Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 13


__ADS_3

>>still author<<


"Aduh ini siapa Den? Kenapa ini Neng nya?" tanya bi Anah saat membuka pintu rumah.


Abi memapah Ocha ke dalam kamarnya. Ia bingung harus merebahkan Ocha kemana, akhirnya tanpa pikir panjang lagi ia membawa Ocha ke kamarnya. Karena kamarnya berada di samping ruang tv lebih dekat daripada kamar tamu yang berada di belakang samping dapur.


Ia merebahkan tubuh Ocha ke ranjangnya. Ocha meringkuk, mengerang kesakitan.


"Bi Anah tolong ambilkan handuk kecil dan air hangat di baskom (wadah air)"


Bi Anah segera pergi ke dapur mengambil handuk kecil dan air hangat di baskom.


"Tolong bi kompres perutnya" ucap Abi. Ia sadar diri mana mungkin ia yang mengompres perut Ocha. Abi kemudian keluar kamar menelpon ibunya.


.


.


.


Ocha mengerjap-ngerjapkan matanya. Tirai abu-abu, meja belajar di sudut ruangan dengan buku yang berjejer rapi dan tergeletak sebuah laptop di atas meja itu, selimut warna silver. Kamar siapa ini? Aku dimana?!


Ternyata kompresan air hangat dan ranjang yang empuk membuat perutnya nyaman hingga ia terlelap tidur di kamar itu.


Ocha bangkit, beringsut mundur bersandar pada kepala ranjang. Ia menatap jam waker di atas nakas samping ranjang. Jam digital itu menampakkan angka 16.05 artinya sudah 2 jam ia tertidur di kamar itu.


Ceklek..


"Aaaa...!!!!" Ocha berteriak kencang, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ocha terkejut melihat Abi keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimononya dengan rambut yang masih basah. Abi pun tak kalah terkejut mendengar teriakan Ocha.

__ADS_1


"Maaf.. maaf.. aku hanya mau mengambil kaos di lemari, kupikir kamu masih tidur" Abi lantas bergegas membuka lemarinya, mengambil kaos putih lalu berjalan ke dalam kamar mandinya lagi.


Ocha turun dari ranjang lalu berjalan membuka gagang pintu kamar. Ia kebingungan, kemana arah ke ruang tamu. Tapi baru satu langkah ia keluar dari kamar itu terdengar suara ibu-ibu paruhbaya menghampiri.


"Neng Ocha udah enakan perutnya?" tanya bi Anah. Seperti paham kebingungan Ocha, akhirnya bi Anah memperkenalkan diri dan menanyakan apa ada yang dibutuhkan lagi untuk meredakan sakit perutnya.


"Ga ada bi, udah mendingan, ehhmm.. aku mau ambil ponselku yang ada di dalam tas, bibi tau dimana tasku?" tanya Ocha, kemudian bibi menggiring Ocha ke depan ke ruang tamu.


Di sana mama dan papanya sudah menunggu sambil mengobrol dengan bu Arni dan pa Prasetyo


"Sayang gimana perutmu? Udah enakan?" tanya mama Reni setelah mengajak Ocha duduk di sofa di sebelahnya. Ia cemas sekali setelah mendapat kabar dari Abi melalui ponsel bu Arni.


"Kata Abi, kamu makan mie ayam pakai sambel banyak banget ya? Aduh sayang, kamu kan belum makan nasi tadi siang, langsung makan sambel segitu banyaknya, kayanya sakit perutmu ini karena magh kamu kambuh lagi deh" ucap mama Reni hawatir. Ocha hanya diam.


"Pa ayo kita pulang, dari sini kita mampir ke dokter dulu ya, mama pengen ngecek keadaan Ocha" ucap mama Reni.


"Pa Pras dan bu Arni, kami pamit pulang dulu, makasih sudah merawat Ocha selama kami belum datang" ucap papa Irawan berpamitan.


Ketika mereka hendak keluar rumah, Abi datang dari dalam. Wajah Ocha bersemu merah, karena ingat tadi sempat lihat Abi keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono nya.


Mama Reni yang melihat Abi seketika langsung meraih tangan Abi.


"Nak Abi makasih ya sudah merawat Ocha, tante tadi panik banget, untung ada nak Abi jadi Ocha bisa ditangani dengan cepat. Maaf ngerepotin nak Abi ya" ucap mama Reni.


"Gak ngerepotin kok tante, yang ngompres perut Ocha bi Anah kok tante, bukan Abi" senyum Abi sopan pada mama Reni.


Mama Reni semakin yakin Abi bisa menjadi suami yang baik dan cekatan untuk Ocha nantinya. Ada perasaan kagum pada Abi karena ia juga bahkan menghormati Ocha meskipun dalam keadaan sakit ia tidak mengambil kesempatan untuk menyentuh Ocha.


Kemudian merekapun masuk ke dalam mobil papa Irawan yang sudah terparkir di depan rumah.

__ADS_1


.


.


.


.


Mereka sampai di rumah sekitar jam 8 malam, setelah tadi mampir dulu ke dokter untuk memeriksa kondisi perut Ocha.


"Sayang ini di makan dulu ya bubur sop nya, abis itu minum obatnya" ucap mama saat di meja makan. Ia menyiapkan semangkuk bubur sop yang tadi mereka beli dalam perjalanan pulang dan segelas air putih untuk minum obat.


Mama Reni meninggalkan Ocha di meja makan sendirian. Ocha kemudian menyantap bubur itu dengan lahap lalu meminum obat yang di resepkan dokter untuknya.


.


.


.


Ocha membolak-balikkan badannya, gelisah. Ia tidak bisa tidur. Di kepalanya terbayang kejadian tadi siang bersama Abi.


"Aarrghh.. memalukan! Aku bisa selemah itu di depan dia! Memalukan!" Ocha memaki diri sendiri mengingat dirinya begitu tak berdaya di pelukan Abi.


Sama halnya dengan Ocha, Abi pun tak bisa tidur padahal angka di jam digital miliknya menampakkan pukul 23.45 malam. Abi juga merasa gelisah, seperti ada yang mengganggu hati dan pikirannya. Perasaan ingin bertemu dan berdekatan dengan Ocha semakin jelas di pelupuk matanya. Perasaan apa ini?! Mengganggu sekali!


Perasaan itu adalah perasaan rindu. Abi belum bisa mengartikan perasaan hatinya sendiri.


Abi ingin menelpon Ocha, hanya sekedar basa-basi menanyakan keadaan perutnya. Tapi ia bingung, karena ia kan belum punya nomer Ocha.

__ADS_1


"Aargghh...!!! Begok lo Abi!!" teriak Abi sambil mengacak rambutnya, frustasi. Mereka berdua akhirnya bisa terlelap di tidur mereka masing-masing jam 2 malam.


__ADS_2