
>Kangen Nisa di Perancis, <<
L’Université d’Angers adalah universitas Negeri yang berada di kota Angers, Pays de la loire, France dan merupakan universitas yang menjadi pilihan Nisa untuk mengenyam pendidikan lanjut S2 nya.
Nisa tinggal di Angers satu setengah jam dari kota Paris, kota yang sebagian besar penduduknya pelajar, Angers dianggap sebagai kota pelajar karena di sana ada banyak pilihan jurusan, kampus negeri maupun swasta.
Biaya hidup di Angers bisa dibilang terjangkau. Pemerintah Prancis memberikan banyak subsidi untuk kaum pelajar, terutama yang berusia di bawah dua puluh enam tahun. Contohnya tempat tinggal, untuk apartemen sendiri besarnya kurang lebih dua puluh meter persegi, biayanya sekitar 298€, dan pelajar berhak mendapatkan subsidi dari pemerintah biasanya disebut APL (Aide Personalisée au Logement) dari CAF yang besar bantuan nya bisa mencapai 120-150€ dan ini berlaku di semua wilayah Prancis.
Untuk transportasi, berpergian dengan TGV untuk yang berusia di bawah 25 tahun mendapat diskon 20-50% dari harga tiket normal dengan membeli carte jeune. Ada juga pilihan lain untuk berjalan-jalan, seperti co-voiturage, yang harganya jauh lebih murah dan terlebih lagi membantu kita bersosialisasi.
Di Angers sendiri, para pelajar dapat membuat Carte Partenaire, kartu ini membantu para pelajar mendapatkan potongan harga untuk kartu irigo (bis dan tram), yang harga normalnya 40€, dengan kartu itu mereka hanya membayar 19€80. Kartu ini juga memberikan bantuan sayur dan buah setiap minggunya dengan hanya membayar 2€50/1kg. Jadi bisa dibilang 500-600€ per bulan cukup untuk tinggal disana.
Beruntung bagi Nisa tak harus menyewa apartemen seperti kebanyakan teman-temannya yang dari indonesia, ia memiliki rumah peninggalan papinya. Meskipun terbilang kecil, rumah itu lebih dari cukup untuk menghemat biaya hidupnya selama di Perancis.
"Kamu di sini baik-baik ya. Jangan telat makan! Sering-sering telpon mami, video call, message juga, oke?" ucap maminya saat mereka akan berpisah di bandara.
Hari ini genap sebulan maminya menemani Nisa di Perancis, dan sudah saatnya bagi mami Nisa untuk pulang ke Indonesia.
"Iya mami ... Nisa pasti bakalan sering telpon mami. Nisa sayang mami" ucap Nisa sambil memeluk erat maminya seolah tak ingin berpisah dengan maminya.
Setelah dirasa cukuo lama, Nisa meregangkan pelukannya, ia sadar tak bisa menahan maminya lebih lama lagi karena pesawat maminya sudah akan take off. Ia melambaikan tangannya sambil terus menatap kepergian maminya. Ada bulir air mata yang jatuh di pipinya. Baru kali ini ia jauh dari rumah, jauh dari maminya, berada di negeri orang hanya sendiri. Tapi ia berusaha menguatkan diri untuk bisa melakukannya dengan baik.
.
.
Sore ini di akhir pekan, Nisa menikmatinya dengan berjalan kaki menuju sebuah taman. Ia duduk di bangku yang ada di taman itu sambil membaca buku yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Puis-je m'asseoir ici?" ucap seseorang di depan Nisa.
Terdengar seseorang berbicara bahasa Perancis lantas Nisa melirik ke arah sumber suara.
"Owh! What an amazing destiny. We finally meet again!" ucapnya lagi. Nisa masih terdiam, ia berusaha mencerna setiap kata yang terlontar oleh orang yang ada di hadapannya itu.
"We have met before. Remember?!" tanyanya yang membuat mulut Nisa membulat membentuk huruf "O" karena teringat sesuatu.
__ADS_1
"May i ... ?" ucapnya sembari menunjuk tempat kosong di sebelah Nisa. Nisa lantas mempersilakan orang tersebut untuk duduk di sebelahnya. Bangku itu cukup untuk di duduki oleh tiga orang sehingga Nisa tidak keberatan jika ia duduk di sebelah Nisa.
"Edmund ... !" ucapnya lagi sambil menyodorkan tangan.
"Nisa ... !" ucap Nisa menyambut tangan Edmund. Ia kembali berkutat pada buku bacaannya.
"Do you live around here?" tanya Edmund mengalihkan Nisa kembali dari perhatiannya pada buku yang ia baca.
Nisa mendelik merasa sedikit terganggu.
"I guess you're not a native Frenchman, aren't you?" ucap Nisa kemudian yang membuat Edmund tertawa renyah mendengar pertanyaan Nisa.
Bagaimana tidak, Nisa sudah mempelajari beberapa culture dari penduduk Perancis yang terbilang cuek dan individualisme, mereka tidak mau mengganggu urusan orang lain dan juga tidak mau diganggu. Mereka cenderung sangat berhati-hati dengan orang asing. Mereka sangat menghargai orang asing yang bisa berbahasa Perancis.
Ditilik dari cara Edmund terus menerus bertanya seolah ingin menarik perhatian Nisa agar mau berbincang dengannya seolah menunjukkan dirinya bukanlah bagian dari culture warga Perancis.
"I'm frenchman but I have learned a lot about Indonesian culture. Mereka ramah" ucapnya.
Nisa benar-benar sudah kehilangan minat membacanya ketika "bule" di depannya mengucapkan kalimat terakhir yang membuatnya menjadi tertarik untuk mengobrol dengannya.
"Kau bisa berbicara Indonesia? How can? I mean ... something like that" ucap Nisa sumringah. Ia merasa menemukan teman mengobrol di luar dari teman-temannya di kampus yang berasal dari Indonesia.
"Sedikit ... tidak terlalu lancar. But I understand what Indonesian people say" ucapnya disertai gerak tubuh khas orang Perancis.
"Kamu pelajar di L’Université d’Angers, right?" tanyanya.
"Bagaimana kau bisa tahu? Are you stalking on me?" tanya Nisa penuh selidik.
"No no no. Itu karena saya juga belajar di sana". Ia menggeleng cepat agar Nisa tidak menyangkanya seorang penguntit.
"Saya pelajar di bidang Tourisme et Loisirs (Tourism Management). Saya sering lihat kamu di sekitar kampus. So i guess kamu juga pelajar di sana" ucapnya.
"Oh yes, you are right!" ucap Nisa.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya" ucap Edmund.
__ADS_1
"Pertanyaan yang mana?" tanya Nisa berusaha mengingat rentetan pertanyaan yang dilontarkan Edmund padanya.
"Apa kamu tinggal di daerah sini?" ucapnya mengulang pertanyaan yang sebelumnya memakai bahasa Inggris.
"Oh, ya! Aku tinggal di dekat sini. Tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan beberapa menit dari sini" jawab Nisa.
Tanpa terasa mereka asyik mengobrol sehingga lupa jika matahari sudah beranjak meninggalkan peraduannya.
"Oh! Aku harus pulang sekarang. Ini sudah mulai gelap. Semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Nisa saat melihat jam tangannya. Ia kemudian berdiri dan bersiap untuk melangkah pergi.
"Boleh saya antar kamu sampai rumah? Hari sudah mulai gelap, aku temani kamu, boleh?" ucapnya dengan berusaha menyusun kalimat bahasa Indonesia agar bisa dipahami oleh Nisa.
Tak ada pilihan lain selain mengijinkan Edmund mengantarnya, Nisa juga merasakan sedikit takut jika pulang sendiri.
.
.
.
🌺 hai readers..
Perjalanan Nisa di negeri orang sepertinya akan menarik. Apalagi udah ada yang menemani si babang ganteng Edmund.
Oh ya, untuk dialog Nisa dan Edmund selanjutnya sebisa mungkin author bakal pakai bahasa Indonesia, tapi kalau dialognya Real English maka gak bisa author ganti. So siapin dictionary kalian ya gaess...😀
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕