
>>POV Abi<<
Aku tak pernah bersikap semarah ini pada perempuan manapun semenjak kepergiannya delapan tahun silam. Entah mengapa, hatiku bergolak jika menyangkut Ocha. Apakah ini yang di sebut bucin.
Aku tak menghiraukan seruannya kala aku ngerem mendadak. Sejujurnya aku tak mau melakukan itu, tapi hatiku masih terlalu panas mendengarnya pergi dengan laki-laki lain.
"Bro! Ngelamun aje lu!" suara Bagas menyadarkan lamunanku. Aku sengaja datang ke bengkel Bagas untuk meredam rasa cemburuku yang tak karuan. Berkutat dengan perangkat lunak dari komputer menjadi pilihanku untuk melupakan rasa cemburuku pada Ocha.
"Ye, dari tadi gue nanya, lu mau kopi kagak?" tanya Bagas menawariku kopi. Aku tak lantas menjawab. Tak ingin minum ataupun makan, suasana hatiku sedang badmood.
"Ga usah!" tampikku singkat, masih dengan mesin printer yang sedang ku utak-atik.
"Bro! Kapan lu merit? Lu kan udah tunangan, sebaiknya dipercepat. Nih gue kasih tau ya sama lu! Kalo orang udah tunangan tuh banyak godaannya bro. Godaan pasangan entah dari elu nya yang gak kuat iman atau sebaliknya dari neng Siti, eh maksud gue Ocha" ucap Bagas, telingaku mendengarkan meski mata, pikiran dan hati sedang tidak bisa fokus.
"Selain itu juga, ujian keluarga, entah tiba-tiba kedua keluarga berselisih paham, juga ujian keuangan" lanjutnya setelah menyeruput kopi hitamnya.
Sejenak ku hentikan aktivitas mengotak-atik mesin printer yang rusak dan menoleh ke arah Bagas. Ada kekhawatiran dalam hatiku perihal godaan-godaan yang akan datang dalam hubunganku dengan Ocha.
"Jadi menurut lu, gue harus bagaimana?" ucapku akhirnya tertarik membicarakan lebih lanjut tentang rencana pernikahanku pada Bagas.
"Lah, lu kok nanya gue? 'Kan yang lebih tau hubungan lu dengan Ocha 'kan kalian berdua. Gue cuma ngingetin sebagai sobat lu, supaya jangan lama-lama, hawatir angin ribut dateng ke hubungan kalian" tuturnya.
"Sebenernya ... gue lagi sedikit ribut sama Ocha" ucapku perlahan.
"Tuh 'kan bener apa yang gue bilang! Ini awal mula percikan api dalam hubungan. Kalau dibiarin entar malah tambah jadi kobaran gede. Buruan lu selesaikan, jangan disepelekan!" ucap Bagas.
Aku terdiam mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Bagas.
"Oh ya, gue lupa aja mau bilang sama elu. Minggu depan alumni kelas kita mau ngadain reuni. Elu mau datang kagak?"
"Reuni dimana? Siapa yang ngadain?" tanyaku, sejenak pikiranku teralihkan.
"Rencana sih di hotel Prima. Ketua panitianya si Gilang, ketua kelas kita dulu. Lu mau datang gak? Kalau gue sih bakal dateng, lumayan cuci mata sejenak" ucapnya terkekeh. Langsung saja kulempari dia dengan obeng yang ku pegang dari tadi.
"Sialan lu! Gue aduin lu sama bini!" ujarku.
"Becanda bro! Serius amat yak. Susah emang becanda sama yang lagi galau"
__ADS_1
Aku menilik jam tanganku. Jam empat sore! Aku harus menjemput Ocha. Meskipun Ocha sebelumnya tak meminta untuk dijemput, tapi aku akan menjemputnya sekalian menyelesaikan kesalahpahaman kita tadi.
"Udah sore, gue mau balik! Mau jemput Ocha dulu, siapa tau udah kelar jam mengajarnya. Nih titip kerjaan gue, terusin ya?!" ujarku sembari menunjuk ke arah mesin printer yang belum selesai kuperbaiki.
"Woi, jawaban lu apa? Mau ikut reunian kagak?!" seru Bagas.
"Nanti gue pikirin dulu!" ucapku.
Aku mengeluarkan ponselku dan menekan tuts memanggil nomer Ocha.
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi" suara operator dari seberang ponselku.
Ponsel Ocha tidak aktif! Apakah ia marah padaku karena perlakuanku saat mengantarnya tadi? Beberapa kali ku telepon, masih sama saja jawabannya oleh operator. Aku memutuskan untuk langsung saja meluncur ke kampus Ocha.
.
.
Aku sudah berada di depan kampus Ocha. Kampus nampak lengang, tak banyak mahasiswa yang lalu lalang, hanya tinggal beberapa mahasiswa yang masih nongkrong di warung pinggir jalan.
"Maaf neng, jurusan pendidikan matematika sebelah mana ya?" aku akhirnya berinisiatif untuk mencari tempat Ocha mengajar dengan bertanya pada salah satu mahasiswi yang sedang berjalan melewatiku.
"Permisi ... Haloo!!" aku mengibaskan tanganku di depan mata mahasiswi itu.
"Oh ya, maaf. Mas bisa lurus aja, terus nanti ada kantin lalu mas belok kanan. Di situ ruang dosen jurusan pendidikan matematika" ujarnya memberi arahan padaku.
"Terima kasih ya, neng" aku tak menghiraukan lagi apa yang dikatakannya setelah ucapan "sama-sama" terlontar dari mulutnya. Aku langsung bergegas dengan langkah cepat mengikuti jalan yang di arahkan oleh mahasiswi tadi.
"Semoga Ocha masih di kampus dan belum memesan ojek untuk pulang" lirihku.
Sampailah aku di kantin yang di maksud oleh mahasiswi tadi dan sekarang tinggal belok kanan menuju ruang dosen.
Langkahku terhenti ketika seseorang menyapaku.
"Eh kak Abi, ketemu lagi ya kita di sini. Sungguh apa ini pertanda kita jodoh ya?" ucapnya.
Aku berusaha mengingat siapa gadis di depanku ini. Oh ya, Maya! Teman yang Ocha sebut cabe-cabean.
__ADS_1
"Kakak ganteng, mau kemana? Maya temenin mau gak?" ucapnya dengan tanpa malu ia melingkarkan tangannya ke lenganku.
Sontak aku menarik tanganku agar tak disentuh olehnya.
"Tenang aja kak, aku masih single kok, jadi gak akan ada yang marah"
Lagi-lagi ia menggaet lenganku, bahkan bertambah gencar dengan menempelkan benda kembar miliknya ke lenganku. Sumpah aku risih sekali! Dia terus berusaha bergelayut mesra di lenganku.
" Maaf, ini di tempat umum, tolong bersikap yang sopan!" sahutku. Aku mati-matian melepaskan tanganku dari gelayut manja dirinya.
"Oh ya, benar kak! Kalau begitu, kita pindah ke sana aja yuk kak! Pindah ke tempat sepi lebih asyik!" ujarnya masih saja merangsek ke lenganku dan menggesek-gesekkaan benda kembar miliknya. Aku frustasi! Tiba-tiba ....
"Maya!" terdengar suara teriakan yang sangat lantang memekakkan telingaku. Bergaung di koridor kantin.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Seketika terperanjat melihat siapa yang berteriak.
.
.
🌺 hai readers..
Hayo loohh siapa yang teriak, bakal ada macan ngamuk nih 😆
Niat hati up untuk tgl 21 mei, tapi apalah dayaku ternyata hari semakin larut dan jam dinding sudah lewat dari jam 12 malam. Dan akhirnya up untuk tgl 22 deh. Maafkeun ya..
Author juga ingin menambahkan visual, tapi apalah daya author yang labil tak bisa memilih satupun oppa korea yang cocok 😄 jadi visualnya sendiri aja ya, yang jelas babang ganteng Abi gantengnya gak ketulungan sampe mahasiswi di kampus Ocha saja terpana melihat ketampanannya 😆
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Saat ini author sedang berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕