Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 17


__ADS_3

>>Author<<


"Bagian ini diperbaiki lagi, rumusan masalah, pemecahan masalah dan metodenya harus berkesinambungan, silakan kamu perbaiki lagi, minggu depan kamu bisa menghadap pada bapak lagi ya, oh iya Ocha kalau kamu mau ikut wisuda tahun ini, kamu harus menyelesaikan revisi secepatnya ya" ucap dosen pembimbing Ocha.


Ocha keluar dari ruangan dosen, melangkah lesu menuju kantin.


"Haaahh... revisi lagi deh" keluh Ocha.


Ocha melangkah gontai menuju kantin kampus. Pikirannya semrawut, target final skripsinya adalah bulan depan, jika ingin ikut wisuda tahun ini, maka harus ikut sidang skripsi 3 bulan lagi.


"Mang Dul mie ayam ceker satu ya, eh ga jadi mang, aku pesen baso aja!" ucap Ocha. Ocha mengurungkan niatnya memesan mie ayam, ia jadi teringat insiden memalukan gara-gara mie ayam.


"Siap neng Ocha" ucap mang Dul.


"Eh gila lo, masa si Intan lo embat juga, wah udah jago jadi playboy nih kayanya" suara seseorang di seberang mejanya.


"Yah rejeki kan jangan ditolak, dia sendiri yang deketin gue, ya gue sikatlah" ucap suara yang dikenali Ocha. Dan benar saja itu adalah suara Doni mantannya. Ocha melirik sekilas ke arah seberang tempat duduknya, memastikan bahwa suara itu milik Doni.


"Dasar brengsek, jadi emang inilah wajah asli Doni, bejat!" Ocha memaki Doni dalam hati, sambil meneruskan makan basonya.


"Eh Don, itu bukannya Ocha ya, mantan elo?" ucap teman Doni yang daritadi bersama Doni.


Doni menatap ke arah yang ditunjukkan temannya, ternyata cewek yang diseberang bangkunya benar Ocha, mantan pacarnya. Doni lantas bangkit dan berpindah ke meja Ocha. Duduk di hadapannya.


"Mau ngapain sih nih brengsek! Ganggu pemandangan aja!" dengus Ocha dalam hati. Ia masih acuh dengan pergerakan Doni, hingga akhirnya Doni memulai obrolan dengan Ocha.


"Apa kabar Cha?" ucap Doni mulai menyapa Ocha. Tapi Ocha tak bergeming, ia sibuk menikmati makanannya.


"Sendirian aja? Gak ada yang nemenin nih?" Doni bertanya lagi, pertanyaannya kini lebih menjurus menyindir Ocha. Ocha yang paham sindiran Doni lantas mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada mamanya.


"Ditinggal aku, kamu kok jadi keliatan tambah cantik ya" ucapan Doni semakin kurang ajar, apalagi tangannya hendak menggenggam tangan kiri Ocha.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar ya!" bentak Ocha menarik tangan kirinya supaya tidak disentuh Doni.


"Alah.. Cha, jangan sok jual mahal gitu dong, aku yakin kamu kangen kan sama aku?" ucap Doni.


"Ini cowok kepedean banget sih! Brengsek!"


"Aku yakin banget kamu masih cinta sama aku, iya kan?!" ucap Doni semakin gencar beringsut mendekati Ocha.


"Apaan sih?! Pergi sana jauh-jauh! Jangan ganggu aku!" ucap Ocha semakin marah.


"Aduh lama banget sih, mama udah nelpon belum sih?!" gumam Ocha gelisah. Ia menunggu balasan chat dari mamanya.


Tiba-tiba terdengar suara yang sudah sering mampir di telinga Ocha.


"Ocha kamu sakit lagi?! Kamu makan sambel lagi ya?!" ucap suara itu dan ternyata Abi datang dengan tergesa-gesa mendatangi meja Ocha. Ia melirik mangkok bekas makan Ocha yang berkuah merah, ia hawatir sekali.


"Mas langsung ngebut kesini setelah dapat pesan dari mama kamu. Mas hawatir magh kamu kambuh lagi" cerocos Abi tanpa jeda, ia tak sadar ada mata yang terus menatapnya. Doni.


"Ocha gak papa kok mas sayang.." kedua lelaki disamping dan di depannya berekspresi sama. Kaget.


Abi kaget dan juga tak percaya pada pendengarannya. "Tadi Ocha bilang apa? Sayang?"


Doni juga kaget dan heran. "Ocha bilang sayang? Siapa dia?"


"Tapi tadi mama kamu telpon mas, katanya kamu sakit perut lagi, jadi mas langsung ngebut dari sekolah kesini jemput kamu" ucap Abi masih belum bisa menghilangkan kekhawatirannya.


"Aduh nih mama bikin orang panik aja, gimana coba kalau pas mas Abi saking ngebutnya dijalan kenapa-kenapa. Hiiyy.. serem ngebayanginnya" gumam Ocha dalam hati.


Padahal Ocha mengirim pesan ke mamanya untuk menelpon Abi menjemputnya dengan alasan ban motornya bocor. Ia sengaja menyuruh Abi menjemputnya supaya Doni tak lagi mendekatinya dan mengganggunya lagi. Ia mau menunjukkan pada Doni bahwa ia dengan mudahnya move on, melupakannya dan punya pengganti dirinya.


"Iya masku sayang... aku gak papa kok, oh ya ini kenalin mas, temenku namanya Doni" ucap Ocha kemudian memperkenalkan Abi pada Doni.

__ADS_1


Meski Abi masih sedikit terkejut karena Ocha beberapa kali memanggilnya dengan kata sayang, tapi ia bisa mengendalikan ekspresinya agar tidak dilihat siapapun bahwa ada senyum tipis menghiasi bibir Abi. Rasa senang dipanggil sayang.


"Abi.. tunangan Ocha!" ucap Abi mantap sambil menjabat tangan Doni.


"Mantap, bagus mas! Sempurna deh aktingku jadinya meyakinkan Doni, kalau aku sudah punya tunangan" gumam Ocha sambil menyunggingkan senyum tipisnya, tanda kemenangan.


"Oh iya mas udah makan belum? Aku pesenin sesuatu ya, sayang mau makan apa?" ucap Ocha sambil memegang tangan Abi. Ia sengaja memegang tangan Abi di atas meja agar Doni melihatnya.


"Apa aja, terserah Ocha saja" ucap Abi, ia sedikit membulatkan matanya melihat tangannya digenggam Ocha.


"Ya udah aku pesenin gado-gado saja ya sayang" Ocha memesan satu porsi gado-gado untuk Abi dan air mineral untuk minumnya.


"Sini aku suapin ya sayang" ucap Ocha saat gado-gadonya sudah dibuatkan. Ocha menyuapi Abi perlahan. Abi benar-benar dibuat terkejut terus dengan sikap Ocha. Hatinya dipenuhi perasaan senang yang berlebih.


"Aduh ni cecunguk gak pergi-pergi sih! Sampe kapan aku harus akting mesra-mesraan gini, jijik tauk!"


Ocha terus menyuapi Abi dan sesekali mengelap bibir Abi dengan tisu.


"Udah cukup Cha, biar mas makan sendiri, nanti kamu pegel nyuapin mas terus" ucap Abi, tangannya menghentikan tangan Ocha yang mau menyuapkan lagi ke mulut Abi.


Ocha tersenyum lembut.


"Yes! Akhirnya selesai juga adegan suap-suapan. Tapi ini ceceunguk napa gak pergi-pergi juga sih! Betah amat didepan aku!"


Doni terpana melihat pemandangan di depannya. Ia tak percaya, seorang Ocha yang dulu sama sekali enggan disentuh malah sekarang dengan lancarnya menyentuh bahkan menggenggam tangan lelaki itu. Sungguh menakjubkan! Ada rasa penyesalan di hati Doni melihat perhatian Ocha yang melimpah pada lelaki itu. Seandainya ia masih berpacaran dengan Ocha, mungkin Ocha akan lebih agresif lagi daripada hanya sekedar menyuapi saja, pikir Doni.


"Ocha aku pergi dulu, aku ada perlu dengan dosen, permisi" ucap Doni pamit


"Akhirnyaa... pergi juga!" ucap Ocha lega.


"Oke udah selesai drama nya, mas pulang gih!" ucap Ocha.

__ADS_1


"Gak bisa..!" ucap Abi. Abi sudah kebal dengan kelakuan Ocha, karena itu ia tak pernah sedikitpun merasa tersinggung dan marah pada Ocha. Ia selalu bisa menebak akan berakhir seperti apa perlakuan Ocha pada dirinya. Seperti sekarang, meski ia tahu kalau perlakuan sayang Ocha hanyalah sebuah drama, tapi bagi Abi yakin suatu saat semua itu akan menjadi kenyataan kelak.


__ADS_2