Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 21


__ADS_3

>>author lagi nih<<


Sudah satu jam Ocha berputar-putar ke setiap rak buku mencari buku yang diinginkan, akhirnya ia membawa tiga buku ke kasir.


"Semuanya seratus delapan puluh lima ribu rupiah" ucap penjaga kasir toko buku itu.


"Nih mba!" Abi menyodorkan uang dua lembar seratus ribuan.


Ocha kaget, ia kalah cepat dengan tangan Abi. Tangannya masih merogoh tas mencari dompetnya, malah Abi sudah menyodorkan uang ke kasir.


"Ini kembaliannya mas" ucap penjaga kasir pada Abi. Abi mengambil kembalian lalu melengos sambil mengajak Ocha pergi keluar dari toko buku.


"Ehmm.. mas ini uangnya, aku ganti" ucap Ocha sambil menyodorkan uang untuk mengganti uang yang tadi sudah Abi keluarkan di kasir.


"Ga usah, simpan saja buat nanti kita makan siang, kamu yang traktir kan?" ucap Abi pada Ocha, lalu mengambil plastik berisi buku-buku tadi dari tangan Ocha.


Abi melirik jam tangannya, jam 11.40


"Sebentar lagi masuk waktu solat jumat. Sebaiknya aku mencari masjid di dekat sini" gumam Abi dalam hati. Ia berpikir dimana masjid terdekat dari mall ini.


"Ocha, mas solat jumat dulu, kamu tunggu mas di food court di lantai atas. Kalo kamu lapar, pesan saja duluan ya" ucap Abi. Ocha mengangguk mengerti.


"Oh ya chat mas ya kamu duduk di kursi sebelah mana, oke? Mas pergi dulu ya" Abi lalu pergi setelah menyerahkan plastik berisi buku-buku tadi pada Ocha.


.


.


.


Selesai solat jumat, Abi mengaktifkan ponselnya karena selama solat jumat ia menonaktifkan ponselnya agar tidak mengganggu ibadah solat jumatnya.


Ocha : " Mas aku duduk di deket resto ayam geprek, mas mau aku pesenin sekarang gak?"


Abi membuka chat dari Ocha. Ia tersenyum.


"Tumben perhatian, repot-repot mau pesenin aku makan juga. Hmm.. sedikit lagi Abi, semangat!" Abi yakin sebentar lagi Ocha akan membuka hati untuk Abi.

__ADS_1


Abi : "Mas baru selesai solat jumat, terserah kamu aja mau pesan apa, tapi jangan yang pedas dan minumnya air mineral aja"


Abi membalas pesan dari Ocha. Ia memasukkan sarung yang ia pakai saat solat tadi ke dalam tas kecilnya, lalu bergegas berjalan keluar dari masjid.


.


.


"Bete ya nunggu mas solat?" ucap Abi saat mendekati meja Ocha. Ia lalu duduk di kursi depan Ocha.


"Enggak kok" jawab Ocha.


"Kamu sudah selesai makan?" tanya Abi, ia sedikit bingung soalnya di meja hanya ada segelas es jeruk dan air mineral.


"Belum" jawab Ocha singkat.


"Loh kenapa belum makan? Udah pesan belum?" tanya Abi semakin heran.


"Udah pesan" jawab Ocha.


"Maksudnya gimana sih Cha, dari tadi jawabnya pendek-pendek terus, mas gak ngerti sayang" ucap Abi, ia keceplosan di kata terakhirnya "sayang". Ocha tersipu, telinganya memerah mendengar kata sayang dari mulut Abi.


Abi tersenyum.


"Ia mas ngerti kok, emang kamu pesan apa?" tanya Abi.


"Aku pesan nasi ayam geprek dan untuk mas aku pesenin nasi ayam bakar madu, gak apa-apa kan?" tanya Ocha sedikit hawatir takut salah pesan menu makanan untuk Abi.


Abi tersenyum lagi.


"Hmmm..kok bisa pas banget ya, dia pesenin makanan kesukaanku" gumam Abi dalam hati.


"Iya gak papa, mas suka kok" jawab Abi. Tak lama kemudian, makananpun datang. Abi sedikit melotot melihat makanan Ocha yang isinya cabe melulu.


"Makan sambelnya jangan kebanyakan ya Cha, nanti sakit perut lagi loh, kan kita belum selesai hunting bukunya" ucap Abi mengingatkan Ocha. Ocha akhirnya menuruti ucapan Abi. Ia menyingkirkan sambel yang ada di atas ayamnya ke samping piring.


.

__ADS_1


.


"Mba tolong bill nya!" ucap Abi sambil melambaikan tangan ke pelayan resto tersebut. Ia sudah selesai makan.


"Nih mbak" Abi mengeluarkan uang lagi. Ocha mendelik, ia belum sempat membayar buku yang tadi, sekarang malah makananpun dibayari oleh Abi.


"Mas kok bayarin lagi sih?! Kan tadi bilangnya makanan aku yang bayar, gimana sih?" ucap Ocha.


"Iya tapi bukan sekarang bayarnya, nanti di traktiran selanjutnya kamu yang bayar" ucap Abi. Ocha merengut, "itu artinya bakal ada makan bareng lagi dong!" gumamnya.


"Udah kenyang? Atau mau beli camilan dulu buat di jalan?" ucap Abi


"Ga usah, udah kenyang!" ucap Ocha.


Abi hendak membawakan kantong plastik yang berisi buku-buku di atas meja makan, tapi tiba-tiba secara bersamaan Ocha juga melakukan hal yang sama. Tangan mereka bersentuhan. Tapi kemudian Abi dengan cepat mengambil tangan Ocha untuk di genggam, dan tangan satunya untuk membawa kantong plastik. Abi menarik tangan Ocha lembut, menggandengnya bersisian jalan dengannya.


Ocha benar-benar merutuki diri sendiri. Ia kesal pada diri sendiri, kenapa ia selalu lemah di depan Abi. Tak pernah bisa menjaga benteng keangkuhannya. Dulu saat masih berpacaran dengan Doni, ia bisa menjaga keangkuhannya hingga bertahun-tahun. Tapi sekarang, bahkan ia juga bingung statusnya dengan Abi yang belum jelas.


Meskipun orang tua mereka menjodohkan mereka, Ocha masih belum menganggap status apapun terhadap Abi. Sudah banyak interaksi fisiknya dengan Abi, yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Seperti saat ini, Ocha tidak menolak tangannya digandeng Abi.


"Kenapa diem aja dari tadi? Sakit perut lagi?" tanya Abi hawatir.


"Enggak kok, gak apa-apa" jawab Ocha singkat.


Mereka akhirnya sampai di parkiran motor. Sudah menjadi kebiasaan Abi, langsung memakaikan helm ke kepala Ocha. Kini Ochapun tidak menolaknya. Ia menerima setiap perlakuan lembut Abi pada dirinya.


"Ayo naik!" ucap Abi, lantas Ocha naik ke motor Abi. Seperti sebuah magnet yang menarik tangan Ocha, hingga refleks Ocha memeluk Abi dari belakang.


"Benar-benar lemah kamu Cha!" Ocha memaki dirinya di dalam hati.


.


.


.


"Udah dapat belum bukunya?" tanya Abi pada Ocha yang dari tadi kebingungan mencari buku di tiap raknya.

__ADS_1


"Belum mas, tapi aku udah capek nih, kita pulang aja yuk" ajak Ocha. Ia menyerah, tidak mau lagi menelusuri rak-rak selanjutnya.


"Ya udah ayo pulang" lagi-lagi Abi refleks menggandeng tangan Ocha. Berjalan bersisian keluar perpustakaan, menuju parkiran motor.


__ADS_2