
>>author<<
"Kak Reza, boleh aku minta tanda tangan kakak?" tanya salah seorang gadis di hadapannya.
Belum Abi membuka mulutnya untuk menolak permintaan gadis-gadis, Bagas sudah mengambil alih memotong pembicaraan.
"Hei gadis-gadis! Sesi meminta tanda tangan masih dua puluh menit lagi ya, silakan kalian mempergunakan waktu kalian saat ini untuk break. Ayo bubar sana!" usir Bagas.
Gadis-gadis pun berlalu dengan kecewa karena tidak mendapat tanda tangan Abi.
"Thank's bro!" ucap Abi.
"Ga usah sungkan. Gue tau lu gak suka dikerumuni begitu. Santai aja bro, kita 'kan sohib. Wajah kita aja kembar, ya 'kan?!" ucap Bagas sambil menempelkan wajahnya pada wajah Abi.
"Bangke lu!" umpat Abi.
Diantara teman-temannya yang lain hanya Bagas yang paling dekat dengan Abi. Selain karena satu jurusan tekhnik informatika juga karena salah satu yang masih waras urusan pergaulan.
Sedangkan Gilang dan Nugi di jurusan yang sama yaitu pendidikan matematika. Lucu sekali ya? Seorang mahasiswa pendidik tetapi kelakuan mereka tidak mencerminkan identitas keguruannya.
"Oh ya bro, gue denger lu ambil akta empat ya?" tanya Bagas.
"Iya, semester ini gue mulai fokus" ucap Abi matanya menerawang.
"Jadi guru dong lu kayak Nugi dan Gilang. Tinggal gue doang yang asli anak komputer" celotehnya. Abi diam tak merespon.
Pikirannya terngiang pada keinginan ayahnya agar ia mengambil Akta empat.
"Kamu harus jadi guru seperti ayah, biar ada yang meneruskan perjuangan ayah. Kamu satu-satunya anak ayah tidak ada lagi"
"Haahh .... " Abi menghela nafas panjang.
"Bro gue cabut dulu!" ucap Abi lantas berdiri hendak meninggalkan Bagas.
"Eits! Mau kemana lu?! Sesi tanda tangan bentar lagi mau mulai tuh!" ujar Bagas sambil mencekal lengan Abi.
"Gue ada perlu!" ucap Abi lantas berlalu pergi.
Kriing ... Ponsel Abi berdering. Ia berjalan sambil menunduk merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
__ADS_1
"Aduh! Maaf ... maaf kak, aku gak sengaja, tadi aku buru-buru. Maaf kak, maaf!" seru gadis di depan Abi, panik. Ia mengucap maaf berkali-kali, lalu buru-buru mengambil ponsel Abi yang jatuh dan memberikannya pada Abi dengan takut.
Abi diam saja memperhatikan gadis di depannya yang tak lain adalah Devi. Gadis yang tadi pagi ia antar ke kampus.
"Gak apa-apa kok. Makasih" ucap Abi menerima sodoran ponsel dari Devi.
"Rusak gak kak ponselnya? Maaf ya kak, maaf" ucapnya berulangkali meminta maaf.
"Gak kok, gak ada yang lecet kok. Kamu gak perlu meminta maaf berlebihan seperti itu" ucap Abi.
"Tapi, tapi kak, ponsel kakak mati, gimana dong. Aku harus ganti dong? Aku, aku belum ada uang, gimana dong kak?" ujarnya bertubi-tubi dengan tingkah polosnya membuat Abi gemas untuk tidak menyentuh kedua lengannya.
"Hei! Tadi aku bilang 'kan tidak apa-apa. Jadi tidak usah risau dan panik berlebih. Ponselku mati karena sudah habis baterai terlebih dahulu sebelum terjatuh. Jadi jangan merasa bersalah berlebihan, oke?" ucap Abi dengan terpaksa akhirnya menyentuh kedua lengan Devi sehingga jarak wajahnya dengan wajah Devi semakin dekat.
Devi menatap lurus netra coklat milik Abi. Begitupun sebaliknya, untuk beberapa puluh detik mereka saling menatap hingga Abi pun tersadar.
"Ehm ... Devi, benar namamu Devi?" tanya Abi.
"Iya kak, namaku Devi, aku jurusan tekn .... " Abi buru-buru membungkam mulut Devi dengan tangannya.
"Astaga! Gadis ini seperti mesin informasi yang sekali tanya langsung keluar banyak informasi" gumam Abi dalam hati.
"Naik!" perintah Abi agar Devi naik ke motornya dan duduk di belakang Abi.
Devi masih tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia nurut saja setiap Abi memerintahkannya. Ia lantas naik motor dan langsung memeluk Abi.
Abi tak berusaha melepaskan pelukan Devi. Ia sudah lelah dan tak ingin berdebat dengan Devi urusan peluk tangan. Abi melajukan motornya hingga berhenti di depan sebuah cafe kecil di sekitar kampus.
"Kak kenapa ... kenapa kakak ajak aku kesini?" tanyanya masih dalam mode kebingungan.
Setelah Abi memesan minum untuknya dan Devi, ia membenarkan duduknya. Duduk menghadap lurus ke arah Devi. Devi menjadi kikuk, ia takut diadili oleh Abi.
"Devi, dengarkan baik-baik ucapanku" ucap Abi menggangung sejenak menghela nafas. Seharusnya saat ini ia berada di rumah dan bersantai menikmati hari terakhirnya libur kuliah, tapi karena Devi ia harus menyelesaikan sesuatu dengannya.
Wajah Devi tegang, ia memilin-milin ujung kemejanya.
"Kamu ... argh! Aku jadi bingung ngomongnya kalau wajahmu memelas begitu" Abi mengacak rambutnya frustasi. Ia sebenarnya hanya ingin memberitahu Devi agar lebih berhati-hati dalam memberikan informasi. Tapi sepertinya Devi malah salah paham.
Mata Devi berkaca-kaca, satu bulir air mata jatuh ke pipinya. Devi terisak membuat Abi menjadi seolah yang bersalah dalam hal ini.
__ADS_1
"Sstt ... kamu jangan nangis ya. Sudah dong, aku gak marah kok" ucap Abi menenangkan Devi sambil mengusap air mata di pipi Devi.
"Kakak ... jangan marah sama Devi, Devi gak sengaja menjatuhkan ponsel kakak. Nanti kalau Devi sudah dikirim uang oleh ayah, Devi ganti ponsel punya kakak" ucapnya masih dengan sisa-sisa isakannya.
"Dengar ya Devi sayang ... kakak gak marah tentang ponsel. Sudah jangan nangis lagi. oke?" perkataan Abi berhasil menghentikan tangis Devi. Mata Devi menatap seutuhnya pada mata Abi seolah menuntut penjelasan.
"Kenapa?" tanya Abi bingung. Abi belum menyadari letak kesalahannya.
"Kakak ... kakak manggil Devi ... sayang. Apa kakak suka sama aku?" tanya Devi pelan.
"What the .... !" Abi membelalakkan matanya tak percaya dengan kejadian hari ini. Ia terjebak terlalu jauh dalam kesalahpahaman gadis polos di depannya ini.
Abi mundur dan menyandarkan punggungnya. Ia meraup wajahnya dengan tangannya dan mengacak rambutnya, kasar.
"Salah makan apa sih gue!" umpatnya!
.
.
.
🌺 hai readers..
Keterangan :
Akta IV merupakan surat ijin mengajar bagi sarjana lulusan FKIP, jadi bagi yang ingin mengajar baik menjadi guru ataupun dosen harus memiliki Akta IV. Perkuliahan Akta IV ditempuh selama kurang lebih satu tahun.
Tetapi itu dulu sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sejak diterbitkannya UU tersebut keberadaan Akta IV sudah tidak diberlakukan lagi.
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕