Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 11


__ADS_3

>>author<<


Saat keluar dari market selesai berbelanja kebutuhan sehari-hari, Ocha dan mama Reni berpapasan dengan bu Arni ibunya Abi.


"Eh... ketemu jeng Arni, kebetulan sekali, abis belanja juga ya" ucap mama Reni sambil cipika cipiki. Ocha mencium tangan bu Arni sopan.


"Sendirian aja jeng kesininya?" tanya mama Reni.


"Ah enggaklah, mana berani saya jalan sendirian jeng, saya ditemani Abi" jawab bu Arni.


"Oh ya? Loh mana nak Abi nya jeng?" tanya mama Reni celingukan mencari sosok Abi.


"Itu orangnya!" tunjuk bu Arni saat melihat Abi keluar dari toko buku di dalam mall tersebut.


Abi berjalan dengan santai. Ia mengenakan kaos hitam dan celana jeans ketat berwarna hitam, postur tubuhnya yang tegap membuatnya semakin menawan. Ocha terkesima sejenak menatap Abi yang tengah berjalan ke arahnya.


"Ganteng juga ternyata si bapak guru" gumam Ocha dalam hati. Ocha tak menyangka kalau Abi bisa tampak muda dengan penampilannya saat ini. Dulu waktu Abi bertamu dengan keluarganya ke rumah Ocha, ia mengenakan pakaian formal, kemeja biru dan celana bahan warna navy. Karena saat itu Abi memang baru pulang dari sekolah dan belum sempat pulang ke rumah untuk mengganti bajunya.


"Tante.." sapa Abi sambil menyalami tangan mama Reni. Ia melirik sebentar ke arah Ocha lalu menyapa dengan senyuman. Ocha membalas dengan senyuman juga.


"Ah.. manisnya.." gumam Abi saat melihat ceruk lesung pipit milik Ocha saat tersenyum tadi. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya.


"Seandainya saja bibir itu... ah.. huss.. huss.. " Abi buru-buru mengusir pikiran mesum yang sempat hadir di otaknya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya membuang pikiran anehnya. Hanya pada sosok Ocha lah pikiran Abi bisa melanglang buana.


Ocha mengerutkan dahinya saat melihat Abi yang geleng-geleng kepala. "Dasar orang aneh!" gumam Ocha dalam hati.


"Eh jeng Reni tadi saya liat tas murah loh jeng, di toko Alphas lagi diskon besar-besaran loh jeng, kita kesana yuk!" Bu Arni dengan gerakan cepat menggandeng lalu menggiring mama Reni masuk ke toko tas yang dimaksud tadi. Sedangkan Ocha dan Abi mengekor dibelakang mereka.


"Eh itu yang merah marun bagus deh jeng, cobain jeng" ucap mama Reni pada bu Arni. Sudah hampir setengah jam mereka berkutat di tengah kerumunan tas-tas. Ocha sudah mulai jenuh.


"Hmmm emak-emak rempong, lama amat milih tasnya! Dilihat lagi, ditaro lagi, dilihat lagi terus aja gitu sampai maghrib!" dengus Ocha kesal melihat kelakuan mamanya. Dan akhirnya ia pun mendekati sang mama seraya berbisik "ma ayo dong! capek nih! Kaki Ocha udah mau copot!" ucap Ocha sambil memegang betisnya.


"Aduh Ocha... mama lagi asyik milih-milih nih! Kamu duduk manis aja dulu di sofa sana yah, tuh ada Abi di sana.." ucap mama Reni sambil menunjuk ke arah Abi yang lagi asyik memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Maa... ayo pulang, cepetan dong milihnya!" rengek Ocha semakin gencar.


"Ocha sayang, mama ga enak sama bu Arni, masa kita ninggalin bu Arni sendirian" ucap mama sedikit berbisik pada Ocha.


"Kan ada anaknya, biarin ajalah kita pulang duluan, ayo maaa..." rengek Ocha.


"Jeng Arni saya pulang duluan ya, ini Ocha ngambek katanya bete, maklumlah anak muda jaman sekarang males banget kalau nemenin emaknya shoping" ucap mama Reni pada bu Arni sambil matanya meledek ke arah Ocha. Ocha mendelik ke arah mamanya, kesal.


"Yaah padahal kita jarang banget bisa shoping bareng ya jeng, Ocha sayang kenapa bete? Ocha mau tas yang mana, sini pilih, tunjuk mau yang mana?" bu Arni dengan cepat menarik tangan Ocha agar Ocha mau memilih tas untuknya.


"Gak tante, makasih, tas Ocha masih bagus kok" jawab Ocha dengan buru-buru menolak halus tawaran bu Arni.


"Gak apa-apa sayang, pilih aja, Ocha suka yang mana?" ucap bu Arni memaksa.


"Ya ampun si tante, gigih banget nawarin tas, padahal yang aku mau cuma pulang, capek!" gumam Ocha dalam hati.


Belum juga Ocha menjawab tawaran bu Arni, tiba-tiba Abi mendekati ibunya.


"Bu, masih lama gak belanjanya? Abi mau main ke tempat Bagas nih" ucap Abi.


"Ya tante ga apa-apa kok, nanti Abi anterin Ocha pulang" jawab Abi kemudian pamit pada ibunya.


Setelah mereka berjalan agak jauh dari toko tas, mama Reni dan bu Arni ber-tos ria.


"Akhirnya berhasil juga rencana kita ya jeng" ucap bu Arni.


"Iya jeng, saya suka sedih kalo liat Ocha murung. Semoga nak Abi bisa mengisi kekosongan hati Ocha ya jeng" ucap mama Reni lirih.


"Aamiin..semoga aja ya jeng.. eh gimana mau lanjut belanja lagi gak nih?" tanya bu Arni.


"Kita cari makan aja dulu ya jeng, lapar nih, dari tadi sandiwara pilih-pilih tas, pegel juga nih betis saya hehee.." ucap mama Reni sambil memegang betisnya.


"Oke deh kalo begitu, yuk jeng kita cari resto di sekitar sini"

__ADS_1


.


.


.


Dengan berat hati Ocha menyetujui perintah mamanya. Ia kini sudah berada di parkiran motor bersama Abi. Abi mengenakan jaket jeans nya yang tadi ia taruh di stang setir motornya. Kemudian ia menyerahkan helm pada Ocha.


Ocha menerima helm itu lalu memakainya, tapi saat mau mengunci ternyata talinya macet, sulit untuk dikunci.


Abi yang sudah naik ke motornya, melihat kesusahan Ocha dari spion motornya. Kemudian ia turun dan mendekati Ocha.


"Maaf, sini biar aku pakaikan" ucap Abi sambil kemudian mengambil alih tali helm yg Ocha pegang. Tanpa disadari tangan mereka bersentuhan. Ocha langsung menarik tangannya ke belakang.


"Maaf.. gak sengaja, helm ini memang suka macet, karena jarang dipakai" ucap Abi saat melihat Ocha menarik tangannya ke belakang punggungnya.


Kembali ada desiran hangat menelusup ke hati Abi, saat ini ia berdiri dekat sekali dengan wajah putih Ocha, mungkin jarak mereka hanya beberapa senti saja sehingga hembusan nafas Ocha terasa jelas di tangan Abi.


Memasangkan helm sedekat ini membuat hatinya berdebar, apalagi aroma tubuh Ocha yang menguar, tercium oleh indera penciumannya membuat detakan jantungnya semakin kencang.


"Aduh nih jantung!! Semoga dia gak denger detak jantungku!" gumam Abi dalam hati.


Sedangkan dalam hati Ocha terbesit rasa penasaran, akhirnya ia memberanikan diri menatap wajah Abi. Menelisik tiap inci dari wajahnya.


"Rambutnya hitam, hidungnya mancung, alis tebal nan rapi, kulitnya putih, matanya agak sipit kaya artis korea, dan bibirnyaa.." gumam Ocha


"Udah selesai! Yuk berangkat!" suara Abi memecah tatapan Ocha disaat ia sedang mendeskripsikan bibir Abi. Ocha terkesiap malu. Pipinya bersemu merah karena sempat berpikiran mesum saat melihat bibir Abi.


"Kenapa? Mukamu memerah, kamu sakit?" ucap Abi karena melihat rona merah di wajah Ocha.


"Kita cari makan dulu ya sebelum pulang, kamu belum makan siang kan?" ucap Abi


"Terserah bapak aja eh mas" ucap Ocha tergagap.

__ADS_1


"Hmm.. bapak lagi deh manggilnya" gumam Abi dalam hati.


Abi tersenyum, lalu menaiki motor ninjanya, disusul Ocha di belakangnya.


__ADS_2