
>>author<<
"Hei sayang, tambah cantik aja nih Naura" sapa Abi pada si kecil Naura, anak perempuannya Bagas.
"Ayahmu ada gak?" tanya Abi.
Gadis kecil itu langsung berlarian ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian ia menarik tangan ayahnya keluar rumah.
"Ada apa sayang, kok narik-narik tangan ayah, nak?" ucap Bagas lembut pada gadis kecilnya.
"Eh elu Za! Kirain siapa, kenapa gak langsung masuk aja sih?! Biasanya juga lu langsung nyelonong aja ke bengkel" sapa Bagas saat melihat ternyata orang yang ditunjuk putrinya adalah Reza alias Abi.
"Gue cuma bentar disini, mau ngasih ini, tolong diurus ya" ucap Abi sambil menyerahkan laptop pada Bagas.
"Laptop lu kenapa lagi? Rusak lagi?" tanya Bagas.
"Iya nih gak bisa buka file tertentu" ucap Abi sambil menyerahkan laptopnya pada Bagas.
"Ya udah gue cek dulu ya" ucapnya lalu membuka laptop milik Abi.
"Ya udah gue tinggal ya, kabari kalau udah beres" ucap Abi sambil beranjak pergi.
"Eh lu gak nongkrong dulu nih, ngopi dulu lah minimal, buru-buru amat, mau kemana sih, tumben" ucap Bagas heran melihat sohibnya gak biasanya langsung pergi.
"Gue mau jemput papanya Ocha dari rumah sakit" ucap Abi sambil bersiap memakai helmnya.
"Ciye..ciye.. jemput camer nih ceritanya. Ya udah deh ati-ati lu. Buruan jangan kelamaan lah, nunggu apa lagi sih lu, gue tunggu undangannya besok ya" ledek Bagas yang membuat semu merah di pipi Abi.
__ADS_1
"Brisik lu! Ya udah gue pergi dulu, benerin tuh laptop gue, ampe sehat wal'afiat" ucap Abi.
"Iya nanti gue kasih obat kuat, biar bisa on tahan lama" ledek Bagas yang langsung disambut oleh lemparan sendal miliknya oleh Abi.
Abi melajukan motornya pulang. Sebenarnya yang membuatnya ingin buru-buru pulang bukan karena alasan tugasnya menjemput orang tua Ocha. Tapi rasa rindu yang menggebu, ingin segera melihat wajah Ocha lagi. Ditambah lagi tadi oagi, ia tidak bisa bertemu sebelum berangkat kerja, membuat level rindu di hatinya memuncak.
Semalaman ia tidak bisa tidur karena hawatir pada Ocha yang takut gelap. Tapi ia juga gelisah karena pujaan hatinya berada dekat sekali hanya dibatasi oleh tembok dapur. Perasaan yang tidak karuan, ingin selalu dekat dengan gadis yang sudah mencuri hatinya.
.
.
"Assalamualaikum, bu!" ucap Abi masu k ke dalam rumah mencari ibunya.
"Wa'alaikum salam" jawab ibunya.
"Baru pulang langsung nanyain Ocha, biasanya yang ditanyain menu makan siang. Wah harus secepatnya ini" ledek ibunya.
"Ibu tuh apa sih, mas kan di amanatin sama mamanya buat nganterin Ocha nanti sore, wajar dong kalau nanyain orang yang diamanahinnya lagi kemana" ucap Abi sambil membuka kancing lengan kemejanya.
"Iya deh, pinter aja ngeles nya. Ocha lagi di kamar, kayaknya masih tidur. Mas mau langsung makan?" tanya ibunya.
"Nanti aja bu, mas masih gerah, pengen mandi dulu" ucap Abi. Ia sengaja menahan rasa laparnya demi bisa melihat pujaan hatinya terlebih dahulu.
"Ya udah, nanti minta bi Anah manasin lauknya, Ocha juga belum makan, ibu tinggal istirahat ke kamar dulu ya mas" ucap ibunya yang kemudian berjalan ke kamarnya.
"Ocha juga belum makan? Makan bareng Ocha aja deh, sekarang mandi dulu. Tapi gimana mau mandi, bajuku ada di dalam kamar Ocha" gumam Abi.
__ADS_1
"Aku coba ketuk pintu dulu deh, mungkin dia sudah bangun" ucapnya.
Beberapa kali pintu diketuk tak ada jawaban. Abi mulai bingung, bagaimana ia mengambil baju ganti di kamarnya. Ia kemudian mencoba membuka gagang pintu, dan ternyata tidak terkunci.
Abi membuka perlahan pintu kamarnya. Ia melihat Ocha tertidur sangat pulas di ranjangnya. Abi masuk ke kamar dengan perlahan, ia takut membangunkan Ocha yang sedang tidur. Ia langsung membuka lemari baju, mengambil beberapa kaos dan celana santainya. Ia tertegun sejenak saat memegang handuk kimononya.
"Kok handukku basah? Apa kamarnya bocor ya?" ucap Abi perlahan sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Mengecek apakah kamarnya bocor sehingga membuat handuknya basah. Tapi ia tidak melihat ada lubang di langit-langit kamarnya. Kemudian ia mengendus handuknya, tercium aroma yang pernah ia rasa sebelumnya.
"Wanginya kayak pernah kenal, dimana ya" tanpa berfikir lama, ia langsung menengok ke arah Ocha yang tengah tertidur lelap. Jelaslah sekarang itu adalah aroma tubuh Ocha. Penjelasan bahwa handuknya basah karena sudah dipakai Ocha sebelumnya.
"Haahh ini sih benar-benar menguji iman" gumam Abi.
Abi mengambil handuk yang baru dari lemari. Ia tak jadi menggunakan handuk bekas Ocha. Ia takut tak bisa menahan hasratnya nanti di kamar mandi jika memakai handuk beraroma Ocha.
"Dia siapa?" gumam Ocha.
Abi tersentak kaget, dia langsung menoleh ke arah Ocha. Ia mengira Ocha terbangun, ternyata hanya mengigau.
"Aku harus cepat keluar dari kamar, oh iya aku harus ambil sesuatu dulu di nakas" ucap Abi lalu berjongkok mengambil sesuatu di laci nakas samping ranjang.
Tanpa sengaja Ocha berpaling ke arah samping ranjang dan tangannya menyentuh pipi Abi. Wajah Abi secara spontan kemudian memanas, mendapat sentuhan dadakan dari Ocha. Ia berusaha sekuat tenaga menahan gejolak yang mendorong hatinya untuk melakukan tindakan impulsif. Ia terduduk lemas di lantai, menetralkan perasaannya.
Punggung tangan Ocha masih menyentuh pipi Abi. Sesaat kemudian, tangannya bergerak perlahan naik turun, seolah sedang mengusap sesuatu dalam mimpinya. Sedangkan Abi berada di puncak kegalauan hatinya.
Tak kuasa menahan gejolak yang berkecamuk di hatinya. Benteng pertahanannya roboh, ia akhirnya dengan perlahan menoleh ke samping, sehingga tangan Ocha tepat berada di atas bibirnya. Ia mengecup tangan Ocha cukup lama, hingga akhirnya ia tersadar dan mendorong dirinya ke belakang. Menjauhi tangan Ocha. Ia berdiri lalu bergegas keluar kamar, sebelum tindakannya melebihi dari itu.
"Bisa mati jantungan aku kalau terus begini" ujarnya sambil mengelus dada saat sudah berada di balik pintu kamar Ocha.
__ADS_1
Abi langsung bergegas ke kamar belakang. Ia benar-benar butuh mandi saat ini. Mengguyur kepala dan tubuhnya yang mulai memanas karena sentuhan tadi.