Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 48


__ADS_3

>>author<<


"Nis aku pulang ya, tadi dapet telpon dari bang Jenggot laptopku sudah selesai diperbaiki. Oh ya, tentang tadi yang kita bahas, aku harus diskusikan dulu dengan papaku, oke? Tunggu jawabannya tiga hari lagi deh" ucap Ocha lalu keluar dari kamar Nisa dan berpamitan pada maminya Nisa.


.


.


Lima belas menit perjalanan dari rumah Nisa, akhirnya Ocha sampai di toko bang Jenggot.


"Bang, gimana laptopku? Beres?" tanya Ocha.


"Wah sori nih neng. Laptop tidak bisa diselamatkan, rusak total neng. Lagian nih laptop diapain sih ampe remuk begini? Kasian amat yak" ucap bang Jenggot.


"Yah ... gak bisa dibenerin nih bang? Gimana dong?" ucap Ocha lesu. Ia bingung bagaimana nasib laptop kesayangannya itu.


"Iya neng, tadi yang menangani laptop neng Siti adalah mas Reza. Nah tuh dia orangnya nongol" ucap bang Jenggot sambil menunjuk Abi yang baru keluar dari toilet.


"Ini mas Reza yang tadi ngecek laptop neng Siti" karena diperkenalkan begitu sontak Ocha menengok ke arah yang dibicarakan.


Ocha membulatkan matanya tak percaya. Ternyata yang dibilang bang Jenggot "mas Reza" adalah Abi.


"Ocha ... !" ucap Abi dengan setengah meninggi karena kaget.


"Mas Abi ... !" Ocha pun sama kagetnya dengan Abi.


"Lah kalian sudah saling kenal toh?" tanya Bagas yang menoleh Ocha dan Abi bergantian.


Abi langsung menarik tangan Ocha untuk keluar dari toko. Meninggalkan Bagas yang terpaku kebingungan.


"Ocha kenapa kesini?" tanya Abi setelah mereka berada di luar bengkel. Abi sengaja menarik Ocha, agar Bagas tak meneruskan pertanyaan-pertanyaan lain.


"A-aku ... ah laptopku rusak" jawab Ocha terbata.


"Oh jadi laptop putih itu milikmu, Cha?" tanya Abi yang akhirnya paham.


"Pantas saja aku merasa tak asing dengan laptop itu" gumam Abi dalam hati.


Dia mengangguk pelan. Nampak dari raut wajahnya sepertinya ia tak nyaman ngobrol dengan Abi. Abi mengajaknya ke warung nasi samping bengkel Bagas. Ocha tak menolak, tetapi masih dengan diamnya. Ia diam bukan karena marah. Ia hanya memikirkan satu hal.


Abi membelikan ia minum agar sedikit mencair suasana canggung diantara mereka.


"Ocha dari rumah?" tanya Abi setelah minuman disediakan oleh pelayan warung nasi itu.

__ADS_1


Ocha menggeleng sambil menyedot minuman es jeruk yang dipesankan untuknya.


"Ocha marah sama, mas?" tanya Abi akhirnya karena tak tahan dengan diamnya Ocha.


Dia menggeleng.


"Aku ... hanya .... " ucap Ocha menggantung, membuat Abi mengerutkan keningnya bingung.


"Aku ... malu ketemu mas disini" ungkap Ocha jujur.


"Malu? Malu kenapa, Cha?" tanya Abi heran.


"Malu soalnya aku gak dandan. Bajuku ngasal" ucap Ocha yang membuat senyum Abi sedikit mengembang kemudian mengatup kembali sebelum Ocha menyadarinya.


"Kupikir dia marah padaku, ternyata dia sudah mulai peduli dengan pendapatku tentang penampilannya" gumam Abi dalam hati. Hatinya menghangat karena Ocha sekarang mulai membuka hati lebih lebar lagi untuknya.


"Kamu masih cantik kok dan selalu cantik di mata, mas" ujar Abi yang membuat pipi Ocha bersemu merah padam, telinganya pun tak kalah merah dari pipinya.


"Laptop Ocha kenapa bisa rusak?" tanya Abi berusaha menetralkan rasa canggung dan malu Ocha.


"Oh, eh ... semalam jatuh dari meja, kesenggol tanganku" ucapnya.


"Sekarang kita balik yuk ke bengkel mas Bagas, ambil laptop Ocha" ucap Abi setelah membayar minuman pada pelayan warung nasi itu.


"Et ... et ... tar dulu, jelasin dulu tuh cewek yang di depan bengkel gue siapa? Lu selingkuh ya?! Busyet dah, tunangan aja belom, udah mau gaet neng Siti" cerocos Bagas tanpa henti menuding Abi macam-macam.


"Berisik lu! Namanya Ocha, calon tunangan gue! Udah ah gue cabut dulu" seru Abi meninggalkan Bagas yang tercengang kaget dengan jawaban super cepat Abi.


"Calon tunangan? Jadi dia ... " ucapan Bagas terputus karena tiba-tiba Abi melempar kunci motor ke hadapannya.


"Titip motor gue!" ucap Abi sembari melemparkan kunci motor ke hadapan Bagas. Dengan sigap Bagas menangkapnya.


Abi membonceng Ocha keluar dari area pertokoan Bagas. Ocha menyetujui niatan Abi untuk mengantarnya pulang.


"Mas, kok belok? Kita mau kemana?" ucap Ocha setelah sadar laju kendaraannya tak lagi lurus ke arah rumahnya.


"Mas, mau ajak Ocha mampir ke toko komputer sebentar, gak apa-apa 'kan?" ucap Abi.


Ocha mengingat jalanan ini. Jalan menuju toko komputer yang dulu pertama kali mereka sambangi. Ia kemudian teringat insiden preman mabuk yang menggodanya. Ia mengeratkan pelukan tangannya ke pinggang Abi, takut.


Abi menarik tangan Ocha ke depan, sehingga sempurna Ocha memeluk Abi dari belakang. Abi paham betul reaksi Ocha yang begitu karena masih ada trauma.


"Turun yuk, sudah sampai" ajak Abi sambil menggandeng tangan Ocha.

__ADS_1


"Aku tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Kali ini aku gak akan meninggalkan Ocha sendirian lagi" gumam Abi.


"Permisi, mba. Saya mau lihat laptop dan notebook keluaran terbaru" ucap Abi pada pelayan toko komputer itu setelah tadi mereka memasuki toko dengan aman.


Pelayan toko itu dengan sigap mengeluarkan dua benda yang diminta Abi tadi. Sebuah laptop berwarna silver dan notebook berwarna merah marun. Lalu pelayan itu menjelaskan segala spesifikasi yang dimiliki dari kedua benda tersebut. Sedangkan Ocha hanya duduk diam mendengarkan.


"Ocha suka yang mana?" tanya Abi tiba-tiba.


Ocha yang sedari tadi diam melamun tak paham dengan ocehan pelayan toko itu, sontak tersadar dari lamunannya karena pertanyaan Abi itu.


"Apa?! Kenapa mas tanya Ocha?" ucap Ocha balik tanya.


"Iya, mas tanya Ocha lebih suka yang mana? Suka laptop atau notebook? Karena mas mau belikan untuk Ocha" terang Abi yang membuat mata Ocha membulat tak percaya.


"Ee ... kok mas mau beliin Ocha laptop baru, kenapa?" Ocha masih belum percaya dengan ucapan Abi sebelumnya.


"Laptop milik Ocha 'kan rusak. Jadi, mas mau membelikan yang baru sebagai pelengkap seserahan kita" jelasnya.


Ocha terdiam, tak berkutik. Ia tak menyangka Abi mau membelikannya laptop baru sebagai pelengkap seserahannya.


"Jadi, gimana? Ocha suka yang mana?" Abi bertanya kedua kalinya.


"Terse ..." Ocha belum menyelesaikan kalimatnya langsung disambar oleh Abi.


"Mas gak mau dengar lagi kata "terserah". Ocha harus memilih dengan perasaan suka Ocha sendiri bukan dari kata terserah" dengan cepat Abi memotong ucapan Ocha. Ia sudah banyak mendengar kata "terserah" kemarin saat belanja perlengkapan seserahan.


"Tapi mas, Ocha gak enak sama mas Abi. Ini laptop harganya gak murah loh mas" ucap Ocha


"Memangnya kenapa kalau mahal? Ini 'kan laptop keluaran terbaru, spesifikasinya juga mumpuni dan apa ada yang salah kalau mas memberikan yang terbaik untuk calon istri mas?" ucap Abi dengan nada menegaskan pada kata "calon istri" membuat hati Ocha kembali menghangat.


"Jadi sayang, mau pilih laptop atau mau notebook aja?" ucap Abi mendesak.


"Aku ... " ucap Ocha menggantung.


.


.


.


🌺 hai readers..


jangan lupa like, komen dan votenya ya terima kasih

__ADS_1


Lot's of love from Ro Miyoung


__ADS_2