Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 27 Perjuangan Dewa


__ADS_3

Sesuap demi sesuap nasi goreng dengan telur ceplok itu sudah habis oleh Ayuna dan Dewa. Tentunya Dewa disuapi oleh Ayuna karena dia sedang mengemudikan mobilnya.


Dewa sangat senang karena pagi ini harinya diawali dengan sangat manis. Dan dia berharap nanti siang pun akan berbuah manis.


Rencananya nanti siang Dewa.akan memberikan kejutan bagi Ayuna di kampusnya. Dia sudah merencanakannya secara matang dan tentu saja dia sudah membicarakannya dengan Pak Andika dan Bu Andini.


Sebagai orang tua Ayuna mereka sangat setuju dan bahagia mendengar rencana yang dipaparkan Dewa pada mereka. Dan mereka juga berharap dan memberikan doanya agar rencana Dewa itu berhasil.


Sesampainya di parkiran kampus, seperti biasanya Dewa cekatan keluar dari mobilnya terlebih dahulu agar bisa membukakan pintu mobil untuk Ayuna.


Ayuna kaget karena Dewa sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Kak, ini box nya taruh sini aja ya," ucap Ayuna sambil mengangkat box bekal mereka tadi.


"Taruh aja di situ. Masa' iya box kosong kamu bawa di tas," tukas Dewa sambil terkekeh.


Ayuna menatapnya kesal, karena setiap apa yang dikatakan oleh Dewa selalu bisa membuatnya kesal. Tentu saja bibirnya maju ke depan setiap kali dia kesal terhadap sesuatu.


"Bibirnya ini loh... gemesin deh," ucap Dewa sambil terkekeh seraya menjapit bibir Ayuna dengan tangannya.


Kini mereka lupa jika sedang berada di parkiran kampus. Banyak pasang mata menyaksikan tingkah akrab dan menyenangkan mereka itu.


Hal itu membuat banyak mahasiswa yang menaruh hati pada Dewa menjadi iri dan membenci Ayuna.


Ayuna berusaha melepaskan tangan Dewa dari bibirnya dan Dewa tidak begitu saja melepaskannya, bahkan dia menikmati kedekatannya dengan Ayuna kali ini. Dia sangat menikmati kejahilannya dan menikmati kekesalan Ayuna padanya.


Hingga Felix, Gavin dan Viktor datang untuk menyapa mereka.


"Pagi Yuna, Pak Dewa," sapa Gavin diikuti oleh Felix dan Viktor.


Dengan terpaksa Dewa menghentikan kejahilannya pada Ayuna. Dewa melepaskan tangannya dari bibir Ayuna.


"Ehemm... pagi," Dewa membalas sapaan mereka bertiga.

__ADS_1


"Saya duluan Ay," ucap Dewa sambil mengacak kepala Ayuna sehingga rambutnya berantakan.


"Aiisss... kebiasaan ya. Awas aja nanti!" seru Ayuna sambil membenarkan rambutnya.


Mendengar hal itu, Dewa tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ayuna tanpa menoleh padanya.


Felix, Gavin dan Viktor hanya bisa melongo melihat Ayuna dan Dewa, yang menjadi dosen mereka sangat dekat seperti itu.


"Yuk ke kelas," ucap Felix sambil menarik tangan Ayuna dan merangkul sahabat-sahabatnya.


Setelah kelas selesai, ada seseorang yang memanggil Ayuna dengan dalih dipanggil oleh senior-senior mereka.


Ayuna, tentu saja dia sangat enggan berurusan dengan mereka semua. Tapi apa daya, dia hanya seorang junior yang jika tidak menuruti mereka pasti bisa dipastikan akan menderita hingga lulus dari tempat itu.


Dengan terpaksa Ayuna mengikuti si pemanggil menuju ke tengah lapangan tanpa sahabat-sahabatnya. Felix, Gavin dan Viktor hendak ikut, namun dilarang oleh si pemanggil tersebut. Dan Devan, dia masih berbaring si rumah sakit untuk saat ini.


Mau ngapain nih? Apa aku bakalan dikeroyok mereka semua ya di sini, di tengah lapangan cuy. Kampret dah, mana Felix, Gavin dan Viktor gak ikut lagi. Kenapa mereka bertiga jadi menurut banget sama si tukang panggil ini ya?


Ayuna bertanya-tanya dalam hatinya seiring langkahnya menuju ke tengah lapangan yang sudah ada beberapa mahasiswi berjejer di sana.


Bisa dikatakan bahwa Ayuna target sasaran kekesalan mereka karena kedekatannya pada Dewa, Felix, Gavin, Viktor dan Devan.


Semakin mendekati mereka, Ayuna semakin mengkerut. Keberaniannya selama ini tiba-tiba menghilang entah ke mana. Mungkin menguap terkena panasnya sinar matahari yang menyilaukan mereka di tengah lapangan ini.


Tiba-tiba saja mereka semua bergerak ketika Ayuna sudah berada di depan mereka. Dan keluarlah Dewa dari belakang badan para mahasiswi tadi.


Dewa berjalan mendekati Ayuna dan tersenyum manis padanya. Kemudian Dewa berlutut di hadapannya dengan memberikan bunga yang sedari tadi dia bawa serta box kecil yang sudah dibuka memperlihatkan cincin indah berkilau.


Ayuna kaget, dia terkesima dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Dewa yang tadi berangkat dengannya sangat beda penampilannya dengan Dewa yang berlutut dihadapannya saat ini.


Sungguh sangat memukau penampilan Dewa dan apa yang dibawanya. Semua itu membuat yang lain menjadi sangat iri.


Ayuna? Tentu saja dia sangat terpukau hingga dia mengira itu semua hanya mimpi.

__ADS_1


Bangun Ayuna, bangun... kamu sudah banyak tidur tadi, sekarang kamu harus hadapi kenyataan yang tak semanis mimpimu, Ayuna berkata dalam hatinya.


Para mahasiswi yang ada disekitar mereka berdua itu membentuk sebuah barisan di depan Ayuna dengan membawa kertas besar yang bertuliskan satu-satu huruf hingga dirangkai menjadi tulisan ' will you marry me?'


Mata Ayuna semakin terbelalak sempurna. Jantungnya kini memberontak, berdegup sangat kencang sehingga membuat Ayuna semakin gugup.


Ayo bangun Ayuna... jangan keenakan mimpi, kalau jatuh sakit tau..., Ayuna kembali berkata dalam hatinya.


"Ay, will you marry me?" tanya Dewa yang masih berlutut dengan membawa bunga dan cincin di hadapan Ayuna.


Ayuna mendengar suara Dewa dan sorakan semuanya yang mengatakan bahwa Ayuna harus meneriman lamaran dari Dewa.


Seketika Ayuna mengusap-usap matanya agar dia bisa tersadar dari mimpinya.


"Loh kok masih ada dia sih? Apa ini nyata? Apa ini bukan mimpi?" gumam Ayuna sambil mengusap-usap matanya.


Dewa tersenyum melihat tingkah Ayuna, gadis yang sedang dia lamar saat ini.


"Ay, buruan dong diterima. Pegal nih," ucap Dewa disela teriakan mahasiswinya.


Dengan cepatnya Ayuna menerima bunga yang diberikan oleh Dewa padanya. Kemudian Dewa menyematkan cincin di jari Ayuna dan mencium cincin yang sudah dipakai dijari Ayuna itu.


"Will you marry me?" tanya Dewa kembali.


Seperti terhipnotis oleh senyuman Dewa dan perlakuan Dewa, Ayuna mengangguk sebagai jawabannya.


Seketika sorak sorai terdengar di seluruh lapangan tersebut. Felix, Gavin dan Viktor benar-benar terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa melihat Dewa begitu romantisnya melamar sahabat mereka yang bar-bar dan manja itu.


Kecewa, tentu saja mereka para mahasiswi yang ngefans dengan Dewa merasa sangat kecewa. Hanya saja mereka tidak bisa melarang keinginan Dewa, mereka tidak bisa menghentikan Dewa melamar Ayuna.


Namun, mereka senang karena Felix, Gavin, Viktor dan Devan terbebas dari Ayuna. Mereka merasa jika kini bisa dengan bebasnya mendekati sahabat-sahabat Ayuna.


Melihat anggukan kepala sebagai jawaban dari Ayuna, Dewa sangat bahagia. Dengan cepatnya dia berdiri dan merangkul tubuh Ayuna hingga membuat semuanya menjadi iri melihatnya.

__ADS_1


"Terima kasih Ay. Terima kasih telah menerima lamaranku."


"Hah?! Lamaran?"


__ADS_2