Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 14


__ADS_3

>>Abi><


Minggu pagi..


Setelah kegiatan rutin di minggu pagi selesai yaitu joging dan mencuci motor kesayanganku. Aku bergegas mandi, mengenakan kaos putih lalu ku timpa dengan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak merah dan jeans warna biru. Lalu aku menyisir rapi rambut hitamku, kulipat lengan bajuku hingga ke tengah lengan hingga jam tanganku terlihat.


Sudah kuputuskan hari ini aku harus bertemu dengan Ocha dan meminta nomer ponselnya. Dari semalam aku terus-terusan tidak bisa tidur memikirkan Ocha. Aku bisa gila kalau menahan gejolak hasrat di hati ini. Cinta kah? Entah lah, yang pasti rasa ingin selalu bertemu dengannya semakin menumpuk di hatiku.


.


.


.


"Assalamualaikum.. " ucapku.


"Wa 'alaikum salam.. eh ada nak Abi, masuk sini nak, pasti mau ketemu Ocha ya? Bentar tante panggilin Ocha nya ya, duduk dulu nak Abi" ucap tante Reni, aku disambut baik oleh tante Reni.


Aku duduk di ruang tamu sejenak mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Aku terpaku lama pada foto yang bertengger di meja sudut ruang tamu. Foto tante Reni, om Irawan dan di tengahnya Ocha tersenyum riang. Lagi-lagi ada perasaan hangat yang menjalar ke relung hati. Senyum Ocha membuatku gila!


Entah mengapa hanya pada senyuman Ocha yang bisa membuatku mabuk kepayang. Tak kupungkiri sudah banyak cewek-cewek mulai dari semasa aku kuliah mendekatiku bahkan ada yang nekat mengempesin ban motorku agar aku bisa pulang bareng dia. Tapi dari sekian banyak cewek itu tak ada yang mampu membuat hatiku bergetar.


Di kampusku dulu aku dikenal dengan sebutan "Mr. Flat". Aku tahu julukan itu juga dari Bagas. Aku sempat bingung kenapa aku punya julukan seperti itu. Menurut cerita Bagas, aku dijuluki seperti itu karena sikapku yang datar saja tanpa ekspresi pada setiap cewek-cewek yang berusaha mendekatiku.


Aku selalu baik pada semua orang. Bagi pandangan para cewek, kebaikan dan perhatianku tuh rata ke semua cewek. Nothing special.


Aku sempat bingung, apa yang salah dengan berbuat baik pada semua orang? Bukankah jika kita berbuat baik pada orang lain maka kebaikan itupun akan berbalik pada diri kita sendiri. Entahlah..

__ADS_1


Aku kembali ke posisi awalku, duduk di sofa, kulirik jam tanganku, sudah 25 menit sejak tante Reni masuk ke dalam memanggil Ocha.


Apa Ocha enggan bertemu denganku ya? gumamku.


Tak lama kemudian, tante Reni datang.


"Aduh maaf ya nak Abi, lama ya nunggunya? Maaf ya tadi Ocha masih tidur, jadi tante suruh mandi dulu, ini silakan diminum dulu" ucap tante Reni.


"Ya tante gak apa-apa, lagipula salah Abi juga main kesini gak ngabarin dulu, maaf Abi jadi mengganggu waktu santai nya Ocha" ucapku merasa bersalah. Aku merutuki keputusanku yang terlalu pagi main ke rumah Ocha. Harusnya nanti sore saja. Bodoh!


"Ah gak apa-apa nak Abi, emang dasar Ochanya aja begitu, kebiasaan bangun siang kalau hari minggu, padahal udah sering tante bilangin tuh anak, masih aja gak berubah" ucap tante Reni.


"Oia tante, om lagi kemana tante?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Ocha.


"Om lagi di ruang kerjanya, lagi ngutak-atik laptopnya, katanya sih ada yang eror gitu" jelas tante Reni.


"Boleh kalo gitu, ayo ikut tante, ruang kerja om sebelah kamar Ocha" ajak tante mengarahkanku ke ruang kerja om Irawan.


"Pa ini ada Abi katanya mau cobain cek laptop papa" ucap tante Reni.


"Oh ya, kebetulan ada Abi, tolongin om benerin laptop ini ya" ucap om Irawan sambil menyodorkan laptop hitamnya padaku.


"Ini awalnya kenapa om" tanyaku sambil menekan-nelan tombol di laptop.


"Kayaknya gara-gara kemarin om ada dinas di Bandung, terlalu banyak materi yang masuk di laptop melalui flashdisk teman om" ucap om Irawan mengingat-ingat awal rusak laptopnya.


Aku mengecek program demi program yang ada di laptop, menelusuri dimana letak rusaknya. Tanganku dengan lincah menekan tombol keyboard dan menggeser cursor.

__ADS_1


Fokusku menjadi 100% jika sudah berhubungan dengan laptop, tanpa sadar waktu bergulir cepat, hingga aku lupa tujuanku ke rumah ini untuk bertemu dengan Ocha, kini sudah jam makan siang. Ajakan tante Reni membuyarkan konsentrasiku pada laptop. Akupun terpaksa menghentikan kegiatanku karena tante Reni memaksaku untuk ikut makan siang bersama.


Sebenarnya aku masih ingin meneruskan menelusuri kerusakan laptop milik om Irawan, tapi ya sudahlah lain waktu lagi. Eh tiba-tiba ide nekatku muncul, memperbaiki laptop Irawan bisa jadi alasanku untuk terus bisa ke rumah Ocha. Sambil menyelam minum air kan mantap, senyumku berkembang.


"Nak Abi ayo tambah lagi nasinya, jangan malu-malu, anggep rumah sendiri ya, nih lauknya masih banyak" ucap tante Reni menyodorkan bakul dari bambu berukuran kecil yang berisi nasi. Aku tidak lantas mengambil nasi lagi, aku merasa kikuk apalagi di depanku ada Ocha. Meskipun memang ia khusyuk dengan kegiatan makannya sendiri, tapi aku segan mengambil nasi atau lauk lagi. Padahal masakan tante Reni sangat menggugah selera. Masakan sederhana yang nikmat, menu yang disajikan benar-benar klop di lidahku. Telur balado, sayur cah kangkung seafood, tempe tahu goreng, sambal dan kerupuk.


"Ocha kok diem aja? Itu tuangin dong nasinya ke piring kangmas Abi" sontak aku dan Ocha tersedak batuk-batuk, aku tersedak mendengar tante Reni menyebutku "kangmas" jadi berasa di film jadul Tutur Tinular "Kangmas Prabu".


"Aduh kok batuknya bisa samaan sih, ayo cepet minum air putihnya, ya ampun kok bisa jodoh banget ya kelakuan kalian" ucapan tante Reni membuat hangat hatiku. Sungguh ada harapan di hati bisa lanjut berjodoh dengan Ocha. Sudah mulai jatuh cintakah? Entahlah..


.


.


.


Selesai makan siang, aku dan Ocha duduk-duduk di teras rumah. Aahh... perut benar-benar kenyang dan nikmat. Kayaknya aku bakal ketagihan masakan tante Reni nih. Andai saja ada yang memasakkan makanan untukku setiap hari selain ibu dan bi Anah, sungguh bahagianyaaa... pikiranku melayang.


"Ehem.." suara dehem Ocha membuyarkan lamunanku tentang sosok istri yang selalu memasakkan makanan untukku.


"Mas Abi ngapain kesini?" aku tak lantas menjawab pertanyaannya, telingaku sedikit menghangat soalnya Ocha memanggilku dengan panggilan "mas" bukan "pak" lagi seperti sebelumnya.


"Oh tadi mas abis betulin laptop om Irawan" jawabku.


"Bukaan.. bukan itu, sebelum itu, sebelum betulin laptop, kan mas Abi udah kesini duluan, ada apa?" ucap Ocha.


"Oh mas kesini mau ketemu Ocha" jawabku.

__ADS_1


"Mau ketemu aku? Mau ngapain?" pertanyaan Ocha membuatku sedikit kikuk, apa yang harus kukatakan? Masa aku harus jujur mau ketemu karena kangen dan mau minta nomer ponselnya. Aku takut Ocha masih belum bisa menerima perjodohan kita. Ah iya! Aku tau apa yang harus ku katakan!


__ADS_2