Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 40


__ADS_3

>>author<<


"Jadi bagaimana menurut pak Pras dan bu Arni?" tanya papa Irawan.


Sudah lebih dari satu jam yang lalu mereka mengobrol membahas tentang pertunangan dan rencana pernikahan Abi dan Ocha. Tentu saja tanpa kehadiran Ocha maupun Abi. Abi belum pulang dari sekolah tempat ia mengajar.


"Kalau saya dan istri saya tidak banyak syarat ataupun aturan, kami mengikuti rencana dari pak Irawan saja. Hanya saja kami perlu menanyakan dulu pada Abi tentang tanggal yang ditentukan. Kami hawatir Abi punya jadwal sekolah yang padat sehingga bisa bentrok dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh pak Irawan." ujar pak Pras.


"Baiklah kalau begitu, kami berharap semua berjalan lancar sesuai rencana. Seandainya ada perubahan sesuatu, tolong pak Pras kabari kami, agar kami menyiapkan rencana lain jika terjadi perubahan" ucap papa Irawan.


"Kalu begitu kami pamit pulang pak Pras, bu Arni" ucap papa Irawan seraya bangun dari duduknya dan bersalaman dengan pemilik rumah itu.


.


.


.


"Nis, aku pulang dulu ya, udah sore nih, takut diomelin mama kalau pulang kesorean," ucap Ocha pada sahabat baiknya.


"Tante, Ocha pulang dulu" ucap Ocha pada mami Yuli, maminya Nisa.


"Loh kok buru-buru banget sih, Cha. Biasanya sampai malam main di sini, ada apa?" ucap mami Yuli yang sedang duduk menonton acara televisi.


"Gak ada apa-apa kok tante, Ocha sudah janji sama mama harus pulang sebelum maghrib" ucap Ocha sambil menggendong tas ranselnya.


"Sering-sering main kesini dong Cha, biar tante ada temen ngobrol" ujar mami Yuli.


"Salam buat mama kamu ya" ucapnya kemudian.


"Iya tante nanti Ocha sampaikan salamnya ke mama, kapan-kapan Ocha main ke sini lagi, tante" ucap Ocha.


Ia mengerti bahwa ucapan mami Yuli benar adanya karena Nisa terlalu sibuk belajar untuk mengejar beasiswa S2 nya di luar negeri, sehingga jarang sekali pergi keluar rumah bahkan keluar kamarpun hanya sesaat selain untuk keperluan makan dan bermain dengan keponakannya saat berkunjung.


Nisa sosok yang teguh dan serius dalam mencapai impiannya. Itu terbukti dari nilai cumlaude yang didapatnya saat lulus wisuda S1 nya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Cha" jawab Nisa, mengantarkan Ocha sampai depan rumahnya.


.

__ADS_1


.


Abi baru saja memarkirkan motornya di garasi. Hari ini Abi merasakan badannya kurang fit. Sedari tadi di sekolah ia terus menerus bersin-bersin. Ia merasa kepalanya juga agak berat. Ingin rasanya segera merebahkan badannya beristirahat.


"Mas, sudah pulang? Mau ibu siapkan makan sekarang?" tanya ibunya saat melihat anaknya masuk ke rumah.


"Nanti saja bu, mas mau istirahat dulu" ucap Abi lesu.


"Kenapa, mas? Mukamu kok pucat gitu, mas sakit?" ucap bu Arni sambil meletakkan telapak tangannya ke dahi Abi.


"Ya Allah, mas badannya panas gini, ayo masuk kamar, biar nanti ibu ambilkan obat dan handuk untuk ngompres demam kamu" ucap bu Arni cemas sambil menuntun Abi ke dalam kamar.


Abi menurut saja, selain karena patuh perintah ibunya juga dikarenakan badannya sangat lemas untuk melakukan hal lain. Ia juga ingin merebahkan badannya di ranjang.


Beberapa menit kemudian Bu Arni kembali dari dapur membawa baskom berisi handuk kecil dan air hangat. Ia kemudian mengompres dahi anaknya yang sedang demam.


Meskipun Abi sudah dewasa, bu Arni masih memperlakukannya seperti anak kecil. Selalu menyiapkan segala kebutuhan Abi. Meski begitu, Abi tidak merasa enggan ataupun risih, karena Abi mengerti sikap seperti itu muncul terlebih setelah kejadian kecelakaan yang menimpa mereka saat beberapa tahun silam. Yang membuat ibunya seolah tak ingin kehilangan seorang anak lagi.


"Ini bu, bubur jagungnya" ucap bi Anah menyodorkan semangkuk bubur pada majikannya.


"Makasih, bi" ucap bu Arni.


"Ayo mas dimakan dulu buburnya, mumpung masih hangat" ucap bu Arni pada anaknya.


"Mas, kalau kerja jangan dipaksakan. Istirahat dulu, jangan fokus terus sama komputer" ucap ibunya menasehati.


"Kalau makannya sudah selesai, lalu minum obatnya ya, besok mas gak usah berangkat sekolah, istirahat dulu di rumah" ucap ibunya lalu pergi keluar kamar.


Abi lantas menyantap habis buburnya dan meminum obat. Setelah itu, ia lalu menarik selimutnya dan memejamkan matanya, beristirahat menuruti nasihat ibunya.


.


.


.


"Assalamualaikum! Loh kok udah pulang pah, mah? Gimana hasil check up papa?" tanya Ocha melihat mama dan papanya sedang duduk santai di teras rumahnya.


"Alhamdulillah hasilnya bagus, ada kemajuan, kondisi papa sudah mulai pulih" ucap mamanya.

__ADS_1


"Oh ya, Cha. Besok tolong kamu antar makan siang ke sekolah Abi. Nanti mama kamu yang siapkan menunya" ucap papanya.


"Haah..Jadi kurir makanan lagi deh!" gumam Ocha.


"Ocha masuk kamar dulu, pa, ma" ucap Ocha lalu ngeloyor pergi ke kamarnya.


.


.


.


Jarum jam di dinding sudah menampakkan pukul 11 siang. Di rumah Ocha sudah terdengar hiruk pikuk mama Reni mengemasi makanan berupa nasi, lauk dan buah-buahan untuk sang calon menantu kesayangan.


"Nih sudah siap semua! Kamu naik motornya jangan ngebut-ngebut ya! Nanti menu makan siang untuk kakang mas prabu bisa berantakan!" ucap mama Reni menggoda Ocha.


"Iya ya! Bawel deh mama!" Ocha mendengus kesal lalu menarik gas, melajukan motornya ke sekolah tempat Abi bekerja.


.


.


"Permisi pak! Saya mau ketemu dengan pak Abi eh maksud saya pak Reza, bisa pak?" tanya Ocha pada satpam sekolah.


"Maaf neng, pak Reza hari ini gak masuk kerja neng. Kata keluarganya beliau lagi sakit" jawab pak satpam sekolah.


"Oh gitu, ya sudah pak terima kasih, saya pamit pulang lagi" ucap Ocha kemudian melajukan motornya pelan. Ia berfikir di laju lambat motornya. Ia berfikir keras bagaimana nasib menu makan siang yang dibuat mamanya. Ia pasti dimarahi kalau membawa pulang lagi dan kalau diberikan kepada orang lewat pasti mamanya marah besar kalau sampai konfirmasi ke keluarga Abi.


"Duh jadi bingung, gimana ya? Apa aku ke rumah mas Abi aja ya? Tapi malu, kira-kira sopan gak ya?" Ocha bergumam sepanjang jalan. Hingga tanpa ia sadari ternyata ia sudah sampai di depan rumah Abi.


"Lah, aku kok bisa nyampe disini ya?" ucap Ocha sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Ya sudahlah, sudah terlanjur datang ke sini, sekalian aja kirim makanannya" gumam Ocha.


Ia akhirnya memarkirkan motornya di depan rumah Abi lalu mengetuk pintu rumah Abi.


"Assalamualaikum!" teriak Ocha sambil mengetuk pintu rumah.


Sudah tiga kali Ocha mengucap salam dan mengetuk-ketuk pintu rumah tapi tidak ada yang membukakan pintu.

__ADS_1


"Rumahnya kosongkah? Dari tadi gak ada yang keluar, aku pulang aja kayanya" gumam Ocha seraya membalikkan badan untuk pulang.


Tiba-tiba...


__ADS_2