
>>eh author lagi<<
Hari jumat pagi, Abi sudah berpakaian rapi. Semalam ia mendapat telpon dari om Irawan agar ia bersedia menemani Ocha mencari referensi buku untuk bahan skripsi Ocha di toko buku dan perpustakaan. Abi mengiyakan permintaan om Irawan dengan senang hati. Karena memang hari jumat ini adalah tanggal merah, artinya sekolah Abi juga libur. Abi lalu keluar kamar sambil membawa tas kecil yang biasa ia bawa jika hari jumat untuk menyimpan sarung dan peci (kopeyah).
Abi tidak pernah melewatkan ibadahnya. Menurutnya hubungan manusia dengan Tuhan adalah nomer satu barulah hubungan dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan bisa lancar. Hal itu terbukti dengan salah satunya adalah melaksanakan ibadah solat jumat. Abi bergegas menuju motor kesayangannya setelah tadi pamit pada ibunya.
"Wa'alaikum salam, hati-hati mas" ucap ibunya mengantarkan anaknya sampai pintu gerbang.
.
.
.
"Assalamualaikum.." Suara Abi dari arah ruang tamu. Ocha melirik jam dinding di ruang tv nya. Jam 9 pagi.
"Gila! Sepagi ini aku harus pergi sama "si bapak guru", huh kesal!!"
"Wa'alaikum salam.. masuk nak Abi, duduk dulu, Ocha sudah siap dari tadi, bentar ya, tante panggilin dulu" ucap mama Reni penuh semangat. Ia selalu bersemangat jika Abi datang ke rumahnya.
"Udah ganteng, soleh, sopan, pekerjaan mapan (PNS), mantu idaman banget lah pokoknya. Sudah gak sabar rasanya pengen punya mantu super komplit gini" pikir mama Reni.
Mama Reni lalu masuk ke dalam memanggil Ocha yang masih asyik tiduran sambil memainkan ponselnya di sofa ruang tv.
"Ya ampun nih anak bukannya siap-siap, malah tiduran gitu. Ayo bangun, bajunya nanti kusut" ucap mama Reni sambil menarik tangan Ocha agar bangun dari posisinya.
__ADS_1
Baju yang dikenakan Ocha saat ini adalah pilihan mamanya. Awalnya seperti biasa Ocha hanya mengenakan celana jeans dan kemeja panjang. Mama Reni malah ngomel-ngomel melihat penampilan anaknya yang benar-benar jauh dari feminim. Akhirnya mama Reni, mengobrak-abrik lemari pakaian anaknya. Tapi ternyata nihil. Semuanya tidak ada yang menarik menurut mama Reni, hanya cardigan panjanglah akhirnya yang menurut mama Reni bisa menambah penampilan Ocha lebih manis.
"Bikin ribet aja sih pake ginian!" dengus Ocha pada mamanya kesal.
"Tante kita jalan dulu, assalamualaikum" ucap Abi pamit pada mama Reni.
"Hati-hati ya mas Abi, Ocha cepet pegangan sama Abi! Nanti jatuh loh!" ucap mama Reni.
"Iya!!" Ocha dengan rasa enggan akhirnya menurut perintah mamanya. Ia memegang ujung jaket di pinggang milik Abi.
"Ya ampun nih anak!" mama Reni gereget melihat kelakuan anaknya, akhirnya mama Reni menarik tangan Ocha ke pinggang Abi, hingga melingkar sempurna di badan Abi.
"Nah kalo gini kan aman! Gak bakalan jatoh!" ucap mama Reni melihat tangan anaknya memeluk Abi. Pipi Abi merona malu karena harus berpelukan di depan calon mertuanya, lebih tepatnya dipeluk paksa oleh Ocha.
"Untung udah pake helm, kalo gak, bisa keliatan mukaku malu" gumam Abi dalam hati.
"Mau kemana dulu Cha?" tanya Abi di perjalanan.
"Ke toko buku dulu" jawab Ocha. Ia sudah melepaskan pelukannya sejak keluar dari komplek rumahnya. Duduk agak menjauh ke belakang.
"Apa?! Gak kedengeran!" ucap Abi dibalik helmnya. Ia tidak mendengar ucapan Ocha, karena suara bising kendaraan dan posisi Ocha yang terlalu jauh dari pendengarannya. Akhirnya dengan terpaksa Ocha mendekatkan wajahnya ke bahu Abi supaya Abi bisa mendengar ucapannya.
"Ke toko buku dulu" ucap Ocha.
"Oke" jawab Abi singkat. Saat Ocha hendak memundurkan posisinya ke belakang, tiba-tiba Abi mendadak menarik rem motornya. Sehingga dengan begitu, tubuh Ocha mendadak menabrak punggung Abi dan refleks tangannya memeluk Abi. Tanpa sadar Ocha mencubit pinggang Abi.
__ADS_1
"Aw..! Sakit! Maaf gak sengaja ngerem, tadi ada kucing lewat jadi aku ngerem mendadak" jawab Abi sambil meringis, mengusap pinggangnya yang sakit dicubit Ocha.
Ocha bersungut-sungut kesal.
"Bilang aja nyari kesempatan, iya kan?!" dengus Ocha kesal.
"Beneran tadi ada kucing lewat, suer deh kalau bohong mas berani dilamar Ocha!" ucap Abi menggoda Ocha.
Ocha tersipu malu mendengar kata-kata terakhir Abi. Biar bagaimanapun, meski tingkahnya tomboy tapi hati Ocha adalah hati seorang perempuan, yang akan tersipu jika disinggung tentang lamar-melamar. Ocha dengan cepat menetralkan rona pipinya, agar tidak terlihat oleh Abi. Tapi sayangnya Abi sudah melihat rona merah di wajah Ocha, ia melihatnya melalui kaca spion. Abi tersenyum senang.
"Sedikit demi sedikit kamu mulai memberi celah untukku di hatimu, pantang menyerah menaklukkanmu! Semangat Abi!" gumam Abi dalam hati.
"Jadi masih mau lanjut gak nih ke toko bukunya?!" tanya Abi.
"Ya iyalah! Pake nanya lagi!!" jawab Ocha masih kesal.
Abi melajukan lagi motornya menuju toko buku yang Ocha mau. Toko buku di dalam sebuah mall.
* * *
awalnya Ocha pake baju ini, tanpa jilbab tentunya ya, soalnya Ocha belum pakai jilbab, tapi dia nanti pakai jilbab di episode berapa yaa ahahaaa ups..jadi spoiler sendiri deh
terus disuruh ganti baju sama mamanya yang rempong.. jadi pake baju ini ..
__ADS_1