
>>now on<<
Abi tersadar dari lamunan masa lalunya ketika Ocha menggoyang kecil lengannya.
"Mas! Lagi mikirin apa? Dari tadi bengong aja. Ayo kita makan dulu. Menunya udah datang semua nih" ucap Ocha.
Mereka saat ini sedang menikmati makan malamnya di sebuah restaurant di pinggir pantai favorit mereka. Abi memilihkan tempat duduk yang sangat romantis dengan pemandangan laut lepas dan semilir angin malam di pantai membuat suasana bertambah syahdu.
"Ocha harus berjanji sama mas satu hal" ucap Abi sambil menggenggam tangan Ocha yang ada di atas meja.
"Berjanji tentang apa, mas?" ucap Ocha. Kegiatannya yang sedang menyendok nasi terhenti seketika oleh ucapan Abi.
"Berjanji untuk menjauhi Nugi" ucap Abi. Ia menatap lurus netra Ocha untuk menunjukkan bahwa perkataannya serius dan bukan hal yang sepele
"Nugi? Nugi siapa, maksud mas?" tanya Ocha bingung.
"Maksud mas, Aditya Nugroho dosen mentormu itu. Sebisa mungkin, Ocha harus menghindari berinteraksi dengannya" ucap Abi dengan ada sedikit nada penekanan.
"Baiklah, akan Ocha usahakan. Ayo sekarang kita makan dulu. Mas, mau aku suapin? Tangan mas 'kan terluka gara-gara tadi memukul pak Adit" ucap Ocha sambil lalu ia mendengarkan peringatan Abi, ia hanya terfokus menyendokkan nasi di piring Abi.
"Satu suapan aja, Cha biar kamu gak kerepotan nyuapi, mas" ucap Abi lalu memajukan wajahnya agar bisa di suapi Ocha.
.
.
Setelah makan malam, mereka tak lantas pulang. Abi mengajak Ocha menyusuri tepi pantai, berjalan sambil bergandengan tangan. Semilir angin malam menyibak rambut Ocha yang tergerai, menambah pesona cantik dari wajah Ocha.
"Kenapa sih, mas dari tadi liatin Ocha terus? Ada makanan yang nempel ya di wajah Ocha?" ucap Ocha seketika meraba pipinya mencari apakah ada sisa nasi yang menempel di pipinya.
"Kamu cantik, Cha. Sangat cantik" ucap Abi masih dengan menatap lembut ke arah netra Ocha.
Pipi Ocha memanas, bersemu merah karena pujian Abi.
Abi mengecup tangan Ocha yang ia genggam dari tadi. Ia menghentikan langkahnya lalu menghadap Ocha semakin dekat.
Jantung Ocha berdegup kencang dan semakin kencang saat Abi mendekatkan wajahnya. Refleks Ocha memejamkan matanya.
__ADS_1
Tanpa diduga, Abi hanya membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Ocha karena tertiup angin.
"Kenapa? berharap dicium ya?" ucap Abi terkekeh.
Sontak mata Ocha terbuka dan memalingkan wajahnya karena malu. Ia juga tidak bisa memahami hasratnya jika sudah dekat dengan Abi, rasanya sangat berharap sekali dicium oleh Abi.
"Astaga! Aku kok jadi mesum banget! Memalukan!" rutuk Ocha dalam hati.
"Mas gak akan ambil kesempatan. Semua pasti bakal mas berikan termasuk bibir mas hanya untuk Ocha. Untuk saat ini, mas belum bisa, maaf ya" ucap Abi kemudian menarik Ocha ke pelukannya, mengecup kening Ocha tipis.
Mata Ocha terbelalak, pipinya semakin panas bahkan telinganya pun semakin panas. Ia jadi semakin merutuki kebodohannya.
"Aku jadi orang paling mesum sedunia! Memalukan! Bodoh! Bodoh!" berkali-kali Ocha memaki dirinya dalam hati.
"Kamu gak kedinginan?" tanya Abi masih memeluk Ocha, bahkan semakin erat pelukannya bermaksud agar Ocha tidak kedinginan karena angin pantai malam ini.
Ocha mengangguk pelan.
"Kita pulang sekarang?" tanya Abi sambil meregangkan pelukannya.
Ocha mengangguk lagi. Abi menggandeng tangan Ocha menyusuri tepi pantai untuk kembali ke restaurant.
"Tanya tentang apa?" tanya Abi.
"Ehm ... mas bilang kalau aku sebisa mungkin untuk menghindari pak Aditya. Memangnya kenapa dengan pak Aditya?" tanya Ocha yang seketika membuat wajah Abi menegang.
Abi lantas membalikkan badannya, mensejajarkan posisi badannya tepat di hadapan Ocha. Matanya tajam menelisik lurus mata Ocha, membuat Ocha salah tingkah ditatap sedemikian intens oleh Abi.
"Mas gak mau kehilangan kamu. Kamu terlalu berharga untuk disia-siakan" ucap Abi lalu mengecup tangan Ocha.
Pertanyaan yang dilontarkannya dengan jawaban yang diberikan Abi tidak sinkron menurut Ocha. Tapi Ocha tak berani mengutarakan pertanyaan selanjutnya, ia takut jika pertanyaannya mengubah mood Abi menjadi jelek. Biarlah untuk saat ini ia menikmati suasana malam yang tenang di tepi pantai.
.
.
"Makasih mas, udah nganterin Ocha pulang. Mau masuk dulu?" tanya Ocha setibanya mereka di depan rumah Ocha.
__ADS_1
"Lain kali saja, ini udah terlalu larut. Jam malam komplekmu sudah akan diberlakukan. Sampaikan saja salam untuk mama dan papamu ya. Mas pamit pulang sekarang. Assalamualaikum" ucap Abi lalu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Ia melambaikan tangan pada Ocha sebelum kemudian mobil melaju pulang.
Malam yang melelahkan, pikir Abi. Pikiran Abi kalut bercampur takut. Kata-kata Nugi dan sileut kenangan masa lalunya dengan Devi bercampur membentuk ketakutan di lubuk hatinya.
Abi mengambil benda di bawah laci meja belajarnya. Benda yang selama ini ia simpan tanpa ia buka kembali semenjak terakhir kali pertemuannya dengan Devi.
"Aku gak pernah sempat menunjukkan ini padamu, Devi" lirih Abi sambil membuka benda itu yang tak lain adalah kotak perhiasan berwarna merah berisi cincin emas.
"Sepertinya sudah waktunya aku mengubur masa laluku. Menutup kenanganmu, Devi. Selamat tinggal ...." Abi memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam kantong plastik.
Ia berniat besok akan memberikan kotak itu pada bi Anah yang kemudian dijual di toko emas lalu uangnya ia berikan pada bi Anah sebagai hadiah penghargaan kerja kerasnya di keluarga Abi.
Selama ini ia menyimpan rapi kotak itu dalam hati berharap masih ada kesempatannya untuk kembali menjalin kasih dengan Devi meski ia harus dengan lapang dada menerima konsekuensi anak dari Nugi. Ia bersiap jika Nugi tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Devi adalah cinta pertamanya. Karena itu, Abi sangat mengharapkan kisahnya bisa berlanjut.
Namun harapannya pupus. Setelah kejadian di kos-kosan Devi, ia tak lagi bisa bertemu dengan Devi ataupun Nugi. Ia mendapat kabar dari Bagas, bahwa Nugi memboyong Devi pulang ke kampungnya di Jawa untuk melangsungkan pernikahan di sana.
Abi memejamkan mata sejenak. Bersandar pada kursi belajarnya. Setelah sekian tahun ia mampu menutup kenangan pahit, kini tiba-tiba kembali bergulir bak bola panas menghantam permukaan hatinya.
.
.
.
🌺 hai readers..
Part ini author mau menyampaikan, kalau punya benda-benda pemberian mantan, jangan lantas dibuang seenaknya hanya karena pengen melupakan masa lalu. Tetap hargai dengan memberikannya pada orang yang membutuhkan. Tapi kalau surat-surat dari mantan gak perlu juga dikasihkan ke tetangga ya 😆 bakar aja sampe jadi debu.
Author mohon maaf karena lama up karena ada sesuatu yang harus author kerjakan terlebuh dulu. Tapi author ucapkan terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕