah gitu mau aku apa-apain," ucap Dewa sambil terkekeh.


"Enak aja. Aku diam karena kaget. Habisnya kamu tiba-tiba menyerang mendadak. Aku kan belum siap," tutur Ayuna dengan menunjukkan wajah kesalnya.


Tiba-tiba Ayuna teringat sesuatu. Dia memicingkan matanya menatap Dewa sambil berkata,


"Eh tunggu, apa Mamaku tau jika kamu menungguku di sini?"

__ADS_1


Dewa tersenyum manis dan tangannya mencubit gemas kedua pipi Ayuna.


"Menurut kamu?"


__ADS_2