Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 47 Dapur yang menjadi saksi


__ADS_3

Sarapan kali ini berbeda dari biasanya. Di tempat yang sunyi sepi dengan diiringi suara burung dan kokokan ayam serta hawa dingin dan sejuk yang menjadi satu membuat sarapan pagi ini sangat spesial. Apalagi ditemani oleh orang yang spesial.


Senang? Tentu saja mereka berdua sangat senang. Bohong jika Ayuna mengatakan bahwa dia tidak senang. Sangat terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar pada wajah Ayuna.


Dan Dewa, sangat jelas dia bahagia sekali. Tak henti-hentinya dia tersenyum pada Ayuna. Pandangan matanya tidak lepas dari wajah Ayuna. Serta tangannya, dia tidak begitu saja membiarkan Ayuna makan sendiri. Sering sekali dia menyuapkan makanan dari sendoknya pada Ayuna.


Tentu saja Ayuna menerima suapan dari Dewa meskipun sendok itu milik Dewa. Benar-benar seperti pasangan kekasih yang baru saja menikah. Semua orang yang melihatnya pasti akan berpikir seperti itu.


"Masakan Kak Dewa enak. Aku jadi minder," ucap Ayuna disela kunyahan makannya.


"Minder? Kenapa?" tanya Dewa dengan mengernyitkan dahinya.


"Aku kan gak bisa masak. Sedangkan masakan Kak Dewa enak banget. Aku aja sampai ketagihan," ucap Ayuna yang masih mengunyah makanannya.


"Gapapa. Kalau kamu mau, aku akan memasak untukmu sayang," tukas Dewa dengan tersenyum.


Dan itu berhasil membuat Ayuna merona malu mendengar panggilan sayang dari Dewa padanya.


"Kamu juga bisa belajar masak dari Mama kan? Supaya aku juga bisa merasakan masakan buatan istriku," ucap Dewa kembali membuat Ayuna merona mendengar kata istri keluar dari mulutnya.


Ayuna terdiam mendengar ucapan Dewa. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa.


Selama ini dia masa bodoh dengan urusan masak yang mencerminkan seorang wanita. Sama sekali dia tidak berpikir bahwa nantinya dia akan memasak untuk suaminya. Dan kini, ucapan Dewa itu membuatnya tersadar bahwa dirinya menganggap sepele urusan masak ketika Mama Andini menyuruhnya untuk membantunya memasak.


"Sayang, jangan marah. Aku hanya memberi saran saja. Jika kamu gak bisa masak pun aku gak keberatan kok," ucap Dewa sambil memegang tangan Ayuna yang berada di atas meja ketika melihat Ayuna hanya diam saja setelah dia menyuruhnya belajar masak bersama mama Andini.


Ayuna tersenyum, dia merasa bersyukur saat ini mendapatkan seorang Dewa yang terlihat sangat mencintainya.


Baru kali ini dia merasakan bersyukur mempunyai Dewa sebagai tunangannya. Entah apa yang dipikirkannya sebelum hari ini sehingga kekhawatiran dan cinta Dewa padanya sepertinya tidak nampak di matanya.


"Aku akan belajar masak sama Mama, tapi nanti, kalau kita sudah menikah," ucap Ayuna sambil tersenyum lebar.


"Kapan itu?" tanya Dewa yang terlihat senang mendengar ucapan Ayuna.


"Nantilah. Nikahnya aja masih lama," jawab Ayuna sambil terkekeh.

__ADS_1


Gawat, masih lama katanya. Aku harus bisa mempercepat pernikahan kami agar Ayuna tidak bisa membatalkannya, Dewa berkata dalam hatinya sambil tersenyum manis pada Ayuna.


Dewa sangat ingin sekali mempercepat pernikahan mereka bukan untuk keinginannya semata saja, dia khawatir jika sahabat-sahabat Ayuna bisa membuat Ayuna berubah pikiran tentang pernikahannya bersama dengan Ayuna. Apalagi Dewa mengetahui jika Devan menginginkan Ayuna sudah sejak lama. Dan itu tentu saja membuat Dewa menjadi resah.


"Kita pulang jam berapa Kak?" tanya Ayuna pada Dewa sehingga membuat lamunan Dewa menjadi buyar.


"Agak siangan dikit ya. Mumpung lagi di sini, aku sekalian mau mengecek keuangan dan keadaan cafe dan yang lainnya," jawab Dewa yang masih saja tidak melepaskan tangan Ayuna.


"Terus masalah kampus...," Ayuna ragu meneruskan perkataannya.


"Kamu tenang aja sayang, aku sudah memberitahu pihak kampus," ucap Dewa sambil tersenyum manis pada Ayuna.


"Kak Dewa bilang apa sama mereka? Kak Dewa gak bilang yang aneh-aneh kan?" tanya Ayuna yang sangat ingin tahu.


"Ada deh, kamu gak perlu tau," jawab Dewa sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Ayuna.


"Iiisssh Kakak, udah tua masih main rahasi-rahasiaan," ucap Ayuna dengan kesal.


Dia sangat ingin tahu apa yang dikatakan Dewa pada pihak kampus karena dia takut jika Dewa benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya sehingga membuatnya menjadi bahan gunjingan semua orang di kampus.


Melihat raut kekesalan pada wajah Ayuna, Dewa bergegas berdiri dari duduknya dan mengangkat piring-piring kotor bekas mereka makan tadi.


"Kamu tunggu di sini saja ya. Cuma sebentar kok. Aku akan mencuci semua ini," jawab Dewa sambil mengumpulkan piring dan gelas mereka.


"Tunggu Kak," Ayuna menghentikan Dewa dengan memegang tangannya yang akan mengangkat piring-piring kotor tersebut.


"Kenapa sayang?" tanya Dewa dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Aku ikut. Biar aku bantu mencuci piringnya," jawab Ayuna sambil berjalan ke samping Dewa.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Dewa dengan tersenyum jahil pada calon istrinya itu.


"Bisa dong. Gini-gini aku pintar memoles," jawab Ayuna menyombongkan dirinya.


"Memoles apa?" tanya Dewa yang kembali terlihat bingung.

__ADS_1


"Memoles pantat panci," jawab Ayuna sambil mempraktekan mencuci pantat panci dengan kedua tangannya.


Dewa tertawa melihat kekonyolan dari calon istrinya itu. Inilah yang membuat Dewa tertarik pada sosok Ayuna kala itu.


Seorang Ayuna yang membuat hari-harinya berwarna. Seorang Ayuna yang selalu bisa membuatnya tertawa. Seorang Ayuna yang juga bisa membuatnya merasakan rindu pada dirinya.


Sama seperti Ayuna, Dewa juga baru kali ini benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya. Dulu memang dia pernah berpacaran, sayangnya dia hanya sebagai pembuktian saja jika Dewa menyukai perempuan, bukan seorang gay karena tidak pernah mempunyai hubungan dengan lawan jenisnya.


Hanya sebatas itu saja hubungan Dewa dengan pacarnya. Dia selalu saja menolak jika pacarnya itu mengajaknya berlibur, bersenang-senang ataupun melakukan hal yang terlarang.


Ayuna mengikuti Dewa di belakangnya dengan membawa dua buah gelas belas minum mereka tadi. Sedangkan semua piring yang mereka gunakan tadi sudah dibawa oleh Dewa.


Suara gemericik air menemani kegiatan mencuci mereka. Sayangnya kejahilan Ayuna tiba-tina muncul ketika Dewa sedang mencuci piring-piring tersebut.


"Kak!" Ayuna yang berada di samping Dewa memanggilnya dengan lantang.


Dewa pun menoleh ke arah Ayuna berada. Dan.. tiba-tiba pipi Dewa terkena jari-jari telapak Ayuna yang penuh dengan busa sabun. Jadilah pipi Dewa yang sebelah penuh dengan busa sabun.


"Ay...," ucap Dewa yang kaget mendapati banyaknya busa sabun di pipinya.


Dengan segera Dewa meletakan piring yang dicucinya dan dia berusaha menangkap Ayuna.


Sayangnya calon istrinya itu bisa membaca gerakannya, sehingga Ayuna terlebih dahulu melarikan diri dari tempatnya.


Dewa pun berusaha mengejar Ayuna. Dia melupakan piring-piring kotornya itu demi bisa membalas kejahilan calon istrinya itu.


Grep!


Tubuh Ayuna tertangkap oleh Dewa. Diangkatnya tubuh calon istrinya itu menuju tempat cucian piring.


Diambilnya busa sabun sebanyak mungkin pada tangan Dewa. Ayuna memasang wajah sedih dengan puppy eyes nya dan menggelengkan kepalanya agar Dewa tidak melakukan pembalasan padanya.


"Gak mau?" tanya Dewa sambil meletakkan tangannya yang penuh busa di depan wajah Ayuna.


Ayuna menggelengkan kepalanya dan memohon melalui matanya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi...," Dewa tidak meneruskan ucapannya karena dia kini memilih hukuman lain untuk Ayuna.


Secepat kilat Dewa menyambar bibir mania milik Ayuna yang selalu membuatnya ingin mencicipinya. Dan kini, dapur itu menjadi saksi ciuman pagi mereka dengan gemericik suara air dari keran.


__ADS_2