Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 67 Penantian


__ADS_3

Beberapa hari dihabiskan oleh Dewa dan Ayuna berada di sana. Mereka membebaskan diri mereka dari penatnya keseharian mereka. Berusaha menyenangkan diri mereka dan menghempaskan semua hal yang membuat mereka menjadi stres dan tertekan.


"Apa liburan kita perlu diperpanjang Sayang?" tanya Dewa pada Ayuna yang sedang menyandarkan kepalanya pada pundak Dewa.


Ayuna mendongak melihat wajah suaminya. Kemudian dia berkata,


"Kerjaan kamu gimana?" tanya Ayuna tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Dewa padanya.


"Kenapa kamu jadi mengkhawatirkan pekerjaanku Ay? Kita udah sepakat untuk melupakan hal-hal seperti itu ketika kita berada di sini," ucap Dewa dengan lembut dan mengusap punggung istrinya itu.


Ayuna tersenyum dan mengangguk. Dia melingkarkan tangannya pada perut Dewa dan mengeratkan pelukannya agar terasa lebih nyaman.


Sebenarnya selama mereka liburan di sana, Ayuna tidak sama sekali mengenyahkan pikirannya tentang memiliki keturunan. Dia hanya berpura-pura tidak memikirkan semuanya. Tapi kebahagiaannya tetaplah nyata, Dewa mampu membuat Ayuna merasa sangat bahagia dan dicintai selama mereka berada di sana.


"Jadi, kita akan tetap berada di sini atau ke tempat lainnya Sayang?" tanya Dewa pada Ayuna dengan berbalas memeluknya.


"Terserah kamu aja Sayang. Aku ikut aja ke mana pun kamu pergi," jawab Ayuna sambil memberikan senyumnya pada suaminya.


Dewa membalas senyum Ayuna dan mereka saling mengeratkan pelukannya menikmati indahnya pantai yang berada di dekat Villa yang mereka tempati.


Banyak hal yang Dewa pikirkan saat ini. Dia benar-benar enggan kembali ke rumah mereka. Rasanya sangat damai berada di tempat yang sekarang mereka tempati.


Dewa tidak tahu harus bagaimana lagi jika mamanya datang dan kembali menekan Ayuna tentang masalah keturunan. Dia hanya bisa berusaha dan berdoa agar apa yang mereka lakukan saat ini akan menjadi sesuai harapan mereka.

__ADS_1


Ternyata Dewa dan Ayuna menetapkan mereka akan memperpanjang berada di tempat tersebut selama beberapa hari. Tentu saja usaha mereka untuk mendapatkan keturunan dan usaha Dewa untuk membahagiakan istrinya berjalan dengan baik. Kini mereka hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Hasil dari usaha dan doa mereka.


Kini mereka berdua kembali pada realita kehidupan sehari-hari mereka. Masa honeymoon dadakan mereka sudah usai. Liburan itu sangat diharapkan membuahkan hasil oleh banyak orang.


Hampir dua bulan sudah mereka kembali ke rumah. Hari-hari mereka kini sudah kembali seperti semula. Ayuna hanya menjadi ibu rumah tangga biasa saja, dia memang tidak diperbolehkan Dewa untuk bekerja. Selain dia tidak mau Ayuna berdekatan dengan laki-laki lain, dia juga tidak mau Ayuna merasakan capek. Biarlah dia sebagai seorang suami yang bekerja membanting tulang agar istrinya bisa santai di rumah menunggunya hingga pulang ke rumah.


Bu Andini, mama Ayuna sangat prihatin pada putrinya itu. Dia memang ingin sekali memiliki cucu, tapi jika Tuhan masih belum memberikannya pada mereka, maka tidak akan ada yang bisa mereka lakukan. Dan dia pun tidak berani banyak bertanya pada Dewa dan Ayuna, karena dia tahu jika mereka pasti akan sangat terluka jika ada yang menanyakan tentang hal itu.


Bu Andini yakin jika Dewa dan Ayuna sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan Ayuna memaksa Dewa agar mau mengikuti program kehamilan di suatu rumah sakit terbaik di kota itu.


Namun, semuanya hanya usaha mereka, tetaplah Tuhan yang berkehendak dan menentukan kapan mereka akan mendapatkan keturunan.


"Ma, Yuna mau ke mini market di depan ya. Cuma sebentar aja kok," pamit Ayuna pada Bu Andini yang sedang membuatkan bumbu rujak sesuai dengan keinginan Ayuna.


"Mau beli apa sih? Ini bahannya udah ada semua kok," ucap Bu Andini sambil menunjuk semua bahan yang ada di hadapannya.


Tamu bulanannya itu salah satu hal yang membuat Ayuna menjadi sedih. Dia sangat berharap jika dia tidak mendapatkan tamu bulanan itu sehingga tumbuh benih bayi pada rahimnya.


"Bulan kemarin kamu mens?" tanya Bu Andini menyelidik.


"Sepertinya periodenya tidak sesuai Ma. Ini saja tidak sesuai dengan periode menstruasinya Yuna. Udah dulu ya Ma, Yuna mau ke mini market dulu," jawab Yuna yang kemudian pergi meninggalkan Bu Andini yang masih ingin bertanya padanya.


Ayuna berjalan menuju mini market ya g ada di sekitar kompleknya. Sambil berjalan, dia berbalas pesan dengan suaminya.

__ADS_1


Hati-hati ya Sayang... dan cepatlah pulang.


Balasan dari Dewa itu membuat Ayuna sangat senang dan sangat dicintai ketika dia berpamitan padanya untuk pergi ke mini market.


Dewa sangat posesif, Ayuna tahu itu. Hanya saja itu bukan merupakan beban untuk Ayuna, karena dia merasa jika dia sangat dicintai oleh suaminya.


Ketika masuk ke dalam mini market dan berjalan pada lorong pembalut, tiba-tiba Ayuna tersenyum. Dia ingat akan kenangannya bersama dengan Dewa.


Awal bertemunya mereka berdua di mini market tersebut dan di lorong itulah Ayuna membeli barang yang membuat dirinya harus rela membayarkan belanjaan Dewa agar Dewa cepat pergi dari kasir pada saat itu.


Ayuna kembali mengirim pesan pada Dewa mengatakan apa yang diingatnya. Dia juga bertanya pada Dewa barang apa saja yang diperlukan oleh suaminya itu karena dia berniat untuk sekalian berbelanja.


Ayuna melirik barang belanjaannya yang ternyata ada beberapa kantong plastik. Dia menghela nafasnya karena dia lupa jika dia berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya.


Yuna... Yuna... pakai sok-sokan belanja banyak. Ya gini ini nih kalau belanja biasanya diantar sama suami, jadi lupa kalau lagi belanja sendirian. Sekarang gimana aku bisa membawa semua ini pulang? Kan gak lucu banget kalau harus pakai ojek online cuma dari sini ke rumah aja. Mana banyak banget lagi kantongnya. Semuanya berat-berat. Hanya ini saja yang ringan, Ayuna berkata dalam hatinya sambil menjinjing kantong plastik yang ringan berisikan beberapa snack favoritnya.


Beberapa saat dia berpikir dan dia menemukan ide.


"Ah iya, telepon Kak Dewa aja, pasti dia langsung ke sini. Dia kan bucinnya Ayuna. Eh tapi kasihan juga sih, kan Kak Dewa sedang kerja," ucap Ayuna lirih sambil merogoh ponselnya yang ada dalam sling bag nya.


"Ahaaa... kenapa gak telepon Mama aja. Hehehe... pinter kamu Yuna," ucap Ayuna sambil terkekeh memuji dirinya sendiri.


Di dalam mini market tersebut, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Ayuna. Sepertinya dia masih ragu jika yang diperhatikan itu adalah Ayuna.

__ADS_1


Gerak gerik Ayuna tidak lepas dari perhatiannya. Hingga dia melupakan belanjaannya dan berjalan menghampiri Ayuna yang masih berdiri dengan beberapa kantong plastik belanjaannya tergeletak di lantai yang ada di dekatnya.


"Ayuna?! Kamu Ayuna kan?"


__ADS_2