
>>author<<
"Asaalamualaikum, ma! Ocha pulang!" teriak Ocha depan pintu rumahnya. Ia segera berhamburan ke pelukan mamanya saat melihat mamanya keluar dari dalam kamar.
"Mama, Ocha kangen banget sama mama" ucap Ocha masih dalam pelukan mamanya.
"Ah kamu lebay deh! Cuma sehari aja mama tinggalin kamu kok kayak yang ditinggal setahun aja!" ucap mamanya.
"Ih mama suka gak percaya gitu deh" gerutu Ocha.
"Emang mama ga percaya sama Ocha! Pasti Ocha betah kan nginep di rumah mas Abi, iya kan? Hayo ngaku?" ledek mamanya sambil mencolek dagu Ocha.
Ocha tersipu malu mendengar ucapan mamanya. Pipinya merona.
"Mas Abi nya mana?" tanya mamanya celingukan mencari sosok Abi.
"Ada di mobil, kayaknya lagi ambil koper sama ada buah-buahan juga tuh" ucap Ocha.
"Buah-buahan?" tanya mamanya bingung.
"Iya buah-buahan dari tante Arni. Tadi mas Abi disuruh tante Arni beli buah-buahan di mini market pinggir jalan" jelas Ocha.
"Papa mana ma?" tanya Ocha kemudian.
"Papa sedang istirahat di kamar" jawab mama Reni.
"Oh, ya sudah Ocha gak mau ganggu papa dulu. Ma, Ocha ke kamar dulu ya, mau mandi gerah nih!" ucapnya sambil berjalan ke kamarnya.
"Lah kok ke kamar sih? Mas Abi ditinggal gitu aja? Dasar anak ini gak ada berubahnya ya" omel mama Reni melihat kelakuan anaknya. Ia lalu berjalan ke ruang tamu menemui Abi yang sudah dari tadi duduk di sofa menunggu mama Reni keluar.
"Ah tante, ini ada sedikit buah-buahan untuk om dan sekeluarga. Oh ya, bagaimana keadaan om sekarang, tante?" ucap Abi seraya berdiri dan menyalami tangan mama Reni. Ia lalu memberikan sekantong plastik berisi buah-buahan yang tadi ia beli di mini market.
"Aduh nak Abi repot-repot sekali bawa ini. Terima kasih banyak ya sampaikan salam tante untuk ibumu ya" ucap mama Reni sambil menerima uluran kantong plastik tadi.
"Ayo duduk dulu, ehm nak Abi mau minum apa?" tanya mama Reni.
__ADS_1
"Gak usah tante, gak perlu repot-repot" tampik Abi sopan.
"Om sudah diperbolehkan pulang menurut dokter. Tapi harus mengikuti jadwal check up setiap seminggu sekali. Supaya dokter bisa mengetahui perkembangan kesehatan om" jelas mama Reni tentang kondisi suaminya.
"Oh ya, Ocha pasti banyak merepotkan kamu dan ibumu ya selama menginap di sana, maaf ya, nak Abi" ucap mama Reni.
"Gak ngerepotin sama sekali kok tante, ehm, hanya saja kemarin malam saya sedikit khawatir" ucap Abi.
"Khawatir kenapa? Kemarin malam Ocha kenapa?" tanya mama Reni sedikit was-was.
"Kemarin malam hujan lebat disusul dengan mati lampu juga. Ocha sepertinya sangat ketakutan, tante" jelas Abi.
"Oh seperti itu, Ocha meskipun sikapnya yang tomboy dan selalu menunjukkan sikap yang seolah dirinya tangguh, tapi sebenarnya Ocha banyak memiliki ketakutan. Mungkin dikarenakan trauma masa kecilnya, jadi berimbas pada ketakutan-ketakutan hal tertentu. Salah satunya adalah ia takut gelap" terang mama Reni.
Sedangkan Abi terdiam mendengarkan penjelasan mama Reni. Ia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang kepribadian Ocha. Ternyata Ocha sebenarnya adalah sosok yang rapuh. Ia bersikap tomboy seperti itu adalah bentuk kamuflase yang dibuat olehnya untuk menutupi kekurangannya. Ia sangat tidak ingin dikasihani oleh orang lain.
"Oh gitu ya tante. Tante, Abi pamit pulang dulu, sudah mau maghrib nih" ucap Abi.
"Gak mau ngobrol dulu dengan Ocha?" tanya mama Reni.
"Lain kali saja tante, barangkali Ocha kangen sama papanya" ucap Abi sambil berdiri dari sofa yang ia duduki dan mengulurkan tangan, menyalami tangan mama Reni, pamit.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya nak Abi" ucap mama Reni mengantarkan Abi sampai ke depan gerbang rumahnya.
"Assalamualaikum!" ucap Abi.
"Wa'alaikum salam, mas Abi sudah pulang, sini biar bibi bawakan kresek buahnya" ucap bi Anah saat ia berpapasan di depan rumah. Hari sudah beranjak maghrib, sudah waktunya bi Anah pulang ke rumahnya.
"Gak usah bi, biar Abi saja, bibi sudah mau pulang kan" ucap Abi sopan. Bi Anah mengangguk sopan.
Abi masuk sambil menenteng plastik buah. Lalu meletakkannya di atas meja makan. Ia kemudian masuk ke kamar yang sebelumnya di tempati Ocha kemarin.
Saat masuk ke kamar, Abi disambut oleh semerbak aroma parfum Ocha. Membuat rongga dadanya berdetak kencang, membayangkan kemarin, Ocha tertidur pulas di atas ranjangnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Wangi Ocha!" gumamnya.
__ADS_1
Matanya menerawang ke atas langit-langit kamarnya, membayangkan wajah manis Ocha.
"Mandi dulu ah biar seger" ucapnya lalu bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Ia memutuskan mandi sebelum pikirannya semakin larut pada sosok Ocha.
Seminggu setelah itu, di rumah Ocha saat makan malam.
"Ocha, bagaimana perkembangan lamaran kerjamu? Apa sudah ada panggilan dari sekolah yang kamu lamar?" tanya papanya.
"Belum pa, belum ada yang menghubungi Ocha" ujar Ocha.
"Ma, pa, besok Ocha mau ke rumah Nisa ya, Ocha kangen sama Nisa, udah lama banget gak main bareng lagi" ucap Ocha.
"Boleh, tapi pulangnya jangan kesorean ya, jaga rumah!" ucap mamanya.
"Emangnya mama papa kemana?" tanya Ocha.
"Kan jadwalnya papa check up ke rumah sakit" ucap mamanya.
"Oke deh siap ma" ucap Ocha sambil mengangkat telapak tangan ke dahinya, hormat ala upacara bendera.
"Ocha masuk kamar dulu ya, ma, pa" ucap Ocha setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Ma besok setelah check up kesehatan papa, kita ke rumah pak Pras ya" ujar papa Irawan, setelah beberapa saat Ocha masuk ke kamarnya.
"Mau ngapain pa?" tanya mama Reni mengernyitkan dahi bingung.
"Papa mau atur ulang jadwal pertunangan Ocha" ujarnya.
"Loh kenapa pa?" tanya mama Reni semakin bingung.
"Papa rasa, Ocha harus segera bertunangan dengan Abi sebelum dapat panggilan mengajar" ucapnya.
"Sekalian kita bahas lebih lanjut dengan keluarga pak Pras tentang semua detail pernikahan Ocha dan Abi" sambungnya.
"Ya sudah kalau papa mau seperti itu, mama sih setuju saja" ucap mama Reni.
__ADS_1