Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 25


__ADS_3

>>author lagi<<


"Kamu kenapa Cha? Mukamu lesu gitu?" selidik Nisa melihat muka Ocha yang kusut dan mata Ocha yang merah. Nisa langsung duduk di sebelah Ocha.


"Gak apa-apa, aku belum siap cerita sekarang" ucap Ocha. Nisa menghargai keputusan Ocha tidak menceritakan masalahnya.


"Mas pesankan makan siang ya, kamu belum makan kan?" ucap Abi. Ocha mengangguk ia lalu memanggil pelayan di food court itu.


"Ehm mau sekalian aku pesankan juga?" tanya Abi pada Nisa.


"Gak usah mas, aku tadi sudah pesan steak, nanti aku bilang ke pelayannya kalau aku pindah tempat duduk" ucap Nisa lalu pergi ke tempat food court pesanannya untuk konfirmasi tempat duduknya.


"Aku pesenkan ayam bakar madu, gak apa-apa?" ucap Abi pada Ocha. Ocha mengangguk saja, sebenarnya ia sudah tidak ada nafsu untuk makan, tapi ia paksakan untuk makan agar penyakit magh nya tidak kambuh lagi.


"Mas ngapain ke mall ini?" pertanyaan Ocha mengingatkan Abi kembali tujuan ia ke mall ini.


"Mas lagi nyari kado" jawab Abi.


"Mungkin kado buat pacarnya" gumam Ocha.


Kado yang dimaksud adalah untuk ia berikan pada Ocha. Abi mendapat pesan dari papa Irawan kalau Ocha sidang skripsi hari ini, jadi sebenarnya ia ingin memberikan sesuatu sebagai hadiah kelulusan Ocha. Tapi tak disangka belum ia membelikan kadonya tapi ia sudah bisa bertemu dengan orangnya langsung di mall. Sungguh takdir yang aneh bukan?


"Eh Cha, setelah selesai makan aku langsung pulang ya, aku gak bisa nemenin kamu jalan-jalan gak apa-apa kan?" ucap Nisa di tengah kunyahannya. Belum sempat Ocha menanyakan pada Abi membeli kado untuk siapa.


"Loh kok gitu, kenapa?" tanya Ocha sedikit kecewa.


"Tadi aku dapat pesan dari mami, aku di suruh mami ambil pesanan kue ulang tahun untuk Nadin" ucap Nisa.


"Kan bisa barengan nanti sama aku" kata Ocha.

__ADS_1


"Aku pulang sendirian aja nanti naik Grab bike, soalnya aku ada urusan lagi setelah ambil kue" ucap Nisa. Ia tak tega melihat Ocha yang sedang bersedih harus menemaninya wara-wiri mencari keperluan ulang tahun keponakannya.


"Terus aku gimana?" ucap Ocha.


"Ehm.. Ocha ke sini naik motor?" Abi menyela percakapan mereka. Ocha mengangguk, menjawab pertanyaan Abi tadi. "Nisa ya kan namanya?" lanjut tanya Abi. Nisa pun mengangguk.


"Nisa pulang naik motor Ocha saja, tidak usah pakai Grab" ucap Abi. Ocha mengerutkan dahi tidak mengerti maksud Abi. Sama halnya dengan Nisa juga tidak paham maksud ucapan Abi.


"Maksud mas, Nisa bawa motor Ocha pulangnya, nanti Ocha mas yang antar, mas ada perlu sebentar dengan Ocha" ucap Abi. Ocha melotot mendengar ucapan Abi.


Urusan apa denganku? gumam Ocha.


"Ya udah deh kalau begitu, Cha aku pinjam motor kamu ya, nanti kalau sudah selesai urusanku, aku kembalikan ke rumahmu" ucap Nisa. Ocha mengangguk.


Nisa berpamitan pada Ocha dan Abi untuk pulang duluan.


"Mau nambah?" ucap Abi pada Ocha.


"Ya udah yuk!" ucap Abi dan langsung menggamit tangan kiri Ocha. Ocha tersentak kaget tangannya di tarik lembut oleh Abi. Ia bingung, Abi akan membawanya kemana.


"Mas ada perlu apa dengan Ocha?" tanya Ocha, ia masih belum bisa lepas dari genggaman tangan Abi.


"Mas mau minta tolong, bantu mas pilihkan kado untuk seseorang yang spesial" ucap Abi menengokkan kepalanya menatap mata Ocha. Yang ditatap merasa kikuk, ia memalingkan wajahnya.


"Orang spesial? Cewe maksudnya?" Kok aku jadi kecewa ya" gumam Ocha dalam hati. Ada perasaan tak rela dan penasaran mendengar ucapan Abi. Ia penasaran siapakah orang spesial yang Abi maksud. Ada rasa sedikit kecewa di hati Ocha karena Abi memiliki orang yang spesial dan itu bukanlah dirinya.


Mereka akhirnya sampai di sebuah toko jam tangan. Abi mengajak Ocha masuk ke dalam toko itu.


"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Abi.

__ADS_1


"Buat cewe?" tanya Ocha, Abi mengangguk.


"Ya terserah mas saja, kan mas yang lebih tahu jam yang cocok untuk orang spesial mas itu" ucap Ocha sedikit merasa jengah.


"Hemmh..bantuin carikan dong, kalau Ocha sendiri lebih suka yang mana?" tanya Abi lagi.


"Nih cowok maksudnya apa sih, kan bisa pilih sendiri, kenapa harus ikut sama pendapatku sih?!" gerutu Ocha dalam hati.


"Ya soalnya cewek spesial itu karakternya seperti kamu, jadi mas minta kamu saja yang pilihkan, sesuai dengan yang kamu suka" ucap Abi.


"Mirip dengan karakter aku? Maksudnya karakter aku yang kayak gimana?! Memangnya karakterku aneh gitu?!" Ocha menggerutu dalam hati, ia sedikit merasa tersinggung juga dengan perkataan Abi. Dengan setengah hati ia akhirnya memilihkan jam tangan yang menurutnya bagus.


"Coba kamu pakai" ucap Abi setelah meminta penjaga toko mengambilkan jam tangan pilihan Ocha tadi.


"Dipakai? Apa lagi sih maunya?! Ribet amat!" Ocha masih saja menggerutu dalam hati. Dengan berat hati, Ocha memakai jam tangan yang tadi ia pilih.


"Bagus banget nih ditanganku, tapi sayangnya buat pacarnya mas Abi" gumam Ocha dalam hati.


"Haaahh.. sayang banget.." ucapnya pelan. Tapi suaranya yang pelan itu masih bisa di dengar oleh Abi.


"Sayang banget kenapa? Jelek ya?" tanya Abi.


"Enggak kok, jamnya bagus kok, aku suka, eh maksudnya bagus gitu" ucap Ocha keceplosan mengatakan bahwa ia juga menyukai jam pilihannya itu.


Abi tersenyum lalu meminta pegawai toko membungkus jam yang tadi Ocha pakai. Ia juga menuliskan kata-kata pada kartu ucapan untuk diselipkan di bungkus kadonya.


"Mau pulang sekarang?" tanya Ocha.


"Pulang?! Udah gini aja? Aku gak dapet imbalan nih udah bantu pilihin kado buat orang spesial dia?" gerutu Ocha dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa? Kok diem? Ocha masih mau ke tempat lain?" tanya Abi.


"Gak! Pulang aja!" jawab Ocha kesal lalu berjalan cepat di depan Abi. Abi tersenyum menahan diri agar tidak keceplosan bahwa jam tangan tadi adalah kado darinya untuk Ocha. Mereka berjalan menuju parkiran motor untuk pulang.


__ADS_2