Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 50 Makan bersama


__ADS_3

"Felix, kamu ngapain di sini?" tanya Ayuna dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"A-aku... aku...," Felix gugup, dia bingung akan menjawab apa pada Ayuna.


Misi mereka bertiga yaitu menjauhkan Ayuna dari Devan untuk sementara waktu. Dan sedari mereka datang ke tempat ini, mereka selalu bertemu dengan Ayuna tanpa Ayuna sadari.


Namun, kini Ayuna lah yang mengetahui keberadaan mereka sehingga kini mereka sudah tidak bisa jika akan menghindarinya.


"Kamu kenapa? Eh jangan-jangan kamu...," Ayuna bergidik ngeri, tidak bisa meneruskan ucapannya.


"Jangan-jangan aku kenapa?" tanya Felix sambil mengernyitkan dahinya.


"Jangan-jangan kamu... kesurupan. Hiiii...," ucap Ayuna sambil kembali bergidik ngeri.


"Semprul. Kesurupan dari Hongkong?" sahut Felix sambil mengapit kepala Ayuna dengan lengannya seperti biasanya mereka jika sedang bercanda.


"Felix, baru ditinggal sebentar aja udah dapat gandengan. Kenalin dong...," seru Viktor dengan antusias.


Ayuna dan Felix menoleh ke belakang dan mereka semua membelalakkan matanya mengetahui jika yang bersama Felix adalah Ayuna, perempuan yang sengaja mereka hindari untuk saat ini.


"Ayuna?!" ucap Gavin dan Viktor bersamaan.


Devan, dia memandang Ayuna dengan pandangan yang penuh luka dan ingin memilikinya.


"Heiiii... kalian semua kok pada ada di sini sih? Kalian liburan? Atau jangan-jangan...," Ayuna berseru mendekati merek dengan tersenyum senang.


"Jangan-jangan apaan?" tanya Viktor ingin tahu.


"Jangan-jangan kalian ngikutin aku ya?" ucap Ayuna sambil terkekeh.


"Ngadi-ngadi. Gak ada kita ngikutin kamu," tukas Gavin sambil mengacak rambut Ayuna dengan gemas.


"Yeee... kali aja kalian lacak gps ponselku," ucap Ayuna dengan percaya dirinya.


"Dih, ngapain melacak kamu, mendingan melacak cewek cantik," sahut Viktor sambil mengacak-acak rambut Ayuna.

__ADS_1


"Kalian ini selalu menyiksaku. Awas aja bakalan aku balas," ucap Ayuna dengan kesal.


"Emangnya berani lawan kita semua?" tanya Viktor sambil mendekatkan tubuhnya pada Ayuna diikuti oleh Felix dan Gavin.


"Woooi... woiii... woles dong, gak boleh keroyokan. Aku kan jadi... Devan... tolongin...," seru Ayuna sambil berlari ke arah Devan dan sembunyi di belakang tubuh Devan.


Sepertinya Ayuna sudah lupa jika Devan telah mengutarakan perasaannya pada dirinya. Sehingga kini dia masih saja bertindak seperti biasanya, mencari perlindungan pada Devan ketika ketiga sahabatnya itu menyerangnya.


Felix, Gavin dan Viktor berhenti di depan Devan. Mereka merasa tidak enak pada Devan karena kini Ayuna sedang berada sangat dekat dengannya.


Dia bersembunyi di belakang tubuh Devan dengan mencengkeram erat baju Devan dan menyembunyikan wajahnya pada punggung Devan.


Devan hanya diam saja, dia berusaha keras menata hatinya agar tidak lagi terluka dengan hubungan yang dimilikinya bersama Ayuna.


"Kalian jangan ganggu dia. Kasihan dia masih kecil," ucap Devan sambil terkekeh.


Felix, Gavin dan Viktor terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Devan. Mereka tidak menyangka jika Devan mengatakan hal seperti itu dikala dia sedang sakit hati pada Ayuna.


"Masih kecil, enak aja. Aku udah gede tau gak," ucap Ayuna sambil memukul punggung Devan berkali-kali hingga Devan mengeluh kesakitan.


"Auuuh... sakit Ayuna," seru Devan sambil membalikkan badannya untuk menghadap Ayuna.


Devan pun menikmati momen ini seperti biasanya, seperti dulu sebelum dia menyatakan perasaannya pada Ayuna.


"Ay!" suara yang sangat familiar itu terdengar sangat marah di telinga orang yang mendengarnya.


Sontak saja Ayuna, Felix, Gavin, Viktor dan Devan menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka kaget melihat Dewa yang menatap mereka dengan sangat tidak bersahabat.


Dewa berjalan mendekati Ayuna yang masih dalam posisi berdekatan dengan Devan. Bahkan tangan Devan masih berada di pinggang Ayuna karena akan menggelitiknya.


Badan Ayuna ditarik oleh Dewa dan tangan Dewa melingkar di pundak Ayuna. Seketika suasana menjadi hening dan canggung.


Jujur saja mereka berlima tidak menginginkan mereka berada dalam suasana dan keadaan seperti itu. Hanya saja Dewa dengan kecemburuannya membuat mereka menjadi menjauh. Ditambah lagi dengan Devan yang juga mempunyai rasa pada Ayuna. Hingga membuat hubungan mereka sekarang ini menjadi kurang nyaman, berbeda dengan yang dulu.


Dewa menghadapkan badan Ayuna berhadapan dengannya. Dia menatap intens mata Ayuna dan berkata,

__ADS_1


"Kamu ke mana aja Ay, dari tadi aku tungguin di kantor, kamu gak balik-balik. Padahal kamu bilang mau ke toilet kan?"


Ayuna tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya untuk menutupi kegugupannya karena merasa salah telah membohongi calon suaminya itu.


"Kamu itu sayang, bikin orang khawatir aja," ucap Dewa sambil mencubit hidung Ayuna.


Ayuna terkekeh karena dia berhasil membuat Dewa tidak bisa marah padanya. Sedangkan keempat sahabatnya itu memandang heran pada Dewa yang begitu saja bisa luluh dari kemarahannya pada Ayuna.


Tadi Dewa benar-benar sangat khawatir ketika Ayuna tidak juga kembali dari kamar mandi. Segeralah ditutup laporan yang sedang dibacanya. Dia mencari Ayuna ke toilet cafe yang ternyata semuanya kosong. Dan dia menanyakan pada karyawannya, ternyata mereka mengatakan bahwa Ayuna keluar cafe dan berjalan-jalan di sekitar cafe.


Dengan segera Dewa mencarinya hingga dia melupakan pekerjaannya yang masih belum selesai dia kerjakan.


Namun, saat dia mengkhawatirkan calon istrinya itu, dia malah mendapati Ayuna sedang bercanda dengan sahabatnya yang menaruh hati padanya. Tidak hanya itu saja, ternyata semua sahabatnya ada di sana bersama dengan mereka.


Kesal? Tentu saja Dewa kesal. Marah? Benar, dia sangat marah saat ini. Bagaimana dia tidak marah jika tunangannya, calon istrinya itu bercanda dengan lelaki lain yang kemarin menyatakan cintanya padanya.


Dengan perasaan kesal dan marah itu Dewa menghampiri Ayuna berniat untuk segera mengajaknya kembali ke cafenya. Sayangnya, kemarahannya luluh begitu saja karena melihat senyuman dari calon istrinya itu yang selalu membuatnya menyerah.


"Yuk Ay kita balik, pekerjaanku belum selesai," ucap Dewa sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Ayuna dan mengarahkannya untuk berjalan mengikutinya.


"Kalian mau ikut kita?" tanya Ayuna yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Gak usah, kita mau mencari makan, lapar," jawab Felix dengan senyum kakunya.


Felix, Gavin dan Viktor merasa tidak enak dan canggung pada Dewa. Berbeda dengan Devan yang merasa kesal pada Dewa.


"Kebetulan dong. Kita makan barengan aja di cafenya Kak Dewa. Boleh kan sayang?" tanya Ayuna tanpa sadar memanggil Dewa dengan sebutan sayang.


Sebutan sayang itu membuat mata Dewa berbinar. Dan tentu saja dia sangat senang sehingga dia menuruti semua keinginan kekasih hatinya itu tanpa berpikir panjang meskipun hal tersebut sangat dibencinya.


Dewa tersenyum senang dan mengangguk, membuat Ayuna bersorak kegirangan.


"Yeeee... kita makan bersama...!"


"Ayo guys kita makan bersama di cafenya Kak Dewa!" seru Ayuna sambil berjalan sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Dewa.

__ADS_1


"Tapi Yuna...," ucap Felix yang tidak digubris oleh Ayuna.


Sehingga mau tidak mau mereka kini mengikuti Dewa dan Ayuna menuju cafe milik Dewa untuk makan bersama dengan mereka.


__ADS_2