Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 73 Reina beraksi


__ADS_3

"Apa kamu mau menikah dengan Dewa?" tanya Bu Intan pada Reina.


"Hei... hei.. Reina... kamu melamun?" tanya Bu Intan pada Reina dengan melambai-lambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan di depan wajah Reina.


Ternyata Reina melamun dan membayangkan jika Bu Intan bertanya padanya tentang kesediaannya menikah dengan Dewa.


"Eh.. i-iya Tan, ma-maaf...," ucap Reina gugup dan salah tingkah.


"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bu Intan menelisik.


"Emmm... tidak Tante, hanya saja saya... mmm...," ucapan Reina mengambang seolah dia ragu untuk mengatakannya.


"Ya sudah, kalau kamu mau bercerita sama Tante, cerita aja. Tapi kalau kamu keberatan, ya gak usah. Yuk kita lanjutkan masaknya," tutur Bu Intan sambil tersenyum pada Reina.


Reina pun tersenyum menanggapi perkataan Bu Intan. Dalam hatinya dia bersorak karena Bu Intan ramah padanya.


Ternyata Mamanya Pak Dewa baik juga, pantas saja Ayuna senang sekali hidupnya. Aku harus bisa terus mendekati Mamanya Pak Dewa supaya keinginanku bisa terlaksana, Reina berkata dalam hatinya sambil tersenyum tipis.


"Kamu pintar sekali ya masaknya. Sepertinya kamu sudah biasa masak," ucap Bu Intan pada Reina ketika mendampingi Reina masak.


Reina tersenyum sambil memperlihatkan keahlian memasaknya di depan Bu Intan.


"Saya sudah terbiasa memasak Tante. Sejak kecil saya harus membantu Ibu saya memasak untuk keluarga dan membantu memasak untuk ibu saya berjualan," jawab Reina sambil terus memasak.


Ini kesempatanku untuk membuat Mamanya Pak Dewa terkesan padaku. Tunggu saja Ayuna, kamu pasti akan tersisih nantinya, Reina berkata dalam hatinya sambil mengeluarkan smirk nya.


"Wah... kamu anak yang berbakti," puji Bu Intan pada Reina sambil mengusap pundak Reina.


"Ibu kamu jualan apa?" tanya Bu Intan kembali pada Reina.


Reina menghentikan kegiatan memasaknya, dia menatap Bu Intan dengan memasang wajah sedihnya, kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Ibu saya punya warung nasi di rumah. Lumayan Tante bisa buat membiayai sekolah saya dan adik-adik saya. Saya harus bekerja keras untuk membantu Ibu saya Tante agar adik-adik saya bisa makan dan bersekolah."


"Kamu hebat sekali. Kamu anak yang berbakti, bisa memasak, mengurus adik-adik kamu. Seandainya saja menantu saya seperti kamu, pasti Tante lebih senang lagi," tutur Bu Intan sambil mengusap lembut pundak Reina, berniat untuk menguatkannya.


Reina tersenyum senang dan dia bersorak dalam hatinya karena merasa bisa lebih dekat dengan Bu Intan dan bisa menarik simpatinya.


Yes... akhirnya aku bisa lebih dekat dengan Mamanya Pak Dewa. Sebentar lagi aku akan membuat Mama Pak Dewa memintaku untuk menjadi menantunya, Reina berkata dalam hatinya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Deg!


Tubuh Ayuna terasa tidak bertulang. Kali ini dia mendengar hal lain dari mama mertuanya. Biasanya dia hanya mendengar jika mama mertuanya itu meminta agar Dewa dan Ayuna segera memberikannya cucu. Tapi sekarang, mama mertuanya itu mengatakan jika dia menginginkan menantu seperti Reina.


Beruntung tangan Dewa tidak pernah melepas tubuh Ayuna. Dia selalu melingkarkan tangannya pada pinggang Ayuna dam terkadang pada pundak Ayuna.


Kini kebiasaannya itu menyelamatkan Ayuna tidak terjatuh di lantai. Bahkan Dewa merasakan berat badan Ayuna yang tidak mampu ditopang oleh diri Ayuna sendiri setelah mendengar percakapan mamanya dengan Reina.


"Ma, apa-apaan ini?!"


Bu Intan dan Reina terkejut mendengar suara Dewa. Mereka berdua membelalakkan matanya ketika menoleh ke arah suara Dewa yang sedang menatap marah pada mereka berdua.


"Dewa?!" celetuk Bu intan ketika melihat Dewa yang tampak emosi menatapnya.


"Pak Dewa?!" celetuk Reina pada saat melihat Dewa sangat emosi menatapnya.


"Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam rumahku?" tanya Dewa dengan emosi.


"Sayang," ucap Ayuna sambil memegang tangan Dewa yang sedang emosi, berniat untuk menghentikan Dewa.


Reina menundukkan kepalanya, dia tidak berani menjawab ataupun melihat Dewa yang benar-benar menakutkan ketika sangat emosi.


"Dewa, jangan kasar seperti itu pada tamu. Dan dia datang dengan niat baik. Tadi dia datang dengan membawa bahan makanan, berniat untuk memasak bersama Ayuna," tutur Bu Intan yang merasa kasihan pada Reina.

__ADS_1


"Dengan niat baik? Niat baik apa? Dia ada niat tidak baik dengan kita. Sudahlah, lebih baik kamu pulang sekarang juga!" seru Dewa dengan tatapan bengisnya dan menunjuk ke arah Reina serta menunjuk pintu yang menandakan dia mengusirnya.


"Dewa! Kamu benar-benar tidak sopan! Mama tidak pernah mengajarkan hal seperti ini padamu!" seru Bu Intan pada Dewa dengan nada tinggi.


Ayuna benar-benar syok. Dia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Memang mama mertuanya selalu menginginkan cucu dari mereka dan terkesan memaksa, hanya saja mama mertuanya itu tidak pernah sampai berdebat dengan nada tinggi seperti sekarang ini dengan Dewa.


"Dia memasak makanan untuk kalian berdua. Hargai apa yang dia lakukan," ucap Bu Intan kembali.


"Baiklah, akan saya bayar. Dan silahkan pergi dari rumah ini sekarang juga!" seru Dewa kembali dengan dadanya yang naik turun karena emosinya.


"Dewa! Keterlaluan kamu! Dia gadis baik, jangan perlakukan dia seperti itu. Setidaknya dia masih bisa diandalkan daripada istri manjamu itu," ucap Bu Intan dengan tersenyum mengejek melihat Ayuna.


"Diam Ma! Tidak ada yang bisa menyamai Ayuna. Dia istriku dan tidak ada yang lebih baik darinya," seru Dewa dengan emosinya yang meluap.


Dengan segera Dewa menggendong tubuh Ayuna ala bridal style karena dia tahu tubuh istrinya itu sedang lemas dan tidak kuat berjalan.


"Dewa! Mau ke mana kamu? Jangan pergi begitu saja! Makanlah dulu masakan Reina!" seru Bu Intan menghentikan langkah Dewa yang baru saja selangkah meninggalkan mereka.


Dewa menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kembali menghadap mereka, Dewa berkata,


"Aku tidak sudi memakan makanannya. Dan kamu, cepatlah pergi dari rumah ini atau akan kupanggilkan polisi untuk mengusirmu!"


Kemudian Dewa segera berjalan cepat dengan menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam mobilnya.


"Dewa! Dewa! Kembali kamu!" teriak Bu Intan dari tempatnya.


Namun, Bu Intan dan Reina mendengar suara deru mobil Dewa keluar dari halaman rumahnya.


"Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya dia bersikap seperti itu pada Mamanya. Selama ini dia selalu menjadi anak yang baik dan penurut, tapi sekarang dia berani meninggikan suaranya di depan mamanya," Bu Intan menggerutu marah setelah melihat kepergian Dewa.


Reina tersenyum manis pada Bu Intan dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Sabar ya Tante, memang saya yang salah karena ke sini tanpa mengatakan pada Ayuna dan Pak Dewa. Dan Tante jangan salahkan Pak Dewa karena selama ini saya tidak pernah melihat Pak Dewa seperti itu. Mungkin karena Ayuna sekarang Pak Dewa berani bersikap seperti itu."


__ADS_2