
Grep!
Tangan Dewa menarik tangan Ayuna ketika Ayuna akan beranjak dari ranjang tersebut.
Bruk!
Badan Ayuna terjatuh dengan posisi tidur tepat di dekat Dewa.
Dengan segera tangan Dewa memeluk tubuh Ayuna yang ada di sampingnya. Ayuna mencoba menggerakkan badannya, tapi percuma saja, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Dewa.
"Tidurlah di sini, karena aku tau kamu gak akan berani tidur di tempat lain," ucap Dewa sambil memeluk tubuh Ayuna.
"Tapi...," Ayuna ragu melanjutkan ucapannya.
"Aku gak akan melakukan hal di luar batas sebelum kita menikah," ujar Dewa yang menggerakkan badannya agar lebih nyaman memeluk Ayuna.
"Terus ini...," ucap Ayuna sambil memegang tangan Dewa untuk menyingkirkannya dari pinggangnya.
"Cuma sebatas ini saja sayang... Gapapa kan?" ucap Dewa yang kini lebih mempererat pelukannya pada tubuh Ayuna.
"Percuma aja kan jika aku mengatakan enggak?!" tukas Ayuna dengan menghela nafasnya.
"Good girl," ucap Dewa sambil terkekeh.
Ayuna pun menyerah. Dia sudah tidak bisa lepas dari cengkeraman Dewa. Kini dia harus pasrah menjadi tawanan Dewa malam ini.
Dalam satu kamar dan satu ranjang mereka kini berdua tidur dengan nyenyaknya. Dewa menepati janjinya, dia tidak melakukan hal yang lain pada tunangannya itu selain hanya tidur bersama dengan memeluknya.
Dewa sangat menjaganya, dia tidak mau merusak Ayuna sebelum mereka menjadi suami istri.
Dia mati-matian menahan keinginannya untuk berbuat lebih pada tunangannya itu. Sayangnya, dia selalu mengingat semua prinsipnya yang menginginkan dia dan istrinya harus sama-sama menjadi yang pertama ketika melakukan hubungan suami istri.
Ayuna tertidur lelap di pelukan Dewa. Dia merasa sangat nyaman hingga tidak merasakan jika dirinya sedang tidur bersama dengan Dewa.
Ayuna bergerak-gerak mencari kenyamanan dalam pelukan Dewa. Dia mengira jika sedang tidur di kamarnya sendiri.
__ADS_1
Dewa resah ketika Ayuna bergerak-gerak dalam tidurnya. Dia menahan mati-matian gelenyar aneh yang dia rasakan sekarang ini.
Ay, please... jangan gerak-gerak. Bisa-bisa aku gak kuat, rintih Dewa dalam hatinya.
Ayuna, sang gadis yang membuat resah hati, pikiran dan badan Dewa ini malah dengan santainya memeluk Dewa dan mengeratkan tubuh mereka hingga tidak berjarak.
Dewa tidak bisa tidur. Dia merasakan sesuatu yang harus dia tahan mati-matian agar tidak berbuat di luar batas sebelum mereka berdua menikah.
Dia jadi teringat candaan dari Bu Andini, Mama dari Ayuna. Ketika dia menghubungi beliau untuk mengatakan bahwa mereka sekarang ini sedang berada di Villa nya dan tidak bisa pulang karena cuaca yang sangat ekstrim, beliau mengatakan agar mereka tidak usah merisaukan apapun dan pulang setelah keadaan benar-benar aman. Tapi, sebelum mereka mengakhiri telepon itu, Bu Andini berkata dengan tawanya bahwa dia segera menginginkan cucu dari Dewa dan Ayuna.
Dewa mengerti itu hanya candaan dari Bu Andini, karena calon ibu mertuanya itu sangat suka sekali bercanda. Hanya saja Dewa bukan laki-laki yang egois. Dia akan membuktikan pada Ayuna dan kedua orang tuanya bahwa dia adalah laki-laki sejati yang bertanggung jawab dan selalu memegang janjinya.
Kaki Ayuna berada di atas pinggang Dewa dan dia memeluk badan Dewa dengan erat. Ternyata Ayuna mengira bahwa Dewa adalah gulingnya.
Setelah beberapa saat Dewa menahan rasanya, dia tertidur sebentar. Sayangnya itu hanya bertahan sebentar. Kini Ayuna kembali bergerak seolah dia gelisah dalam tidurnya.
Sedangkan Dewa benar-benar menahan rasa ingin menyentuh tunangannya yang benar-benar membuatnya mati-matian tersiksa itu.
Ayuna bergerak mencari kenyamanan dalam pelukan Dewa. Dia berakhir dengan memeluk erat Dewa dengan tangannya yang melingkar erat di pinggang Dewa serta kepalanya yang berada pada dada Dewa.
Hufffttt...
Setelah beberapa menit kemudian Ayuna kembali bergerak-gerak hingga membuat Dewa terkejut karena miliknya yang terkena oleh bagian tubuh Ayuna.
"Ay, diam ya... jangan gerak-gerak," tutur Dewa dengan suara tertahan.
Ayuna malah menggerutu dalam tidurnya dan tangannya tidak mau disingkirkan dari badan Dewa. Dengan santainya Ayuna lebih mengeratkan pelukannya dan menempelkan tubuhnya hingga asetnya yang tidak terlindungi oleh ********** itu menempel pada tubuh Dewa.
Meskipun hanya berbataskan kaos yang mereka pakai, tetap saja Dewa bisa merasakan gundukan milik Ayuna yang seperti squishy itu.
"Ssshhh...," Dewa mendesis menahan apa yang dirasakannya saat ini.
"Ay... jangan gerak-gerak. Nanti milikku memberontak," bisik Dewa di telinga Ayuna.
Betapa nyenyaknya Ayuna dalam pelukan Dewa hingga dia tidak tergugah sekalipun Dewa berbisik di telinganya.
__ADS_1
Tenang Dewa, tenang... Kamu pria sejati, kamu tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat kecewa semua orang, Dewa berkata dalam hatinya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Hingga akhirnya Ayuna sudah menemukan tempat ternyamannya dan tidak bergerak-gerak kembali.
Dewa berucap syukur dalam hatinya, dia sungguh tidak mengira jika akan berada dalam kesusahan karena kejahilannya sendiri.
Akhirnya Dewa bisa mengistirahatkan matanya, hatinya, pikirannya dan badannya. Dia tidak merasakan kembali gelenyar aneh yang membuatnya tersiksa.
"Euughhh...."
Lenguhan Ayuna yang disertai gerakan badannya membuat Dewa terbangun.
"Auuuhhh...," seru Dewa sambil membuka matanya.
"Apaan sih?" tanya Ayuna dengan suara malasnya dan masih memejamkan matanya.
"Ayyyy...," panggil Dewa dengan mendesis dan suaranya yang seolah menahan sesuatu.
Ayuna membuka matanya dan mengusap-usap matanya dengan tangannya. Matanya terbelalak melihat wajah Dewa yang sangat dekat dengan wajahnya, hanya berjarak beberapa senti saja.
"Ay, tolong jangan gerak-gerak ya," ucap Dewa dengan suara beratnya karena benar-benar dia menahan sesuatu.
"Kenapa gak boleh gerak?" tanya Ayuna dengan wajah polosnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Paha kamu mengenai milikku Ay. Dia sensitif Ay, dia sedang meronta menginginkan sesuatu," jawab Dewa dengan menatap Ayuna yang masih terlihat berpikir.
Ayuna menggerakkan pahanya dan Dewa kembali mengeram menahan mati-matian miliknya yang sedang ditindih oleh paha Ayuna.
Ayuna terkejut, dia baru tersadar jika dirinya menjadikan tubuh Dewa sebagai gulingnya. Seketika dia bangkit dari tidurnya.
"Ma-maaf Kak, aku... aku gak tau kalau Kakak ada di situ. Aku kira Kakak gulingnya aku," ucap Ayuna sambil tersenyum kaku.
"Iya, guling hidup kamu," ucap Dewa sambil terkekeh.
Ayuna mencebikkan bibirnya. Dia malu sekaligus salah tingkah di hadapan Dewa.
__ADS_1
Isss... bisa-bisanya aku melakukan hal itu. Kenapa aku bisa dengan nyamannya menjadikan dia jadi gulingku? Ayuna menggerutu dalam hatinya.
"Gapapa kok Ay, aku rela jadi guling kamu selamanya. Apalagi kalau kita sudah nikah. Pasti akan lebih seru," ucap Dewa sambil terkekeh.