Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 12


__ADS_3

>>still author<<


"Hmm.. bapak lagi deh manggilnya" gumam Abi dalam hati.


Abi tersenyum, lalu menaiki motor ninjanya, disusul Ocha di belakangnya. Lalu motornya melaju perlahan memecah jalanan kota yang macet di akhir pekan. Sebenarnya motor ninjanya bisa saja melaju kencang dan menyalip kendaraan di depannya. Tapi Abi mengurungkan niatnya, ia khawatir Ocha tidak terbiasa dengan laju kencang kendaraannya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di resto seafood langganan Abi. Abi menghentikan laju motornya.


"Kenapa kesini?" tanya Ocha.


"Kita mau makan dulu, tadi mukamu merah, aku khawatir kamu sakit karena belum makan siang" jawab Abi.


"Tapi aku gak mau makan di resto seafood ini" kilah Ocha menolak, soalnya suasana resto tersebut di dominasi oleh dekorasi bernuansa romantis karena letak resto itu dekat dengan pantai. Padahal perutnya sudah lapar sekali, apalagi dia pencinta makanan laut. Tapi ia tidak mau berada di resto itu berduaan saja dengan Abi.


"Kamu bukannya suka seafood y? Jadi aku bawa kamu kesini" ucap Abi polos. Wajah Ocha bersemu merah, ia tak menyangka kalo Abi tahu makanan kesukaannya.


"Tahu darimana aku suka seafood?!" tanya Ocha masih juga gigih bertahan agar tidak masuk ke resto itu. Mereka berada di parkiran motor di bawah pohon mangga milik resto itu.


"Tuh mukamu merah lagi, ayo masuk, kita makan disini saja" ucap Abi semakin hawatir.


"Jawab dulu!" ucap Ocha dengan nada sedikit meninggi. Abi mengerutkan dahi, bingung dengan sikap Ocha. Kenapa Ocha harus menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Tapi Abi tetap menjawab dengan lembut.


"Aku tahu waktu main ke rumah kamu di saat jamuan makan malam beberapa waktu yang lalu, mamamu memasak berbagai masakan laut. Mamamu juga yang mengatakan di depan kami semua kalau kamu sangat suka udang asam manis" penjelasan Abi membuat Ocha semakin malu, kini tidak hanya pipinya yang bersemu merah, bahkan sekarang telinganya pun memerah karena saking malunya. Ia merutuki pertanyaan bodohnya. Ia sampai lupa dengan kejadian perjodohan beberapa waktu yang lalu. Bodoh kamu Cha!


"Ayo masuk! Mukamu lebih merah dari yang tadi" ajak Abi.


"Aku gak mau makan disini! Aku mau makan mie ayam!" ucap Ocha ngasal, yang penting pergi dari resto romantis ini, pikirnya.


"Oke kalo begitu, kamu mau makan mie ayam dimana?" tanya Abi.


"Di kantin kampusku!" jawab Ocha. Ia pikir jika makan di kampusnya bisa lebih tenang karena tempatnya ramai, jadi bukan seperti sedang kencan berduaan saja.


"Ya udah ayo naik!" Ocha menurut saja kemudian Abi melajukan lagi motornya ke arah kampus Ocha.

__ADS_1


.


.


"Mang Dul mie ayam ceker 2 ya!" teriak Ocha.


"Eh...mang saya gak pake ceker ya, mie ayam biasa saja" sahut Abi. Ia tidak suka ceker, menurutnya memakan ceker seolah seperti makanannya diinjak-injak oleh si ayam.


"Hei Cha..! Tumben ke kampus? Ngapain? Ada bimbingan?" sapa seseorang dan ternyata Nisa.


"Oh gak kok, aku lagi pengen makan mie ayam di sini saja" jawab Ocha sambil menuangkan saos dan sambel ke dalam mangkok mie ayamnya setelah tadi mie ayam mereka sudah jadi dibuatkan oleh mang Dul.


Abi melirik Ocha yang menuangkan banyak sambel, ia sedikit hawatir nanti Ocha bisa tambah sakit. Akhirnya tanpa sadar ia memegang tangan Ocha yang sedang menuangkan botol saos, agar Ocha menghentikan menuangkan saos.


"Apaan sih?! Lepas!" Ocha menarik kasar tangannya, lalu menaruh botol saosnya di meja.


"Maaf bukan maksudku memegang tanganmu, aku hanya menghentikan kamu menuangkan saos sebanyak itu, takut nanti kamu sakit perut" ucap Abi setelah sadar perbuatannya tadi. Ocha masih saja merengut, kesal tangan mulusnya dipegang laki-laki itu.


"Siapa Cha?" bisik Nisa pada telinga Ocha. Ia yang dari tadi memperhatikan mereka akhirnya penasaran melihat ada cowok ganteng duduk di depan Ocha.


"Saya Abi, tunangan Ocha" sambil menjabat tangan Nisa memerkenalkan diri. Ocha melotot mendengar perkataan Abi.


"What?! Tunangan?! Sejak kapan?" gumam Ocha dalam hati.


"Wah selamat Cha akhirnya pangeran berkuda putihmu datang juga, selamat ya say!" Nisa memeluk bahu Ocha dari pinggir. Ocha hanya diam saja, malas menanggapi ucapan selamat yang menurutnya salah alamat.


"Eh Cha aku pergi dulu ya, dosen pembimbingku sudah datang tuh, nanti aku chat kamu ya, bye..!" Nisa lalu berlari keluar kantin mengejar dosen pembimbing skripsinya.


Hening seketika diantara mereka, tak ada yang mau memulai obrolan, apalagi Ocha yang masih kesal pada Abi karena 2 hal : tangannya di pegang dan dibilang tunangannya. Ia sibuk memakan mie ayamnya.


"Kamu gak ada bimbingan?" tanya Abi berusaha memulai obrolan.


"Gak ada!" jawab Ocha singkat lalu melanjutkan lagi makan mie ayamnya.

__ADS_1


"Skripsimu sudah sampai mana?" tanya Abi lagi.


"Akhir!" jawab Ocha malas. Tiba-tiba ia merasakan perutnya melilit sakit. Sial! Kenapa melilit segala sih nih perut! Aduh!!"


Ocha memegang perutnya perlahan, ia takut Abi sampai tahu kalo dirinya sedang sakit perut gara-gara makan sambel kebanyakan. Kan malu kalo ketauan sakit gara-gara sambel!


Tapi mata Abi lebih jeli, ia melihat Ocha memegang perutnya. Kemudian ia menyodorkan air mineral miliknya pada Ocha. Abi memang memesan minuman mineral bukan minuman es.


"Nih minum, biar reda sedikit panas di perutmu" ucap Abi.


Dengan tergesa-gesa Ocha meminum botol air mineral milik Abi. Setelah menenggak habis isi botol itu, barulah mata Ocha melotot. Ia baru tersadar bahwa botol itu sudah diminum Abi sebelumnya.


"Ocha kamu begoo! .. begoo! Kenapa main tenggak aja sih! Ini kan sama aja artinya dengan ciuman tidak langsung! Begoo!!!"


Ocha memegang bibirnya, mengusapnya dengan tisyu sebanyak mungkin.


"Kenapa? Masih sakit? Kita pulang sekarang ya, aku antar kamu ke rumah. Di rumah ada obat diare gak?" tanya Abi polos tidak tahu situasi yang sedang Ocha hadapi.


"Atau mau aku antar ke dokter saja?" dengan cepat Ocha menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, bentar ya aku bayar dulu" ucap Abi.


"Aduh gimana nih, bibirku udah ternodai, ah..bikin ga mood aja sih!" gumam Ocha.


.


.


Di perjalanan pulang perut Ocha semakin sakit, akhirnya tanpa sadar ia mendekatkan kepalanya pada punggung Abi, bersandar. Sambil tangannya terus memegang perutnya menahan sakit. Abi yang mengerti keadaan Ocha akhirnya menarik gas motornya agar melaju lebih kencang. Karena laju motor Abi yang semakin kencang, akhirnya refleks tangan Ocha yang satunya memegang pinggang Abi erat.


"Ayok turun, kita udah sampai" ucap Abi. Tapi tak ada reaksi dari Ocha yang duduk di belakang. Beberapa saat kemudian, Ocha turun perlahan dari motor Abi.


Abi membawa Ocha pulang kerumahnya. Ia sebelumnya sudah meminta ibunya mengabari mamanya Ocha dan mama Ocha menyuruhnya untuk dibawa kerumah Abi saja, karena dirumah Ocha tidak ada orang. Sedangkan kalau di rumah Abi ada pembantu Bi Anah, jadi bisa sementara dirawat disana. Mama Reni dan ibunya akan menyusul pulang menemui Ocha, jadi sementara mereka belum datang Ocha bisa dirawat dulu oleh bi Anah.

__ADS_1


Keringat dingin mulai keluar membasahi kening dan tangannya. Ocha merasa tak kuat berjalan sendiri. Dengan sigap Abi memapah tubuh Ocha ke dalam rumahnya. Tangan kanan Abi merangkul bahu Ocha, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Ocha yang sudah basah karena keringat dingin.


__ADS_2