
Dewa dan Ayuna kembali ke Villa mereka setelah mereka berjalan-jalan melihat indahnya pemandangan matahari terbit dan suasana pagi di daerah tersebut.
Rasanya sangat betah dan tidak bosan untuk melihatnya. Mereka berjalan berdua bergandengan tangan di sepanjang perjalanan. Terkadang Dewa melingkarkan tangannya pada pundak Ayuna sehingga mereka benar-benar saling berdekatan di seiring langkah mereka.
"Ay, apa perlu kita sehari lagi menginap di sini?" tanya Dewa dengan memandang wajah ayu milik Ayuna.
"Please deh Kak, kita kan bisa ke sini lagi pada saat weekend," jawab Ayuna sambil memukul ringan dada Dewa.
"Bilang aja kamu mau raba-raba dadaku Ay," ucap Dewa sambil terkekeh.
"Dih, mana ada?" tukas Ayuna yang kembali memukul dada Dewa berkali-kali.
Kok aku jadi ketagihan memegangnya ya? Husss... Ayuna, kamu apa-apaan sih? Kamu kan cewek, mana boleh pegang-pegang cowok kayak gitu, Ayuna berkata dalam hatinya dengan tangannya yang masih betah berada di dada Dewa.
Dewa memegang tangan Ayuna yang berada di dadanya..Dia ingin menghentikan pukulan Ayuna dengan cara menjahilinya.
"Ay, kalau kamu begini terus, mending kita nikah aja Ay. Aku rela kok kalau kamu nempel terus sama aku," tutur Dewa dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Sontak saja Ayuna menarik tangannya dari tangan Dewa. Dia baru sadar jika apa yang dilakukannya bisa disalah artikan oleh orang lain.
Ayuna salah tingkah. Dia segera melepaskan tangannya dari tangan Dewa dan segera berjalan terlebih dahulu menuju Villa mereka.
Ternyata pakaian mereka berdua sudah siap. Pekerja Dewa memang bisa diandalkan. Kini pakaian mereka berdua sudah rapi dan bersih diletakkan di atas ranjang mereka.
Ayuna segera berganti pakaian sebelum Dewa datang dan masuk ke dalam kamar mereka. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian Dewa masuk ke dalam kamarnya, dia juga menemukan pakaiannya di atas ranjang. Saat dia akan beranjak keluar kamar untuk berganti pakaian di kamar yang lain, keluarlah Ayuna dari dalam kamar mandi.
"Aku ganti di sini aja deh Ay," ucap Dewa sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Ayuna segera menyingkir dari depan kamar mandi agar Dewa bisa leluasa masuk dan tidak kembali menjahilinya.
Segera dia merapikan bajunya dan penampilannya di depan cermin yang ada dalam kamar tersebut.
"Untung aja di tas ini ada bedaknya, jadi bisa di pakai sekarang. Coba kalau gak ada, bisa polosan gitu kayak habis bangun tidur," gerutu Ayuna sambil memakai bedak itu secara tipis agar terkesan natural.
__ADS_1
"Gak usah pakai kayak gitu juga udah cantik Ay. Kamu itu cantik apa adanya. Aku lebih suka kamu yang natural dari pada menggunakan make up yang berlebih," sahut Dewa yang baru keluar dari kamar mandi.
Ayuna kaget ketika dia sedang mengaplikasikan bedaknya pada wajahnya, tiba-tiba dia berhenti ketika mendengar suara Dewa yang menanggapi ucapannya ketika memakai bedaknya.
"Kak Dewa apa-apaan sih, bikin kaget aja," ucap Ayuna sambil menutup bedaknya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
Dewa terkekeh dan berdiri di belakang Ayuna yang sedang duduk di depan cermin hias. Dewa merapikan pakaiannya. Sedangkan Ayuna yang sedang menyisir rambutnya sedikit mencuri pandang pada Dewa melalui pantulan kaca.
Dewa tahu jika Ayuna sedang mencuri pandang padanya melalui cermin di hadapan mereka. Hanya saja dia tidak mau menegurnya, dia takut Ayuna kembali kesal karena malu ketahuan mencuri pandang padanya.
"Ay, kita sarapan di cafe yuk," ucap Dewa sambil memegang kedua pundak Ayuna dan menatapnya melalui cermin.
"Emangnya udah ada yang masakin?" tanya Ayuna heran sambil menatap Dewa melalui cermin yang ada di hadapannya.
"Kita kan bisa masak sendiri. Kamu bisa masak buat aku nanti di sana," jawab Dewa sambil terkekeh.
Ayuna membelalakkan matanya, tentu saja dia kaget mendengar Dewa menyuruhnya untuk memasakkan makanan untuk mereka sarapan sekarang ini.
"Kakak bercanda kan?" tanya Ayuna dengan menatapnya seolah dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Enggak kok. Siapa yang bercanda?" tanya Dewa dengan senyum manisnya pada Ayuna melalui cermin.
"Iya. Kenapa Ay?" tanya Dewa yang tiba-tiba bingung melihat Ayuna yang bertanya padanya seperti itu.
Ayuna beranjak dari duduknya. Dia berbalik menghadap Dewa. Kemudian dia berkata,
"Aku gak bisa masak, Kakak pasti tau itu kan?"
Dewa memandang Ayuna lalu menganggukkan kepalanya. Tangannya kembali memegang kedua pundak Ayuna.
"Aku tau. Jangan khawatirkan itu, kita akan masak berdua nanti," jawab Dewa sambil mencubit hidung Ayuna dengan gemas.
Kemudian dia merangkul pundak Ayuna untuk berjalan keluar kamar mereka. Ayuna berjalan dengan melihat sekitar villa tersebut. Dia tidak menyangka jika dirinya bisa menginap bersama lelaki yang merupakan dosennya dan berstatus tunangannya.
Cafe masih sepi karena masih sangat pagi dan memang jam kerja mereka masih beberapa jam lagi.
__ADS_1
Hening, sepi, hawa yang sejuk disertai udara yang dingin membuat semua pepohonan yang ada di sekitar cafe tersebut tampak segar.
Hanya berdua saja mereka saat ini. Di dalam dapur cafe tersebut mereka berdua mencari bahan masakan yang akan mereka gunakan untuk membuat sarapan mereka berdua.
"Ay, yang itu tolong dipotong ya," ucap Dewa sambil menunjuk sayuran yang ada di dalam keranjang bahan.
"Kak, aku gak bisa buat bentuk yang bagus," jawab Ayuna yang masih tidak beranjak dari tempatnya saat ini.
Dewa terkekeh mendengar jawaban dari Ayuna. Kemudian dia berkata,
"Ngapain dibentuk Ay? Gak perlu pakai dibentuk-bentuk, biasa aja," tukas Dewa sambil menyiapkan bahan lainnya.
"Kak, kayaknya aku belum siap nikah deh. Lihat aja nih, aku masak aja gak bisa," ucap Ayuna sambil memegang-megang sayuran yang disuruh Dewa untuk memotongnya.
Dewa menghentikan kegiatannya, dia memandang Ayuna dengan wajah seriusnya.
"Apa hubungannya nikah sama masak Ay?" tanya Dewa sambil memandang wajah Ayuna.
"Kan kalau jadi istri harus bisa masak," jawab Ayuna dengan memperlihatkan wajah polosnya.
"Aku menikahi kamu karena ingin menjadikanmu sebagai istriku, bukan menjadi pembantuku," tutur Dewa sambil berjalan mendekati Ayuna.
Rona malu pada wajah Ayuna terlihat jelas oleh Dewa. Dia tersenyum dan memeluk Ayuna sambil berkata,
"Lihat saja di sini, bagaimana kerennya calon suami kamu ini memasak untuk calon istrinya."
"Oh ya? Coba buktikan, aku ingin melihatnya," ucap Ayuna menyembunyikan rasa malunya.
Dewa segera melepaskan pelukannya dan dia mengambil semua bahan yang sudah dia siapkan untuk segera diolah menjadi masakan.
Dengan semangatnya Dewa memasak untuk calon istrinya itu. Dengan telaten dan cekatannya dia seolah chef handal yang sedang mengolah makanan.
"Masakan spesial untuk orang yang spesial," ucap Dewa dengan menghidangkan makanan yang dia masak di depan Ayuna.
"Telurnya mana?" tanya Ayuna dengan menggerak-gerakkan kelopak matanya.
__ADS_1
"Telur?" tanya Dewa dengan menampakkan wajah bingungnya.
"Katanya spesial, kan biasanya yang spesial pakai telur," ucap Ayuna dengan senyum lebarnya menampakkan deretan giginya.