
Pikiran Ayuna kini kembali. Pikiran tentang kejadian-kejadian lalu yang terjadi saat dia SMA hingga dia mendengarkan lamaran dari mulut Dewa. Dia harus benar-benar memikirkan pertanyaan Dewa sebab kedua orang tua Ayuna juga menanyakan hal yang sama.
"Ah... aku harus benar-benar memikirkannya," ucap Ayuna bermonolog sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya.
Pertanyaan Dewa tentang kesediaannya untuk menikah dengannya itu masih terngiang di indera pendengaran Ayuna, hingga tak terasa dia terbawa oleh buaian alam mimpinya.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar Ayuna diketuk berkali-kali oleh Mamanya. Tak ada jawaban dari Ayuna yang diyakini Mamanya masih berada di dalam kamarnya.
Ceklek!
Pintu kamar Ayuna dibuka oleh Mamanya secara perlahan.
"Dasar nih anak, masih aja gak dikunci kalau tidur," gumam Bu Andini sambil berjalan mendekati Ayuna yang masih bergelung dengan mimpinya.
"Yuna, Ayuna," Ibu memanggil-manggil Ayuna dengan menggoyang-goyangkan badan Ayuna.
"Emmm... lima menit lagi Ma," ucap Ayuna malas.
"Ayuna! Ini sudah siang, Dewa sudah menunggu di bawah!" seru Bu Andini yang membuat Ayuna menutup telinganya.
"A... yu... naaaa...!" seru Bu Andini di dekat telinga Ayuna.
Suara Bu Andini berhasil membuat Ayuna bangun dari tidurnya. Kini dia duduk dengan mata terpejam dan tidak bergerak sekalipun.
"Ayuna...!" Bu Andini kembali berseru di dekat telinga Ayuna.
Seketika mata Ayuna terbuka lebar dan sialnya, di depan Ayuna sudah ada Bu Andini yang melipat kedua tangannya, lalu salah satu tangannya menunjuk ke arah jam dinding.
"Kyaaaaa... telaaaaaat...," seru Ayuna sambil berdiri dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Bu Andini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Ayuna... buruan mandinya, Dewa sudah menunggu dari tadi di bawah," seru Bu Andini dari luar pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban dari Ayuna, hanya suara air gemericik saja yang terdengar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Ayuna turun ke bawah sudah lengkap dengan tas dan buku-bukunya. Dia cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan kini dia sudah bersiap untuk berangkat kuliah.
Mata Ayuna mengerjap-ngerjap melihat Dewa yang sudah berada di meja makan bersama dengan kedua orang tua Ayuna.
Merasa tak percaya, Ayuna mengusap-usap matanya dan berkata,
"Ngapain dia pagi-pagi udah ke sini? Mau numpang sarapan lagi?"
"Husss... kamu ini, calon suami sarapan di sini kan wajar, malah dikatain numpang sarapan," ucap Pak Andika ketika Ayuna sudah berjalan mendekat menuju meja makan.
"Eh, jadi dia beneran nyata ya? Kirain cuma bayangan aja," ucap Ayuna sambil duduk di kursinya.
"Kamu mikirin aku terus ya sampai kebayang-bayang gitu," Dewa menggoda Ayuna.
Uhuk!
Ayuna tersedak ketika meminum susu UHT coklat mendengar perkataan Dewa.
"Ih najis. Siapa yang mikirin situ. Kayak utang aja dipikirin," sahut Ayuna dengan kesalnya.
Dewa terkekeh mendengar perkataan Ayuna. Meskipun kata-katanya diucapkan dengan nada kesal, bagi Dewa Ayuna yang sedang kesal membuatnya bertambah gemas.
"Maafkan Ayuna ya Dewa, dia memang manja," ucap Pak Andika sungkan.
Dewa hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia berkata,
"Tidak apa-apa Pa, saya lebih suka Ayuna yang seperti itu, lebih menggemaskan," ucap Dewa disertai kekehannya.
Seketika Pak Andika dan Bu Andini tertawa mendengar ucapan dari Dewa. Berbeda dengan Ayuna yang heran melihat Dewa.
Kok ada ya orang kayak gini, dijutekin bukannya marah malah gemes sama yang jutekin dia, Ayuna berkata dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya serta menatap Dewa dengan tatapan heran.
Dewa yang ditatap Ayuna seperti itu malah tersenyum manis membuat Ayuna salah tingkah.
Ayuna melampiaskannya dengan meminum habis susu UHT coklat yang ada di depannya.
"Udah siang, kamu sih telat bangunnya. Mama bungkusin aja sarapannya, kalian makan di mobil," ucap Bu Andini
__ADS_1
"Hah?! Gak usah Ma, nanti Yuna beli aja di kantin," ucap Ayuna sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.
"Gak usah beli. Itu Mama udah siapin di box sarapan untuk kalian berdua," ucap Mama sambil menunjuk box makanan yang lumayan besar di atas meja.
"Ma, Mama gak salah ngasih Ayuna makan segitu banyaknya?" tanya Ayuna dengan terkekeh.
"Siapa bilang buat kamu? Ini buat kalian berdua," jawab Mama sambil mengambil box tersebut dan diletakkan di depan meja Ayuna.
Mata Ayuna membelalak sempurna hingga mulutnya sedikit menganga mendengar perkataan Mamanya.
"Maksud Mama kita makan berdua gitu?" tanya Ayuna kembali pada Mamanya.
Bu Andini mengangguk dan tersenyum pada Ayuna, kemudian dia berkata,
"Itu untuk kalian berdua, makanlah di dalam mobil."
"Ma, gimana caranya kita makan di dalam mobil? Ada-ada aja ih Mama," ucap Ayuna kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Gampang kok, Dewa kan yang nyetir, jadi kamu suapi Dewa dan diri kamu sendiri," ucap Bu Andini dengan entengnya.
Ayuna semakin membelalakkan matanya dan mulutnya kini kembali terbuka lebar. Dia sama sekali tidak menyangka jika Mamanya akan membuatnya makan sewadah dan sesendok bersama Dewa, bahkan Mamanya menyuruhnya untuk menyuapi Dewa.
Dewa tersenyum penuh kemenangan melihat Ayuna. Sedangkan Ayuna menatapnya dengan tatapan sinis dan kesal pada Dewa.
"Udah sana berangkat, ini jangan lupa bawa bekalnya. Dan jangan lupa dimakan di dalam mobil. Kasian Mama udah capek-capek menyiapkan ini untuk kalian," ucap Pak Andika yang seolah mengusir mereka untuk cepat berangkat.
Dengan berat hati Ayuna menuruti perintah papanya. Dia beranjak dari duduknya dan membawa bekal tersebut. Kemudian dia mencium punggung tangan papa dan mamanya, diikuti oleh Dewa.
Langkah kaki Ayuna berat menuju mobil Dewa yang sudah terparkir di depan rumah Ayuna. Seolah sudah terbiasa menaiki mobil itu, dia tidak merasa sungkan lagi berangkat dan pulang bersama dengan Dewa menggunakan mobil tersebut.
Di dalam mobil Dewa, Ayuna melirik box makanan yang berisi bekal dari Mamanya. Dia ragu hendak membukanya. Tapi keinginan perutnya untuk makan membuatnya membuka box tersebut.
Mata Ayuna berbinar ketika melihat makanan kesukaannya. Nasi goreng spesial yang dimasak oleh Bu Andini adalah nasi goreng terenak versi Ayuna.
Dan kini nasi goreng tersebut berada di hadapannya dengan dua telor ceplok yang bisa diduga oleh Ayuna, satu untuk dirinya dan satu untuk Dewa.
Benar-benar nih Mama. Kayaknya niat banget untuk membuat aku nikah sama dia. Rasa cinta aja gak tau kayak gimana, eh malah disuruh nikah. Masa mudaku ilang begitu saja dong, Ayuna berkata dalam hatinya sambil menatap nasi goreng yang menggugah seleranya.
__ADS_1
"Ay, suapi aku dong. Laper nih aku."