
>>Author<<
"Sepertinya aku tahu apa yang harus kukatakan pada Ocha" gumam Abi dalam hati. Ia menatap ke dalam bola mata Ocha, mencoba menelisik mencari tahu meski hanya sedikit tanda di dalam netra hitam milik Ocha, mencari persamaan bahwa Ocha pun merasakan hal yang sama seperti perasaannya pada Ocha.
Yang ditatap merasa kikuk, Ocha mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak mau bersitatap dengan Abi. Ada perasaan malu jika lama-lama matanya bersirobok dengan mata Abi. Malu? Malu karena cintakah? Atau karena perasaan sukakah? Tapi sayangnya bukan perasaan itu semua.
Ia malu karena sudah menunjukkan sisi lemahnya di hadapan laki-laki yang baru ia kenal itu. Harga dirinya sedikit terluka, ia dengan sikap tomboynya merasa dikalahkan oleh pertolongan Abi kemarin. Mungkin saat ini Abi sudah menganggapnya cewek lemah di matanya. Dan Ocha sangat membenci perasaan dikasihani oleh orang lain terlebih lagi oleh laki-laki dihadapannya itu.
"Apa..?!" Ocha merasa jengah pada Abi yang terus menatapnya lekat-lekat. Apa sih maunya?!
"Gak apa-apa, aku hanya mau tahu kondisimu, apa masih sakit perut seperti kemarin?" tanya Abi polos, tidak ada maksud untuk mengejek Ocha. Tapi sebaliknya, di pikiran Ocha laki-laki itu telah mengungkit kenangan memalukan yang membuat harga dirinya jatuh. Jika teringat hal itu, Ocha merasa sangat kesal.
"Jadi mas Abi kesini hanya mau tahu kondisi badanku? Aku jawab ya, aku sudah sembuh! Nah mas Abi kan sudah tahu kondisiku sudah sembuh, sekarang mas Abi pulang gih!" ucap Ocha sedikit kesal.
Abi berusaha untuk tidak tersinggung pada ucapan Ocha, ia mengetahui satu hal tentang Ocha. Bahwa ternyata Ocha tidak atau lebih tepatnya belum mempunyai perasaan yang sama sedikitpun pada dirinya. Ocha belum bisa menerima perjodohannya, Ocha belum membuka hati untuknya.
Dan entah mengapa, bukannya menyerah dan membatalkan rencana perjodohannya, Abi malah merasa tertantang untuk bisa mendapatkan hati Ocha. Ia yakin suatu saat Ocha akan membuka hatinya untuk Abi.
"Ya sudah mas pulang dulu ya, ehm..sampaikan salam pamit mas ke mama papamu ya, Assalamualaikum.. " Abi beranjak pergi menaiki motornya lalu melajukan motornya pulang.
Ocha bangkit, ia beranjak masuk ke dalam kamarnya. Tapi sebelum ia membuka pintu kamarnya, mama Reni memanggilnya.
__ADS_1
"Loh kok audah mau ke kamar lagi? Mas Abi nya ditinggal sendirian gitu, kan kasian" ucap mama Reni.
"Udah pergi orangnya!" Lalu Ocha menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Ia sedang tidak mau diganggu, moodnya kembali jelek. Ini semua gara-gara "si bapak guru" itu!! Kesall!!!
Mama Reni yang mendengar jawaban anaknya, beranjak ke luar, ia mengecek kebenaran ucapan dari anaknya.
.
.
.
Di perjalanan, Abi terus-terusan memikirkan Ocha. Aku gak boleh menyerah! Tekadnya sudah bulat untuk terus mendekati Ocha. Entah apa yang membuat Abi tertantang, ia hanya merasa ada suatu tarikan yang membuatnya terus menerus memikirkan Ocha. Ia meyakinkan hatinya bahwa kelak bisa menaklukkan hati Ocha.
"Dari mana mas? Tadi pagi langsung ngeloyor aja gak pamit sama orang rumah" ucap ibu Arni pada Abi. Bu Arni selalu memanggil Abi dengan sebutan "mas".
"Dari rumah Ocha bu" jawab Abi sambil menjatuhkan badannya di sofa depan tv.
"Ngapain pagi-pagi kesana? Hayo lagi kangen Ocha yaaa..." ledek bu Arni. Ada rasa senang di hati bu Arni. Ia senang dengan sikap Abi, itu artinya Abi menerima perjodohannya dengan Ocha.
"Apa sih ibu tuh ngeledekin Abi" ucap Abi sedikit menghindari tatapan ibunya.
__ADS_1
"Ih siapa yang ngeledekin, itu keliatan di wajah kamu kalo kamu tuh udah mulai suka sama Ocha, iya kan?! Bener kan ucapan ibu?" ucap ibu Arni.
"Emang keliatan gitu ya?" ucap Abi.
"He'em..kenapa kok mukanya langsung lesu?" ucap bu Arni lalu segera duduk di samping anaknya.
"Kayanya Ocha gak suka sama Abi bu" ucap Abi pada ibunya. Bu Arni langsung mengerti kegelisahan Abi.
"Kamu harus maklum sama sikap Ocha, dia belum terbiasa saja sama mas Abi. Mas Abi kan baru mengenal Ocha, ketemupun baru beberapa kali jadi harus sabar. Tidak semua orang bisa langsung suka atau cinta diperkenalan pertama. Nanti juga kalau mas Abi sering bertemu dan Ocha sudah terbiasa dengan mas Abi, pasti lama-lama luluh juga hatinya" ucap ibunya.
"Ingat pepatah jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" artinya hadirnya cinta bermula karena terbiasa bersama. Jadi mas Abi jangan cepat menyerah ya!" ucap ibunya lagi. Abi sedikit terhibur oleh perkataan ibunya.
Bu Arni sengaja tidak menceritakan perihal Ocha yang sedang patah hati. Ia tidak mau anaknya berpikiran bahwa perjodohan ini semata-mata untuk pelarian Ocha. Ia tidak mau jika nanti Abi merasa hanya sebagai pelampiasan perasaan kosong Ocha semata. Sungguh bu Arni berharap meskipun ini adalah perjodohan yang sudah diatur, tapi perasaan cinta antara dua manusia itu haruslah tumbuh secara alami bukan karena paksaan. Melainkan karena mereka menginginkan satu sama lain.
"Mas Abi sudah makan?" tanya ibunya.
"Sudah bu tadi di rumah Ocha, masakan tante Reni enak bu, tadi tante Reni juga nitip salam untuk ibu. Oh iya bu, kira-kira Ocha bisa masak gak ya bu?" tanya Abi
"Lah mas Abi harusnya tanya sendiri dong sama Ocha, kenapa nanya ke ibu, ada-ada aja deh" ucap ibunya. Iya ya, harusnya nanya langsung. Bodoh! Abi nyengir malu pada ibunya.
"Abi ke kamar dulu bu, mau istirahat, tapi nanti sore Abi mau ke tempat Bagas y bu" ucap Abi lalu pergi meninggalkan ibunya di ruang tv.
__ADS_1
"Haahhh.. sepertinya butuh sedikit tambahan waktu lebih lama dari tanggal penentuan. Ocha belum sama sekali tersentuh hatinya. Jangan menyerah ya anakku" gumam bu Arni selepas Abi pergi ke dalam.