Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 71


__ADS_3

>>author<<


#flashback on Abi delapan tahun yang lalu


Gadis itu terdiam saat Abi mengutarakan maksud baiknya untuk melamar. Ia tertunduk sedih, tak sedikitpun rona bahagia terpancar di wajahnya.


Abi sudah lama memikirkan untuk melamar gadis itu, hanya saja terhalang oleh satu prinsip Abi yaitu ia tak 'kan menjadikan urusan cinta sebagai penghalangnya menjadi seorang sarjana. Dan kini saat studinya sudah berakhir, ia memberanikan diri untuk melamar gadisnya.


"Kamu kenapa? Sakit?"


Abi memegang dahi gadis di sebelahnya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Aku ... aku gak apa-apa kak" ucap gadis itu lesu.


Devi nama gadis itu. Mahasiswi tingkat dua itu adalah kekasih Abi. Mereka bertemu saat masa ospek dulu. Keduanya di pertemukan dengan status yang berbeda. Devi sebagai mahasiswi baru dan Abi adalah seniornya di tingkat tiga.


Awal pertemuan yang sangat manis. Kala itu Devi terlambat menghadiri hari pertamanya ospek. Ia menanti di halte bus sambil duduk tidak sabaran. Abi yang sedari tadi duduk di sebelahnya memperhatikan penampilan Devi.


Rambut kepang dua dengan pita warna warni. Kemeja putih dan rok pendek berwarna hitam menjadi pakaian Devi saat itu.


"Kamu mahasiswi baru?"


Abi menyapa gadis itu dengan sebuah pertanyaan yang seharusnya sudah tau pasti jawabannya.


"Iya kak, aku mahasiswi baru di kampus A, aku jurusan tekhnik informatika" jelasnya.


Sebuah pertanyaan singkat dengan jawaban yang sempurna lengkap. Abi tersenyum tipis. Pikirnya, gadis di hadapannya tidak punya benteng perlindungan sama sekali terhadap identitasnya, mungkin jika Abi melanjutkan ke pertanyaan yang lebih personal ia akan mendapatkan jawaban dengan nomer ponsel dan alamat rumah yang lengkap.


"Aduh, angkotnya kok lama banget sih!" keluhnya. Berkali-kali gadis itu menengok jam tangannya.


Abi duduk di halte itu sebenarnya tidak sedang menunggu angkot ataupun kendaraan umum lainnya. Ia hanya bosan berkeliaran di kampusnya, mengingat hari ini tak ada jadwal mata kuliah.


Motor ia parkirkan di samping halte agar tidak mengganggu hilir mudik kendaraan lain.


Lama gadis itu menanti angkot, tapi angkot seolah tidak lagi melewati jalan itu. Abi yang tadinya acuh terhadap apa yang dikeluhkan gadis itu akhirnya dengan rasa kasihan menawarkan tumpangan.


"Mau aku antar?" gadis itu menoleh ke kiri. Ia dengan mata berbinar sontak langsung mengiyakan tawaran Abi. Abi tersenyum miris. Kok, ada gadis yang begitu ceroboh dengan mudahnya menerima tawaran laki-laki yang baru ia kenal, pikir Abi.


"Ayo naik!" seru Abi pada gadis itu agar segera menaiki motornya.

__ADS_1


Abi terperanjat seketika saat gadis itu dengan entengnya melingkarkan tangannya pada pinggang Abi. Dengan segera Abi berusaha menurunkan tangan gadis itu dari pinggangnya agar berpegangan hanya pada ujung bajunya saja.


"Oh ya, maaf kak, aku sudah kebiasaan kalau naik motor harus peluk, soalnya takut jatuh" ucapnya cengengesan tanpa ada beban.


Dengan berat hati akhirnya Abi mengijinkan gadis itu memeluknya dari belakang.


Hanya perlu lima belas menit akhirnya mereka tiba di kampus. Gadis itu turun dari motor.


"Makasih kak, namaku Devi" ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.


"Reza .... " ucap Abi menyambut tangan Devi.


"Oh ya, makasih ya kak Reza atas tumpangannya. Aku pergi dulu ya, daaahh ..... !" ucapnya seraya melambaikan tangannya sambil setengah berlari meninggalkan Abi.


"Gadis yang ramah, bahkan terlalu ramah" lirih Abi.


"Woy bro! Ngelamun aja pagi-pagi gini! Ke aula kampus yuk! Kita cuci mata mumpung masih pagi" seseorang menepuk bahu Abi. Ternyata Nugi, sahabat karibnya.


"Ke aula? Bukannya aula dipakai untuk ospek anak baru ya? Mau ngapain kita ke sana?" selidik Abi.


"Justru itu bro! Kita cuci mata, cari yang seger-seger. Di sana banyak cewe-cewe masih fresh, masih polos" ujarnya.


"Ayolah bro! Lu tuh harusnya sekali-kali gabung deh sama kita-kita biar otak lu tuh seger. Isinya gak belajar melulu" ujarnya.


Dengan berat hati, Abi mengikuti langkah kaki Nugi setelah sebelumnya ia memarkirkan motornya.


"Tuh kan bro, atmosfir di sini sangat menenangkan jiwa, haaaah .... " ucapnya sembari menghirup udara dan menghembuskan layaknya olahraga pernafasan.


"Hei, hei, what's up bro!" sapa Gilang kemudian berjabat tangan ala anak gaul.


"Kalian gak mau ikut kita ngasih ospek ke anak baru?" tanya Gilang.


"Aku di sini aja nonton dari jauh" tolak Abi. Ia merasa malas berurusan dengan anak baru.


"Lu sih kebiasaan banget, jadi penonton mulu. Ayolah ... ! Sesekali menikmati hidup, sampai sekarang tingkat tiga, lu masih aja jomblo. Ayo! Gue kenalin dengan anak-anak baru, kali aja lu dapet jodoh tahun ini" ujar Gilang.


Terus-terusan didesak oleh kedua sahabatnya itu, akhirnya Abi mengikuti mereka mendekati kerumunan anak baru.


"Oke, perhatian semuanya! Selamat pagi semua! Oke, sesi perkenalan kita tambah sedikit ya, ada kakak senior kita yang baru saja datang dari khayangan. Oke, langsung saja silakan memperkenalkan diri!" seru seseorang dari megaphone nya, ialah Bagas sebagai ketua panitia ospek.

__ADS_1


Riuh rendah suara mahasiswa baru saat Bagas memperkenalkan Abi dan Aditya sebagai kakak senior yang datang dari khayangan.


"Hai semuanya! Gue Aditya Nugraha, panggil saja gue Nugi yang ganteng" ucapnya disambut dengan suara teriakan "wuuu" oleh mahasiswa baru.


"Dan di sebelah gue yang bermata sipit ini, oppa-oppa versi Indonesia, namanya kak Reza" ucap Nugi memperkenalkan Abi.


Respon Abi hanya menyunggingkan senyumannya dan melambaikan tangan. Sontak membuat seisi aula bergemuruh mendapat senyuman dari kakak senior yang tampan. Teriakan-teriakan gadis-gadis menyuarakan keingintahuannya salah satunya adalah status Abi.


"Wow! Sepertinya ada yang bakal mendapat antrian panjang tanda tangan, bukan begitu kak Reza?!" suara Bagas mengambil alih suasana yang ramai bertambah ramai mendengar kata "antrian tanda tangan". Sontak Abi melotot ke arah Bagas dengan maksud ia tak ingin ikut serta dalam daftar kakak senior yang harus dimintai tanda tangannya.


"Baiklah, sebelum kita mulai hunting tanda tangan kakak senior, kalian boleh break makan dan minum dua puluh menit. Setelah itu, kalian boleh kembali lagi berkumpul di aula ini" ujar Bagas memberi intruksi kegiatan anak-anak baru.


Kerumunan barisan mahasiswa baru pun pecah. Beberapa dari mereka ke luar aula menuju toilet ada juga yang mengarah ke kantin.


"Kak Reza boleh minta tanda tangannya?"


Tiba-tiba beberapa gadis mendekati Abi.


.


.


.


🌺 hai readers..


Mulai bab ini hingga beberapa bab ke depan akan menceritakan tentang masa lalu Abi. So simak ye, semuanya berkaitan dengan masa kini nya Abi. Selamat membaca ....


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...


babay....😘


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕

__ADS_1


__ADS_2