Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 9


__ADS_3

>>still Ocha<<


"Kayaknya kita udahan aja ya Cha.." ucap Doni. Setelah kami kemudian pindah tempat duduk ke meja yang lebih sepi, di sudut ruangan, meninggalkan Nisa yang duduk sendirian di meja tengah kantin.


Seperti ada sebuah pisau yang menghunus lurus ke jantungku. Sakit..!


"Putus maksud kamu? Kenapa Don?" tanyaku setengah menahan emosi di tenggorokanku.


"Iya putus! Aku lelah sama kamu. Aku bosan!" ucapnya dengan enteng. Tak ada rasa bersalah sama sekali di raut wajahnya.


"Bosan katamu?" ucapku menahan gejolak amarah yang memuncak. Sungguh aku sudah berada di level ingin meluapkan amarahku pada muka kurang ajarnya.


"Iya bosan.. Aku bosan pacaran sama kamu gitu-gitu aja gak ada kemajuan sama sekali" ucapnya, menghela nafas kemudian melanjutkan ucapannya.


"Pacaran sama kamu gak ada rasanya!" ucapnya.


Sadis! Sungguh kata-kata yang sadis di telingaku.


"Maksud kamu?" tanpa kusadari satu bulir air mata jatuh dari pelupuk mataku. Buru-buru kuhapus, sebelum Doni melihatku.


"Dulu mungkin aku masih bisa nerima sikapmu yang cuek saat pacaran sama aku. Kamu gak mau dipegang tangannya, gak mau ku peluk bahkan kamu menolak ciuman di pipi dariku. Aku bisa terima itu mungkin karena kita masih dalam norma anak sekolah. Tapi sekarang kita udah beda Cha! Kita bukan anak kecil lagi! Kita udah kuliah bahkan kita juga udah sama-sama di semester akhir, tapi sikap kamu padaku belum berubah! Masih sama saja seperti waktu sekolah dulu! Kamu masih saja memasang benteng norma-norma sekolahmu yang kolot itu! Aku capek pacaran sama kamu!" ucap Doni, menyakitkan memang.


Sungguh aku sangat terkejut dengan alasan Doni mencampakkanku, aku tak menyangka begitu picik pikirannya tentang arti cinta pada hubungan kita. Entah siapa yang sedang ku hadapi ini saat ini, seperti bukan Doni yang ku kenal, ataukah memang inilah sifat asli Doni yang berhasil ia sembunyikan dariku sekian lamanya. Sungguh luar biasa hebatnya ia menipuku selama bertahun-tahun. Topeng yang ia pasang sungguh profesional.

__ADS_1


"Aku udah punya penggantimu! Dia lebih mengerti apa yang ku mau daripada kamu Cha. Dia memenuhi semua hasrat terpendamku padamu Cha. Aku terpuaskan olehnya" ia berkata seperti tak punya otak sama sekali. Benar-benar tak punya otak! Dasar ********!


Sekejap rasa sayangku menguap, terbawa hawa terik siang ini, rasa itu tergantikan oleh rasa benci yang mulai memenuhi rongga dadaku.


Aku berusaha berpikir logis, tak mau terbawa suasana hati yang benar-benar sudah hancur berkeping-keping. Sekuat tenaga kukumpulkan akal sehatku untuk menghadapi si brengsek ini!


"Aku pikir kamu berbeda dengan cowok kebanyakan di sekitarku. Aku pikir kamu orang yang bisa menghargai dan menghormati seorang perempuan dengan tidak merusaknya, tapi ternyata kamu sama saja dengan setan-setan yang berkeliaran di siang bolong! Aku benci kamu Doni!" aku memaki tepat di depan wajahnya, aku sudah berniat meninggalkan cowok brengsek di hadapanku itu, tapi kemudian ku urungkan niatku, belum puas rasanya aku memakinya.


"Dan oh iya, satu hal lagi... aku sudah tahu kamu berselingkuh dariku. Ku pikir kamu tidak ada bedanya dengan ayahmu! Like father like son! Sama-sama tukang selingkuh! Kamu gak pantes jadi calon guru Don!! Selamat menikmati kebejatanmu brengsek!!" maki ku di depan wajahnya.


Aku bergegas meninggalkan Doni yang terdiam mendengar ucapan terakhir dariku. Pergi dari edaran pandangnya. Hatiku hancur tak bersisa. Sungguh cinta pertama yang menjijikkan!


Aku berlari keluar dari kantin. Kulihat Nisa datang menghampiriku lalu memelukku erat. Aku menangis sejadinya di pelukan Nisa. Meluapkan amarah yang tadi kutahan, meluapkan rasa kecewa yang kutahan, meluapkan semua perasaan sedihku. Hingga badan ini berasa tak bernyawa, seluruh tulangku berasa terlolosi dari tempatnya. Aku benci pada diriku! Benci karena pernah terpesona pada mata coklat terang milik Doni. Aku benci cinta pandangan pertama! Love is bullshit!! Brengsek!!!


.


.


.


"Makasih ya Nis udah nganter aku, makasih karena kamu selalu ada untukku" aku memeluk Nisa ketika sudah sampai di depan gerbang rumahku.


"Iya Cha, tenang aja, aku selalu ada kok buat kamu, kapanpun dimanapun, aku selalu ada untukmu, kamu harus kuat ya Cha!" ucap Nisa menggenggam tanganku erat.

__ADS_1


"Siang tante.." ucap Nisa ketika bertemu dengan mama di teras rumah. Aku bergegas setengah berlari masuk ke dalam. Aku tak ingin mama melihatku cengeng begini. Aku masuk ke kamar, membuang tas ranselku sembarangan. Aku masuk kedalam selimut di ranjangku. Menangis lagi.


.


.


.


Aku mengerjapkan mata sembabku. Kulihat jam dinding doraemonku. Jam 5 sore. Ternyata aku tertidur setelah lelah menangis sendirian di dalam selimutku.


Tok..tok..tok.. suara pintu diketuk.


"Sayang.. mama boleh masuk nak?" ternyata mama. Aku diam, tak menjawab sahutan mama.


"Mama masuk ya sayang.. " kemudian mama membuka pintu kamarku dan langsung masuk ke dalam kamarku. Ia duduk di pinggir ranjangku. Sedangkan aku berbaring pura-pura tidur membelakangi mama, aku malu menampakkan wajah sembabku pada mama.


"Sayang.. bangun yuk. Udah sore, kamu belum makan siang kan? Yuk bangun, makan dulu" ucap mama sambil mengusap-usap lembut pipiku berusaha membangunkanku. Aku menggeliat, membalikkan tubuhku ke arah mama. Aku membuka mataku perlahan, kemudian beringsut bersandar pada pangkuan mama.


"Tadi Nisa sudah cerita sedikit, tapi mama mau mendengar langsung dari mulut Ocha. Supaya Ocha juga bisa melepaskan kesedihan Ocha pada mama" mama mengusap kepalaku lembut, perasaan hangat menyelimutiku karena sentuhan kasih sayang mama.


"Ocha mau kan cerita sama mama? hm..?" aku hanya memberikan jawaban dengan mengangguk, meski ada rasa enggan mengungkit lagi kejadian menjijikkan bersama si brengsek.


"Ma tapi Ocha laper, ceritanya nanti saja boleh gak ma? Ocha mau makan dulu" dalihku. Selain memang perutku lapar, aku memang sengaja mengulur waktu untuk bercerita. Aku masih dalam mode gak mood. Mama mengangguk lalu membantuku bangun dari ranjangku.

__ADS_1


"Mama turun duluan aja, nanti Ocha nyusul ke meja makan. Ocha mau mandi dulu, ga enak badan Ocha lengket semua" bujukku agar mama tak bergelayut di lenganku. Mama mengangguk lalu keluar dari kamarku.


__ADS_2