Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 78


__ADS_3

>>author<<


Gadis itu terdiam saat Abi mengutarakan maksud baiknya untuk melamar. Ia tertunduk sedih, tak sedikitpun rona bahagia terpancar di wajahnya.


Abi sudah lama memikirkan untuk melamar gadis itu, hanya saja terhalang oleh satu prinsip Abi yaitu ia tak 'kan menjadikan urusan cinta sebagai penghalangnya menjadi seorang sarjana. Dan kini saat studinya sudah berakhir, ia memberanikan diri untuk melamar gadisnya.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Abi.


Abi memegang dahi gadis di sebelahnya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Aku ... aku gak apa-apa kak" ucap gadis itu lesu.


Sudah satu tahun Abi dan Devi menjalin hubungan kasih. Dan hari ini adalah hari yang dinanti Abi. Ia bermaksud melamar Devi. Setelah prosesi wisuda selesai, sore harinya ia langsung pergi menemui Devi di kosannya.


"Kenapa? Kamu kayaknya gak senang, Devi? Ada apa?" tanya Abi penasaran dengan ekspresi Devi yang tak senang dilamar olehnya. Bagaimana tidak, Devi sudah menanyakannya dari tiga bulan yang lalu, namun Abi belum memberikannya jawaban yang pasti.


"Aku ... mau jujur sama kakak ... " ucap Devi ragu-ragu.


"Jujur tentang apa?" tanya Abi semakin bingung dengan sikap Devi.


"Aku ...." ucap Devi terputus seketika saat suara seseorang yang ia kenal memanggilnya dari luar kamar kos.


"Devi sayang, kamu ada di dalam 'kan?" suara seorang laki-laki kembali terdengar memanggil nama Devi.


Sontak Abi menatap tajam ke arah mata Devi, tapi Devi terus menunduk tak berani menatap balik mata Abi. Ia memilin-milin ujung bajunya takut-takut.


"Siapa itu Devi?" Abi bertanya masih dengan nada normal, ia berusaha mengedepankan logikanya ketimbang berprasangka jelek pada Devi.


Devi masih terdiam, ia tertunduk takut. Perasaan kalut berkecamuk dalam hatinya.


"Aku masuk ya, Devi sayang?" ucap laki-laki itu lalu membuka handle pintu kamar kos Devi.


.

__ADS_1


.


Sungguh seperti tersambar petir di siang bolong, Abi mendengar penjelasan Devi yang membuat hatinya bergemuruh. Ia memukul tembok di depannya.


"Kenapa Devi? Kenapa kamu tega sama kakak?!" seru Abi.


Satu jam sebelumnya, saat laki-laki yang memanggil Devi dengan sebutan sayang itu berhasil membuka handle pintu kamar kos dan matanya bersirobok dengan mata Abi, lantas Abi meminta penjelasan pada Devi dengan mendorong laki-laki itu dan menutup paksa pintu kamar kos Devi agar Abi bisa fokus menyelesaikan kebingungannya dengan situasinya sekarang.


"A-aku minta maaf kak. Kakak tiga bulan lalu sangat sulit ditemui. Aku juga belum mendapat jawaban pasti, apakah kakak serius denganku atau hanya main-main. Keluargaku menanyakan terus menerus tentang keseriusan kakak padaku" pernyataan Devi membuat amarah Abi memuncak.


"Kamu 'kan tau, kakak sangat sibuk menyelesaikan skripsi dan kakak harus konsentrasi penuh menghadapi sidang skripsi. Tapi kakak 'kan selalu telpon kamu, kirim pesan kamu, meski kita bertemu kadang seminggu sekali, kakak selalu berusaha meluangkan waktu untuk ketemu kamu!" seru Abi.


"Maafin aku kak ... aku juga gak paham dengan hatiku sendiri. Kak Nugi datang di saat hatiku sedang kesepian. Kami tak sengaja bertemu di kosan ini karena kak Nugi sering kesini untuk bertemu dengan temannya yang ada di kosan atas" Devi menjelaskan dengan perasaan sangat bersalah dan menyesal.


Otak Abi seolah me-rewind kembali kejadian saat-saat pertama kali mengunjungi kamar kos Devi untuk membantu merawat luka kakinya. Ia tak sengaja melihat sosok yang tak asing lagi baginya yang tengah berdiri di atas tangga. Ternyata sosok itu adalah Nugi! Nugi ternyata sering ke kosan ini karena teman-teman nongkrongnya tinggal di kosan bagian atas.


Abi meraup wajahnya kasar, frustrasi! Bukan seperti ini yang ia bayangkan. Ia membayangkan wajah Devi yang sumringah saat mendengar lamarannya.


Devi merasakan kebingungan saat Abi susah ditemui dan belum mendapatkan jawaban pasti dari mulut Abi meski dari via telpon atau chat, Abi selalu menjawab dengan "nanti ya, sabar ya" sedangkan keluarga Devi selalu menanyakan kepastian Abi. Dan di saat itulah Devi bertemu dengan Nugi. Dengan segala pesona yang dimiliki Nugi, Devi merasa kekosongan hatinya sedikit demi sedikit mulai terisi oleh kehadiran Nugi.


"A-aku juga, su-sudah ... hamil dua bulan ...." lirih Devi dengan nada sepean mungkin bahkan nyaris tak terdengar. Tapi telinga Abi bisa menangkapnya dengan jelas.


Mata Abi membelalak, sungguh benar-benar kegilaan di sore hari ini memuncak di otaknya.


"Shit! Brengsek kau Nugi!" Abi memaki hampir tepat di depan wajah Devi, membuat Devi sejenak terperanjat karena suara keras dari Abi.


Abi lantas bangkit dan membanting pintu kamar Devi. Dengan mata yang menyalang ia mendekati Nugi yang sedang menunggu di taman belakang.


Bugh! Bugh! Bugh!


Seketika bogem mentah mendarat di pipi Nugi.


"Brengsek lu! Lu tega ya sama temen lu sendiri!" Abi kalap, ia kembali memukuli Nugi tanpa menunggu penjelasan dari Nugi lagi. Belum sempat Nugi membuka mulutnya untuk bicara, Abi kembali melayangkan pukulan ke wajah Nugi.

__ADS_1


"Lu harus tanggung jawab! Devi bunting gara-gara kelakuan bejat lu!" Abi masih mencengkeram kerah baju Nugi.


"Astaga! Setahun gue ngejaga Devi bak permata, tak sedikitpun gue ambil kesempatan. Dan lu ... lu dengan entengnya merusak Devi sampai ke dasar kehinaan!" Abi kini melepas cengkeramannya, mendorong Nugi hingga terjungkal ke belakang.


Badan Abi seakan luluh lantak karena kejadian sore ini. Ia tak lagi menghiraukan penghuni kos yang ada di dalam kamar mendadak keluar dari dalam kamar dan menonton perkelahian mereka. Mereka riuh ramai berbisik dan berbocara lirih tanpa ada yang berani melerai perkelahian Abi dan Nugi.


"Banci lu! Cuih!" Abi meludah di depan wajah Nugi. Ia kemudian pergi dari hadapan Nugi yang masih tersungkur dengan wajah yang babak belur karena dihajar habis-habisan oleh Abi. Tak sedetikpun ia mampu membalas bogem mentah dari Abi.


Abi berjalan hingga melewati Devi yang tengah berdiri di depan kamar kosnya sambil menangis. Ia tak sedikitpun menoleh ke arah Devi. Hatinya sudah hancur berkeping-keping oleh gadis yang membuatnya pertama kali merasakan indahnya mencintai.


"Kak Reza ... maafin Devi" lirih Devi masih dengan isak tangis penyesalan yang tiada guna. Abi tak menggubris suara Devi. Ia terus saja berjalan menyusuri lorong bangunan kos itu. Lorong itu seolah tak berujung, ia berharap lorong itu bagai lorong waktu yang di ujung sana ia dapat dengan mudahnya menghapus waktu setahun yang ia lalui bersama Devi.


.


.


.


🌺 hai readers..


Hiks... hiks... sedihnyeee author sebenernya gak tega menulis part ini. Tapi emang udah jadi jalannya Abi agar bisa lebih memahami lagi arti cinta sesungguhnya.


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...


babay....😘


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕

__ADS_1


__ADS_2