
>>author<<
Ocha memasukkan beberapa buku dan ponselnya ke dalam tas ranselnya. Hari ini Ocha ada kuliah pagi. Ia sudah bangun jam 5 subuh tadi karena suara gedoran pintu kamarnya oleh sang mama. Karena memang sesuai permintaannya semalam ia meminta mamanya untuk membangunkannya supaya ia tidak terlambat lagi di mata kuliah kali ini. Sudah satu kali ia terlambat di mata kuliah si dosen killer, jadi ia tak mau terlambat untuk kedua kalinya.
"Ma, nanti sore Ocha pulang dari kuliah mau mampir ke rumah Nisa dulu ya" ucap Ocha dengan mulut penuh dengan roti sandwichnya. Ia menyantap sarapannya dengan terburu-buru.
"Aduh Ocha... kalo mulut masih penuh makanan tuh jangan ngomong dulu. Telan dulu baru ngomong. Ampun deh nih anak gak ada berubahnya!" ucap mama Reni sambil menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan anaknya.
"Sebelum magrib harus udah ada di rumah ya? Mama ga mau kena omel papa kalo tau kamu masih keluyuran sampe malem" ucap mama Reni memastikan agar Ocha menurut perintahnya.
Hari ini papa Irawan ada dinas ke luar kota, makanya mama Reni ga mau Ocha pulang terlambat karena kalau nanti malam suaminya datang dan menanyakan Ocha tapi ternyata Ocha masih keluyuran di luar bisa-bisa ia terkena marah suaminya.
"Jam 7 deeh ya ma, Ocha bakal udah di rumah jam 7, boleh ya ma nawar dikit hehe" ucap Ocha berusaha merayu mamanya agar membolehkannya pulang setelah Maghrib.
"Ga boleh, pokoknya sebelum Maghrib udah ada di rumah, titik!" tegas mama Reni, omongannya tidak bisa ditawar lagi.
"Ya udah deehh.. Ocha berangkat dulu ya ma" Ocha bangkit dari tempat duduknya kemudian mencium tangan mamanya.
.
.
.
"Makasih pak Mul" ucap Ocha saat Pak Mul pedagang baso di kantin kampusnya saat ia menyuguhkan semangkok baso di depan Ocha.
"Eh Nis, kamu hari ini kuliah sampe jam berapa? Entar sore aku mampir ke rumah kamu yah, pengen curhat nih" ucap Ocha pada sahabat karib semasa SMA nya. Nisa tidak satu jurusan dengan Ocha, ia mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris.
"Sampe jam 2 kayanya, soalnya mata kuliah terakhir diundur jadi besok. Tapi pulangnya kita ke toko buku dulu ya. Aku mau beli buku referensi untuk bahan makalahku" ucap Nisa.
"Oke deh fix, nanti aku tunggu kamu di depan gerbang kampus ya Nis" ucap Ocha.
__ADS_1
"Oke!" ucap Nisa megacungkan jempolnya.
.
.
.
"Kamu nyari buku apaan sih Nis, lama banget nyarinya!" keluh Ocha pada Nisa saat mereka tengah menyusuri lorong buku bertulisan College.
Sudah setengah jam Nisa mencari buku yang dibutuhkannya di beberapa rak buku, namun belum juga ketemu. Ocha mulai jenuh berada di tengah-tengah tumpukan buku.
"Aku tunggu depan pintu keluar ya, bete nungguin kamu!" Ocha berlalu meninggalkan Nisa yang sedang sibuk mencari buku.
"Sialan! Brengsek!" maki Ocha geram, matanya terbelalak melihat seorang laki-laki dan perempuan sedang berjalan bergandengan tangan di seberang jalan. Bahkan dengan sengaja si perempuan bergelayut manja pada lengan lelaki itu. Terlihat rona bahagia di wajah perempuan itu.
Lelaki itu adalah Doni pacarnya, ia berjalan menggandeng mesra seorang perempuan di sebelahnya yang keliatan dari usianya lebih muda jauh di bawah usia Ocha. Seperti usia anak SMA. Sialan!
"Brengseekkk...!!" teriak Ocha semakin geram.
"Ada apa Cha, kok teriak-teriak?!" tanya Nisa ketika sudah keluar dari toko buku, ia mendengar Ocha memaki seseorang.
Air mata Ocha sudah tak terbendung lagi, ia langsung memeluk Nisa, menangis sejadinya di bahu Nisa. Nisa berusaha menenangkan sahabat karibnya itu, dengan memapahnya masuk ke sebuah cafe di dekat toko buku itu.
Setelah duduk dan agak tenang, Ocha barulah menceritakan kejadian di depan toko buku tadi. Isak tangis Ocha pecah lagi tak kuasa menahan nyeri di dadanya. Tak menyangka cinta pertamanya tega menghianatinya. Nisa mendengarkan cerita Ocha dengan rasa iba, sesekali ia mengusap punggung tangan Ocha yang mengusap air matanya. Ia geram pada kelakuan Doni pacar Ocha. Bagaimana tidak, ia sangat tahu Ocha sangat mencintai Doni cinta pertamanya.
Doni adalah cinta pertama Ocha semenjak SMP. Ia sangat mencintai Doni hingga kuliahpun masuk ke universitas yang sama. Hanya saja beda jurusan, Doni mengambil jurusan pendidikan bahasa Indonesia.
Sifat Ocha yang tomboy itulah yang tak mudah bagi Ocha membuka hati terhadap laki-laki. Ia tak pernah percaya pada cinta monyet ataupun cinta pada pandangan pertama, menurutnya itu semua hanya ada pada novel roman picisan, tidak akan terjadi pada hidupnya. Tapi suatu hari Doni datang dengan pesonanya, ia mampu meluluhkan hati keras Ocha.
Doni yang merupakan anak pindahan Jakarta, dengan parasnya yang tampan dan mata coklatnya yang terang mampu membuat Ocha jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh ironis, seorang Ocha yang tidak percaya pada cinta pandangan pertama ia malah mengalaminya sendiri. Seperti sebuah sihir yang meruntuhkan benteng pertahanan di hatinya.
__ADS_1
"Udah Cha jangan nangis lagi ya" hibur Nisa "Nanti kamu coba telpon Doni dan minta penjelasan padanya kenapa akhir-akhir ini dia menghindari kamu" ucap Nisa memberikan solusi pada sahabat karibnya itu.
"Aku takut Nis" ucap Ocha.
"Kamu takut kenapa?" tanya Nisa.
"Temani aku ya bertemu Doni" ucap Ocha masih tersisa isak tangis di sela ucapannya.
"Iyaaa pasti aku temani, kamu jangan sedih lagi ya". Ocha mengangguk pelan.
"Kita pulang yuk udah sore nih, kamu mau langsung pulang atau mampir ke rumahku?" ucap Nisa.
"Aku mau langsung pulang aja Nis, moodku lagi jelek" ucap Ocha.
"Kamu pulang naik apa? Mau aku antar?" ucap Nisa menawarkan diri.
Saat ke toko buku tadi, Ocha menumpang di skuter milik Nisa. Dari rumah menuju kampus, Ocha memang sengaja tidak mengendarai skuter kesayangannya, karena ia berniat mau main ke rumah Nisa. Tapi karena kejadian tadi, mood Ocha berubah, ia hanya ingin pulang menenangkan diri, memeluk bantal doraemonnya dan berusaha menguatkan hati untuk bertemu dengan Doni nanti.
"Ga usah Nis, aku pesan Grab bike aja"
"Ya udah, aku akan pulang setelah pesenan Grab bike mu datang" ucap Nisa.
Beberapa menit kemudian, tidak sampai 15 menit, seorang driver Grab mendatangi mereka.
"Mba ini atas nama Siti Kautsar Irawan?" tanya driver itu pada Ocha.
Ocha sedikit menggerutu, pasalnya ia mendengar nama aslinya di sebut. Siti? Huh! Ia kesal sekali jika nama itu disebut, heran juga kenapa mama dan papanya harus memberi nama Siti pada dirinya. Nama jadul..!!
"Ya saya mas.. " ucap Ocha kemudian berpamitan berpelukan dengan Nisa.
"Take care ya Cha, be strong!" ucap Nisa sambil mengeratkan pelukannya berusaha menguatkan sahabatnya itu. Ocha mengangguk lemah lalu melambaikan tangan pada Nisa.
__ADS_1