Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 34


__ADS_3

>>author<<


"Ocha, mas keluar ya, nanti biar ibu yang menemani Ocha tidur ya" ucap mas Abi. Aku setengah hati menerima usulnya, tapi memang itu yang terbaik. Mana mungkin aku membiarkan mas Abi tidur sekamar denganku. Aku akhirnya mengangguk, membiarkan mas Abi keluar kamar.


Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, tante Arni masuk ke dalam kamar lalu mendekatiku.


"Ocha sayang, biar tante temani kamu tidur ya" ucap tante Arni, aku mengangguk.


"Sambil menunggu lampu menyala dan supaya Ocha tidak takut lagi, tante mau sedikit cerita nih sama kamu" ucap tante Arni.


"Cerita tentang apa tante?" ucapku penasaran. Aku langsung merubah posisiku, yang tadinya sudah siap tidur dengan selimut, aku langsung duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Cerita tentang pertemanan tante dengan mamamu" ucap tante Arni. Aku mengerutkan dahi, bingung.


"Kupikir tante Arni bakal cerita tentang anaknya, ternyata cerita tentang pertemanannya dengan mama" batinku.


"Tante berteman dengan mama kamu sejak kami kuliah di Bandung" ucap tante Arni.

__ADS_1


Ia menceritakan masa-masa kuliahnya bersama mama. Aku diam mendengarkan ceritanya. Kini aku tahu bahwa mama sangat akrab dengan tante Arni karena mereka satu jurusan dengan mama.


"Tapi kemudian setelah lulus kuliah, tante pindah ke Korea karena mendapat pekerjaan dan menikah di sana" tutur tante Arni. Ia menatapku lekat-lekat. Aku merasa kikuk ditatap olehnya.


"Setelah tujuh tahun, akhirnya tante kembali ke tanah air karena kondisi kesehatan tante yang menurun pasca mengalami kecelakaan. Dan karena suatu hal juga yang mengharuskan tante istirahat total" ucap tante Arni. Ada gurat kesedihan nampak di wajahnya meskipun ruang kamar hanya diterangi oleh dua buah lilin.


"Suatu hari, tanpa sengaja, tante bertemu dengan mama kamu di sebuah mall. Tante ingat betul saat itu, mamamu sedang hamil besar dan tante sedang menggandeng tangan Abi yang berusia enam tahun" ucap tante Arni menerawang. Seolah mengingat kembali kejadian di masa lalunya.


"Saat itu adalah pertama kali tante bertemu dengan mama kamu setelah tujuh tahun lamanya kita lost contac" ucap tante Arni. Aku masih setia mendengarkan kelanjutan ceritanya.


"Tante langsung minta nomer ponsel dan alamat rumah mama kamu" ucapnya.


"Bayi cantik yang menggemaskan, terlihat sekali di raut wajah mamamu saat itu, bahwa mamamu sangat bahagia telah melahirkanmu" ucapnya lagi masih menggenggam tanganku.


"Dan salah satu alasan mengapa tante dan om mengadakan perjodohan adalah karena kami mengingat kembali ucapan Abi saat bertemu kamu pertama kali" ucapnya menggantung. Aku masih terus mendengarkan, apalagi kalau bukan penasaran dengan ucapan mas Abi saat kecil tentang perjodohan ini.


"Saat Abi pertama kali bertemu dengan bayi cantik menggemaskan bernama Siti Kautsar Irawan, pipinya bersemu merah dan pertama kalinya senyuman menghiasi wajahnya, setelah satu tahun yang suram pasca kecelakaan terjadi" ucap tante Arni tersenyum tipis.

__ADS_1


Aku masih menunggu terpuaskan rasa penasaranku tentang ucapan mas Abi saat bertemu denganku yang masih bayi merah dari cerita tante Arni. Dan ternyata kalimat yang keluar dari mulut mas Abi pertama kali saat itu adalah "bu dedenya cantik, nanti kalau udah gede mas mau nikah sama dede bayi cantik ini ya".


Ada perasaan hangat yang menjalar di hatiku ketika mendengar ternyata celotehan mas Abi saat kecil adalah ingin menikahiku. Itu mungkin salah satu alasan mas Abi menerima dan menjalani perjodohan ini dengan nyaman. Aku baru tahu juga dari tante Arni ternyata mas Abi sering sekali merengek, meminta tante Arni menemaninya menjengukku saat bayi. Tapi karena kesibukan om Pras, makanya tante dan mas Abi jarang bisa berkunjung ke rumah mama.


Cetaakk..! Tiba-tiba lampu menyala. Kulirik jam di nakas. Jam 22.54 sudah hampir tengah malam ternyata.


"Nah Ocha, lampu sudah menyala, kamu bisa tidur dengan nyaman di sini. Atau kamu masih takut dan mau ditemani tante?" tanya tante Arni.


Buru-buru ku tolak halus tawaran tante Arni. Aku tak sampai hati membiarkan tante Arni tidur di sebelahku. Bisa-bisa tante Arni tidak bisa tidur pulas karena ulahku kalau sudah di alam mimpi alias jumpalitan kaki dan tangan tidak bisa diam menyusuri setiap jengkal ranjang.


"Makasih tante sudah mau menemani Ocha, maaf mengganggu jam tidur tante" ucapku pelan.


"Iya gak apa-apa kok Ocha sayang, tante keluar ya" ucapnya lalu beranjak pergi keluar kamar.


Jadi ternyata mas Abi memang sudah mengenalku sejak aku masih bayi merah. Dari sekian lama itu apa mas Abi tidak goyah dengan perasaannya padaku saat ia kecil? gumamku.


Terbesit di otakku kemudian banyak pertanyaan tentang pribadi mas Abi. Dari segala hal, aku sm sekali gidak mengenal sosok mas Abi. Apakah selama ini ia tidak pernah merasakan jatuh cinta atau malah ia memang the best player in love.

__ADS_1


Aahh aku lelah, begitu banyak pertanyaan yang hinggap di kepalaku. Kubiarkan semua pertanyaan itu tenggelam seiring rasa kantuk yang mulai menguasai kesadaran diri. Aku pun terlelap tidur di ranjang empuk milik mas Abi.


__ADS_2