Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 87


__ADS_3

>>Main ke Perancis ketemu Nisa lagi<<


"Ini enak, apa nama makanan ini?" tanya Edy saat mencicipi masakan buatan Nisa.


Sore tadi, Nisa pulang cepat dari kampusnya dan langsung ke pasar dekat rumahnya. Ia membeli beberapa bahan masakan untuk memasak makan malamnya.


Ia akhirnya memutuskan memasak makanan yang mudah didapat bahan-bahannya.


"Ini adalah makanan kesukaanku Nasi Goreng Spesial" ucap Nisa. Ia menghidangkan nasi goreng dengan isinya terdapat sosis, udang, bakso sapi yang sudah di iris tipis ditambah dengan potongan wortel yang kecil-kecil. Ia tidak bisa memasak masakan Indonesia yang kaya rempah sebab untuk mendapatkan rempah-rempah di Perancis sangatlah sulit. Kalaupun bisa ditemukan, tentulah harganya sangat mahal.


"Maaf, aku tidak bisa memasak masakan khas Indonesia. Sangat sulit mendapatkan bahan-bahan inti untuk masakan Indonesia. Jadi, aku hanya bisa menyajikan nasi goreng" ucap Nisa.


Tadi sore, Edy sangatlah terkejut ketika akhirnya ia mendapat telpon dari Nisa yang bersedia mengundangnya makan malam di rumahnya.


"It's oke. I love it. Ini lezat" ucap Edy di tengah-tengan kunyahannya. Ia menyantap masakan Nisa dengan lahap. Ia sangat menikmati makan malamnya.


Nisa tersenyum tipis, ia tak pernah sekalipun memasak masakan untuk laki-laki manapun. Tapi entah apa yang memotivasinya sehingga mau memasak makanan untuk Edy. Mungkin lebih kepada sebagai bentuk balas budi karena Edy sudah mau berteman dengannya.


Edy menandaskan makanannya. Ia meneguk teh hangat yang disuguhkan Nisa. Ia mengernyitkan dahi heran.


"Apakah kamu selalu meminum air teh hangat setiapkali sesudah makan malam?" tanyanya penasaran.


"Tidak juga, terkadang di pagi hari kami minum teh hangat untuk menyegarkan badan. Apakah kamu mau menggantinya dengan air putih?" ucap Nisa.


"No. It's oke. Ini sudah cukup. Terima kasih banyak" ucap Edy kemudian membantu Nisa merapikan piring bekas mereka makan malam untuk kemudian di cuci dalam bak pencucian piring.


"Biar aku saja. Kau duduk saja di sana" ucap Nisa menampik bantuan Edy yang ingin membantunya mencuci piring.


"No. Kau duduk saja. Biar saya cuci piring. Saya sangat berterima kasih untuk makan malam ini" ucap Edy sambil mencengkeram bahu Nisa dan menggiring tubuh Nisa agar duduk tenang di kursi makan.


Nisa menurut saja, ia memperhatikan Edy yang dengan cekatan mencuci perabotan dapur. Dengan hati-hati, Edy meletakkan piring-piring yang sudah bersih ke atas rak piring tak jauh dari bak pencucian piring.


"Jangan menatap saya seperti itu. Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. It's because saya tinggal sendiri sudah sejak lama" ucapnya ketika pandangan mereka tanpa sengaja bersirobok. Nisa memalingkan wajah, karena ketahuan memandangi Edy yang sedang mencuci piring. Pipinya bersemu.


"Your parents?" tanya Nisa kemudian.


"They all passed away from longtime ago" ucapnya kemudian mengelap tangannya yang basah setelah selesai mencuci piring.

__ADS_1


"Oh, I'm sorry .... " ucap Nisa menyesal menanyakan orang tua Edy yang ternyata sudah meninggal.


"It's Ok. Sudah lama sekali mereka pergi, jadi saya sudah terbiasa sendiri sekarang" terangnya. Ia menarik kursi makan di depan Nisa kemudian duduk sambil matanya tak luput menatap Nisa lekat-lekat.


"Now, how about you? Saya ingin mendengar banyak hal tentangmu" ucap Edy.


"What's about me?" tanya Nisa balik.


"Yeah, saya ingin tahu more about you " ucapnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Apa yang ingin kau ketahui? Seperti yang kau tahu, aku orang Indonesia yang kuliah di sini. Apa lagi?" ucap Nisa.


"Boyfriend?" tanya Edy tiba-tiba.


Nisa mendelik menatap Edy lekat, ia tak menyangka bhwa Edy akan langsung menanyakan tentang status dirinya. Nisa terdiam.


"Oke, saya ubah pertanyaannya. Apakah kamu mau menjalin relationship with me?" ucapnya kemudian membuat mata Nisa terbelalak kaget.


"Aku ... gak tau" ucap Nisa terbata, ia bingung apa yang harus ia jawab. Pertanyaan itu terlalu mendadak baginya. Ia sama sekali belum terpikir tentang menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.


.


.


Seminggu setelah makan malam, Nisa tak lagi bertemu dengan Edy, mungkin dikarenakan salah satunya adalah jadwal kuliahnya yang padat dengan seabrek tugas-tugas. Seperti hari ini, Nisa pulang sangat larut jam sembilan malam. Biasanya jadwal kuliah berakhir pada jam delapan malam, namun Nisa harus ke toko buku mencari referensi buku-buku untuk tugas-tugas kuliahnya.


Nisa menyusuri taman dekat rumahnya sendirian setelah selesai membeli buku tadi. Ia berusaha secepat mungkin berjalan agar segera sampai di rumah. Ada perasaan was-was selama perjalanan pulang, apalagi ia berjalan menyusuri jalanan pulang hanya ditemani lampu taman yang berjejer di sepanjang jalan.


Sedari tadi perasaannya tidak enak, berkali-kali ia menoleh ke belakang, ia merasa seakan-anak ada orang yang mengikutinya. Semakin kencang degupan jantungnya memompa seiring cepatnya laju langkahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya. Sontak Nisa berteriak histeris.


"Aaaaaa ... !" teriakan Nisa memekakan telinga.


"Hei, calmdown, it's me" ucap seseorang yang suaranya sangat dikenali oleh Nisa. Nisa mengangkat wajahnya dan melihat siapa orang yang di hadapannya. Ternyata Edmund!


Dengan gerakan sangat cepat, Nisa memeluk Edmund. Perasaan kalut dan takut menyeruak dari hatinya.


"Tenanglah, tidak ada yang terjadi di sini. Tenanglah ...." Edy mengelus punggung Nisa berusaha menenangkan ketakutan Nisa.

__ADS_1


Nisa perlahan melepas pelukannya dari Edy.


"Kamu kenpa ada di sini?" tanya Nisa masih dengan sisa-sisa perasaan takutnya.


"Kamu sangat takut sekali ada apa? Saya berniat ke rumah kamu untuk memberikan sesuatu, tetapi saya tadi tidak sengaja melihat kamu keluar dari toko buku. So, saya mengikutimu dari belakang" ucap Edy menjelaskan kenapa ia ada di taman.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa ada yang mengikutiku semenjak dari toko buku tadi" ucap Nisa.


"I think, you must be accompanied at all times" ucap Edy.


"Would you like accampany by me all the time?" tanya Edy.


"Bolehkah?" akhirnya pertanyaan sekaligus permintaan itu yang terlontar dari mulut Nisa. Ia tak bisa membayangkan lagi jika kelak ia akan mengalami hal serupa namun tak ada Edy di sampingnya.


"Oke, from now on. Saya akan mengantarmu pulang kuliah" ucap Edy dengan nada bersemangat.


.


.


.


🌺 hai readers..


Wah bakal seru nih, babang Edy udah langsung kepo tentang boyfriend sama Nisa.


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi. Maafkan beberapa hari author gak up, dikarenakan adanya kendala di dunia nyata


Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...


babay....😘


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕

__ADS_1


__ADS_2