
Sabtu pagi ini Abi sudah rapi mengenakan kaos biru dan jeans biru. Sesuai rencana, hari ini ia akan membantu revisi skripsi Ocha. Papa Irawan menjelaskan bahwa Ocha harus ikut wisuda tahun ini dan ditambah lagi kabar gembira yang membuat semangat Abi adalah mereka akan melanjutkan hubungan lebih serius setelah Ocha lulus. Papa Irawan bilang bahwa kabar ini belum diketahui oleh Ocha, kabar ini sengaja disembunyikan agar Ocha fokus mengerjakan skripsinya.
.
.
"Assalamualaikum" ucap Abi di depan pintu rumah Ocha.
"Wa'alaikum salam, masuk nak Abi" ucap papa Irawan yang sedari tadi duduk di ruang tamu, meminum secangkir kopi dan membaca koran hari ini.
Abi masuk ke dalam ruang tamu dan duduk setelah tadi dipersilakan duduk oleh papa Irawan.
"Ocha masih di kamar, kemungkinan belum bangun" papa Irawan meneguk cangkir kopinya sejenak.
"Semalam Ocha tidak bisa tidur, ia terus menerus mengigau, berteriak. Traumanya kambuh" Abi tersentak kaget.
"Ocha punya trauma masa kecil. Ia pernah hilang sewaktu ikut mamanya ke pasar. Waktu itu usianya baru 5 tahun" Abi mendengarkan cerita papa Irawan dengan seksama. Ternyata kejadian kemarin menjadi pemicu kambuhnya trauma Ocha. Traumanya bukan karena hanya hilang saat Ocha masih kecil, tetapi Ocha sempat diculik oleh preman pasar saat Ocha kebingungan mencari mamanya.
"Ocha disekap oleh preman pasar di dalam sebuah bangunan kosong di dekat pasar. Dengan segala upaya dan kekuatan yang om dan tante punya, Ocha akhirnya bisa ditemukan saat malam hari" tutur papa Irawan menceritakan kronologis penculikan Ocha.
Abi merasa sangat menyesal. Ia menyalahkan dirinya karena kecerobohannya, trauma Ocha yang sudah sangat lama kini teringat lagi. Ia meminta maaf pada papa Irawan karena kecerobohannya meninggalkan Ocha kemarin.
"Sudahlah, nak Abi tidak usah merasa bersalah berlebihan, ini memang bukan sepenuhnya kesalahan nak Abi" ucap papa Irawan.
"Mas Abi.." terdengar suara Ocha. Sontak Abi dan papa Irawan menoleh ke arah sumber suara, yaitu Ocha.
"Kalau begitu, om tinggal ke dalam dulu ya" papa Irawan beranjak masuk ke dalam karena melihat penampilan Ocha yang sepertinya sudah lebih baik dan siap menemui Abi. Ocha duduk di sofa depan Abi.
"Maaf ya, gara-gara mas, kamu...." ucap Abi menggantung. Ia tak berani melanjutkan kata-katanya. Ia hawatir Ocha akan mengingat lagi traumanya.
"Bukan salah mas kok, aku juga salah gak ikut masuk ke dalam toko" ucap Ocha.
__ADS_1
"Jadi gimana untuk hari ini? Kamu sudah bisa revisi skripsi hari ini atau kita pending dulu, nunggu kamu benar-benar fokus?" tanya Abi. Ia masih belum tega membiarkan Ocha berkonsentrasi pada revisi skripsinya sedangkan kondisinya masih belum fit dari syok kemarin.
"Iya gak apa-apa kok mas" ucap Ocha sambil mengeluarkan laptopnya dari tas ranselnya.
"Nanti kalau kamu capek, biar mas saja yang ngedit skripsi kamu ya" ucap Abi. Ocha mengangguk lalu memulai menyalakan laptopnya, membuka file skripsi yang sudah ia ketik sebelumnya.
.
.
.
Abi melirik jam di dinding, jam 12 siang.
"Mas ke belakang dulu ya Cha" ucap Abi. Saat hendak ke belakang, Abi berpapasan dengan mama Reni.
"Nak Abi mau solat ya? Udah hafal kan kamar mandi dan tempat solatnya? Kan udah sering main ke sini" ucap mama Reni.
.
.
"Ayo nak Abi silakan duduk. Kita makan siang dulu" ucap mama Reni saat Abi keluar dari ruangan solat. Menu makan siang hari ini sup ikan patin, tempe goreng, tumis jamur, sambel dan tak ketinggalan adalah kerupuk, menu wajib.
Ocha sudah paham sepertinya dengan apa yang ia lakukan sekarang. Ia menyiapkan piring milik Abi, mengisi dengan nasi dan lauk yang di mau Abi. Ocha merasa ia sudah banyak merepotkan Abi, sehingga ia terpaksa harus berdamai dengan ego hatinya yang ingin selalu menolak Abi.
Meski hal itu bukan berarti bahwa Ocha menyerah dan rela membuka hatinya untuk Abi. Ia hanya menunjukkan bahwa ia adalah manusia yang masih punya hati nurani, mau membalas kebaikan yang Abi lakukan untuknya.
"Gimana revisinya Cha?" tanya papa Irawan.
"Masih 30% lagi yang belum direvisi. Mungkin hari ini bisa selesai semua" ucap Ocha.
__ADS_1
"Oh ya nak Abi, om minta tolong, bantu Ocha merevisi skripsinya sampai beres ya. Om ingin secepatnya Ocha bisa mengikuti wisuda tahun ini. Om sudah tidak sabar ingin menimang cucu" ucap papa Irawan yang membuat Abi tersedak.
"Maaf..uhuk..maaf.." ucap Abi disela batuknya. Ia lalu meminum air putih yang ada di hadapannya untuk meredakan batuk tersedaknya. Ocha mengerutkan dahi, belum mengerti maksud ucapan papanya. Abi kaget mendengar ucapan papa Irawan. Benar-benar mendadak.
.
.
Selesai makan siang yang canggung, menurut Abi, ia melanjutkan membantu merevisi skripsi Ocha. Membantu mengedit tulisan di laptop, dan membantu mencari referensi buku yang pas untuk judul skripsi Ocha.
"Akhirnya selesai juga" ucap Ocha lega. Ia melemaskan otot-otot tangannya. Merapikan buku-buku yang berserakan di meja dan di lantai. Abi menyelesaikan ketikan terakhirnya, kemudian menyimpan file dan lanjut mematikan laptop Ocha.
"Akhirnya selesai juga" ucap Abi. Ia melirik jam tangannya, jam 4 sore.
"Udah sore Cha, mas pamit pulang ya" ucap Abi.
"Makasih mas udah bantuin Ocha" ucap Ocha.
"Iya sama-sama, ini tinggal kamu print saja ya" ucap Abi sambil menyerahkan laptop Ocha.
"E...mas besok bisa gak anterin aku ke rental komputer?" ucap Ocha ragu-ragu. Sebenarnya ia tidak mau meminta bantuan Abi lagi karena ia sudah banyak merepotkan Abi.
"Rental komputer? Mau ngapain?" tanya Abi heran.
"Printer di rumah lagi macet, jadi aku mau ngeprint di rental saja. Mas besok masih bisa antar aku kan?" ucap Ocha. Dengan berat hati akhirnya ia meminta bantuan Abi lagi, ia terpaksa melakukannya karena rasa traumanya belum benar-benar hilang. Hatinya masih was-was kalau berada di luar rumah sendirian.
"Iya nanti besok mas anterin, mau di jemput jam berapa?" tanya Abi.
"Jam 10 aja mas" ucap Ocha.
"Ya udah, besok mas ke rumah jam 10 ya, sekarang mas pamit pulang dulu y" ucap Abi sambil beranjak ke luar rumah. Ocha mengantar Abi sampai depan pintu gerbang.
__ADS_1
"Salam pamit untuk mama papa Ocha ya, mas pulang dulu assalamualaikum" ucap Abi lalu melajukan motornya pulang.