
Dewa tersenyum menyambut kedatangan istrinya. Ketika Ayuna akan mengetuk pintunya, Dewa membuka pintu tersebut. Sambutan hangat Dewa dengan senyuman manisnya itu membuat Ayuna ingin memeluknya seperti ketika mereka berada di rumah.
Tanpa berkata-kata, Ayuna ditarik tangannya oleh Dewa. Dia didudukkan pada sofa yang ada dalam ruangan tersebut.
Ayuna terkejut ketika matanya melihat beberapa macam makanan yang sudah terhidang di meja yang ada di hadapannya.
"Sayang, ini...," ucap Ayuna sambil melihat Dewa dan menunjuk makanan tersebut.
Dewa tersenyum senang mendengar panggilan sayang keluar dari mulut istrinya. Dia mencubit gemas hidung mancung Ayuna dan mengambil satu hidangan yang paling disukai oleh istrinya itu.
Ayuna membuka mulutnya ketika sendok yang dipegang oleh Dewa berada di depan mulutnya. Dia kembali merasakan suapan dari suaminya.
"Sayang, makan yang banyak ya. Pasti kamu lapar, karena berpikir terlalu keras," ucap Dewa sambil tersenyum lebar dengan tangan yang masih sibuk menyendok makanan pada piringnya.
"Isssh... mikir apaan? Oh iya mikir penjelasan dari Bapak Dosen suamiku tercinta yang selalu membuat aku berpikir keras," ucap Ayuna disela kunyahannya.
Dewa tertawa mendengar ucapan istrinya. Tawa itu menggambarkan kebahagiaannya saat ini karena mendengar istrinya menyebutnya dengan 'Bapak Dosen suamiku tercinta' dan dia merasa lucu mendengar alasan dari istrinya itu.
"Ya udah, kalau begitu sekarang kamu makan yang kenyang. Ini sengaja aku pesankan banyak makanan untuk kita berdua. Supaya kamu tetap bisa berpikir," tutur Dewa sambil menyuapkan makanan pada mulutnya sendiri.
"Dari tadi berpikir-berpikir melulu yang dibahas. Mikir apaan sih?" tanya Ayuna seraya mengambil makanan yang ada di meja.
"Mmm Ay, apa kamu gak bisa jika tidak terlalu dekat dengan keempat sahabat kamu itu?" tanya Dewa dengan hati-hati.
Ayuna yang sedang menyendok makanan, tersenyum dalam hatinya. Dia mengerti jika saat ini suami bucinnya ini sedang cemburu pada keempat sahabatnya itu.
Ayuna mengarahkan sendoknya di depan mulut Dewa bermaksud untuk menyuapinya. Dewa pun membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya.
"Ternyata suamiku ini sedang cemburu ya?" tanya Ayuna sambil terkekeh berniat untuk menyindir suaminya.
"Kamu ini gak peka sayang. Tentu saja aku cemburu melihat istriku sedekat itu dengan laki-laki lain," ujar Dewa setelah menelan makanannya.
"Meskipun mereka sahabatku?" tanya Ayuna dengan menatap intens manik mata suaminya.
"Kalian memang bersahabat, tapi tetap saja yang namanya laki-laki dan perempuan itu bisa menimbulkan prasangka buruk dari orang lain," tutur Dewa dengan mengusap bibir Ayuna yang terdapat sisa makanan.
__ADS_1
Ayuna terdiam, dia mencoba berpikir dan mengingat kembali semua ucapan-ucapan orang-orang tentang persahabatan mereka.
"Tapi aku gak punya perasaan apapun pada mereka. Dan kita semua murni bersahabat," ucap Ayuna dengan menyuapkan makanannya pada Dewa.
"Iya, aku tau. Tapi yang melihat kalian gak merasa seperti itu. Mereka meyakini apa yang mereka nilai. Dan aku gak suka kamu jadi bahan omongan orang lain," tutur Dewa sambil menyuapi Ayuna.
Ayuna terdiam, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya sambil berpura-pura sibuk menyendok makanannya.
"Lagian banyak teman kamu yang perempuan, kenapa kamu malah bersahabat dengan laki-laki sih? Empat lagi," ucap Dewa dengan sedikit kesal.
"Karena jika sama-sama perempuan, pasti akan ada yang namanya iri dan menjelek-jelekkan di belakang. Berbeda dengan laki-laki yang memang tulus berteman denganku. Bahkan mereka akan menjagaku karena tanggung jawab mereka sebagai laki-laki," jawab Ayuna disela kunyahan makannya.
"Huffftt... ya sudah. Sekarang kamu kan sudah punya aku, suami kamu. Jadi... bisakah kalian tidak terlalu dekat seperti tadi?" tanya Dewa dengan sangat hati-hati sambil tersenyum lebar menatap istrinya.
Ayuna nampak berpikir, beberapa saat kemudian dia mengangguk sambil tersenyum sehingga membuat Dewa juga tersenyum bahagia mendapatkan jawaban yang sesuai dari istrinya.
Dewa meletakkan di atas meja piring yang dia pegang dan piring yang dipegang oleh Ayuna. Kemudian dipeluknya tubuh istrinya itu penuh dengan cinta.
"Terima kasih sayang, aku tau jika kamu pasti akan selalu menjaga hubungan kita," ucap Dewa sambil memeluk erat tubuh istrinya.
Dewa mengurai pelukannya dan mengambil kembali makanan mereka.
"Ini dihabiskan dulu. Masih ada banyak yang belum dimakan," ucap Dewa sambil menyuapkan kembali makanan dari sendoknya pada mulut Ayuna.
Ayuna pun melakukan hal yang sama. Dia menyuapi Dewa dengan makanan yang ada dalam piringnya.
"Kok bisa banyak makanan di sini. Beli di mana?" tanya Ayuna setelah menelan makanannya.
"Sebelum keluar kelas tadi aku memesannya. Apa kamu menyukai semua makanan ini?" tanya Dewa pada Ayuna sambil mengunyah makanannya.
"Suka dong. Banget malahan. Tapi kalau kebanyakan seperti ini, nanti bisa buat aku gendut. Kalau aku gendut gimana dong?" tanya Ayuna dengan menatap intens manik mata suaminya.
Pertanyaan seperti itu selalu ditanyakan oleh kebanyakan perempuan pada pasangannya. Mereka hanya ingin tahu bagaimana penilaian fisiknya dari pasangannya.
"Gak masalah. Aku gak suka kamu kurus. Aku lebih suka kamu yang lebih berisi seperti ini. Dan jika lebih dari inipun gak masalah buatku. Malah aku tidak akan was-was," jawab Dewa sambil menghentikan suapannya dan juga menatap intens manik mata istrinya itu.
__ADS_1
"Hah, maksudnya?" tanya Ayuna dengan menampakkan wajah bingungnya.
"Biar gak ada yang ngelirik kamu," jawab Dewa sambil terkekeh.
"Iiiih... jahaaaaat...," rengek Ayuna sambil memukul-mukul lengan Dewa.
Dewa hanya tertawa menerima pukulan dari istrinya. Dan dia malah memeluk tubuh istrinya itu agar tidak kesal lagi padanya.
Setelah makanan mereka habis, masih ada beberapa menit untuk kelas Ayuna selanjutnya.
"Aku mau balik ke kelas sekarang ya," ucap Ayuna sambil menata piring-piring kotor bekas makanan mereka.
"Aku antar yuk sayang," ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya untuk meminta tangan Ayuna agar bergandengan tangan dengannya.
Ayuna pun menerima uluran tangan suaminya itu, kemudian dia berdiri dan memakai tasnya.
"Itu piring-piring kotornya gimana?" tanya Ayuna sambil menunjuk piring-piring kotor yang baru saja dia susun di atas meja.
"Biarkan saja di situ. Nanti ada yang membereskannya," jawab Dewa sambil menarik tangan Ayuna agar berjalan dengannya.
"Oh oke," ucap Ayuna sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Dewa mengacuhkan apa yang dibicarakan orang lain tentang dirinya dan istrinya. Ayuna pun begitu, dia hanya mengabaikannya layaknya angin yang melewatinya.
"Sayang, aku mau ke toilet. Tunggu sebentar ya," ucap Ayuna sambil menghentikan langkahnya di depan toilet perempuan.
Ayuna masuk ke dalam toilet tersebut dan Dewa menunggunya di samping pintu toilet tersebut.
"Eh itu kan yang namanya Ayuna? Yang katanya gampangan?" ucap seorang mahasiswi yang baru saja membuka pintu toilet.
"Iya. Masa' nih ya, dia tuh udah beruntung banget dinikahi sama Pak Dewa, eh malah berhubungan dengan empat cowok yang katanya sih dari SMA dulu pacarnya dia. Murahan banget kan?" ucap seorang lagi yang keluar bersamaan dari toilet.
"Ehemmm...."
Tiba-tiba mata mereka terbelalak ketika melihat ke arah yang sumber suara deheman.
__ADS_1
"Pak Dewa?!"