
>>Nisa<<
Alhamdulillah aku telah berhasil menyelesaikan studi S1-ku dengan hasil yang memuaskan. Target selanjutnya adalah mendapat beasiswa S2 di luar negeri.
Aku harus fokus dan selalu semangat meraih cita-citaku. Semua kesenangan anak muda sudah kusingkirkan demi menggapai cita-citaku.
Ada rasa iri juga saat kulihat teman-temanku menikmati hari-hari mereka dengan bersenang-senang. Tapi aku harus fokus dengan tujuanku.
Delapan tahun lalu, tepatnya saat ulang tahunku yang ke-14 tahun. Hari yang tak pernah kulupa. Hari itu yang mengubah segalanya dalam hidupku.
Papi pergi untuk selamanya, aku selalu menyalahkan diri sendiri jika mengingat itu. Seandainya saja papi tidak memaksakan diri mengambil penerbangan Singapore-Indonesia demi menghadiri ulang tahunku. Seandainya saja ah..
Aku membuyarkan lamunanku tentang masa lalu yang penuh penyesalan ketika suara ketukan pintu kamar berbunyi.
"Ya masuk saja, gak dikunci kok"
Rupanya, Ocha, sahabatku yang mengetuk pintu.
"Hei, gimana kabarnya? Baru main lagi ke rumahku" ucapku sambil memeluk sahabatku itu.
"Iya nih, aku lagi sibuk sendiri di rumah ditambah lagi papaku kemarin masuk rumah sakit" ucapnya.
"Oh ya?! Papamu sakit apa?" tanyaku terkejut.
"Kata mama sih kecapean aja, terlalu stres bekerja" jelasnya.
"Oh gitu, semoga lekas sembuh ya papamu. Oh ya, Cha. Kamu udah kirim lamaran kemana aja Cha?" tanyaku.
"Udah kemana-mana tapi belum dapet panggilan kerja" ucapnya acuh sembari memainkan ponselnya bersandar di kepala ranjangku.
Aku melanjutkan lagi menatap layar laptopku mengerjakan beberapa naskah karya ilmiahku. Aku berbeda dengan Ocha yang hidupnya sangat santai. Aku harus bekerja keras untuk bisa membiayai kuliahku sendiri. Meskipun mami memiliki uang dari pensiunan papi, tapi aku tidak mau bergantung pada hal itu. Karena aku mengerti ada kakak-kakakku yang juga punya hak atas uang papi.
Aku bekerja sambilan melalui media online sebagai penulis naskah cerpen di salah satu majalah remaja. Meskipun uang yang didapat tidak terhitung banyak, tapi lumayanlah aku kumpulkan untuk meringankan biaya kuliahku.
"Kamu jadi mau meneruskan S-2 di Perancis? Itu jauh banget loh, Nis. Emang kamu sudah siap meninggalkan Indonesia? Meninggalkan mami?" ucapan Ocha kembali membuyarkan konsentrasiku mengetik naskah.
"Entahlah.." ucapku singkat.
"Kok jawabnya gitu?" ucap Ocha.
"Kamu 'kan tau, kalau aku selalu serius dalam mengambil keputusan apapun. Termasuk untuk hal meraih beasiswa ke luar negri. Tapi jika ditanya sudah siap atau belum meninggalkan semua yang kusayangi di sini, aku gak bisa jawab" jawabku sambil menatap lekat sahabatku itu.
__ADS_1
"Aku berharap, kamu bisa sukses meraih cita-citamu dan mendapatkan kebahagiaan dengan segala pilihanmu" ucap sahabatku.
"Oh ya Cha, gimana perkembanganmu dengan mas ganteng? Sudah sampai mana nih? Udah lama kamu gak curhat-curhat tentang dia" ucapku menggodanya.
Sejujurnya terbesit rasa iri di hati melihat Ocha mempunyai seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya. Ah.. jadi teringat laki-laki yang dulu pernah ku abaikan.
"Aku sudah pernah menginap di rumahnya" ucap Ocha, terdengar suaranya yang hati-hati saat mengucapkan kata "menginap".
"Menginap?! Serius?!" mataku terbelalak mendengar kata menginap. Sungguh diluar dugaanku, hubungan Ocha dengan calon tunangannya sudah sejauh itu.
"Ya ampun Ocha! Kamu kok jadi seperti remaja-remaja yang gak tahu malu gitu sih?!" sontak reaksiku jadi berlebihan. Aku merasa sahabatku sudah terjerumus dalam pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang.
"Eh..eh.. tenang dulu Nis. Ini gak seperti yang kamu pikirkan. Dengerin ya, sabar, tahan emosimu" ucap Ocha berusaha menenangkan reaksi kagetku.
"Jadi begini..." Ocha pun menjelaskan dengan detail alasan dia menginap di rumah calon tunangannya. Ada perasaan lega mendengar penjelasannya. Sungguh aku gak rela jika sahabatku itu terjerumus pergaulan bebas.
"Oh gitu, aku kirain kamu udah kerasukan setan. Syukurlah kalau begitu ceritanya" ucapku lega.
"Tenang aja Nis, sahabatmu ini masih punya harga diri kok" ucapnya sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.
"Lagipula, mas Abi ternyata orang yang sopan kok, dia menghormatiku sebagai wanita dewasa yang harus dijaga kehormatannya. Itu terbukti selama aku menginap disana, tidak ada kejadian yang merugikanku" jelas Ocha.
"Syukurlah kalau dia menghormatimu" ucapku ikut senang.
"Yuk, mami masak apa hari ini?" tanyanya.
"Ayo sini, Cha. Duduk dulu, tante siapkan ya makanannya" ucap mamiku saat kami berada di ruang makan.
"Iya tante, makasih" ucap Ocha sembari duduk di sebelahku.
"Tante hari ini gak masak makanan kesukaanmu, maaf yah. Tante gak tau kalau kamu mau main ke sini" ucap mamiku sambil menyediakan piring untukku dan Ocha.
"Iya tante, gak apa-apa kok, apapun yang dimasak tante pasti enak" ucap Ocha.
"Oh ya, Cha. Kata Nisa kamu sudah dijodohin ya sama bapak-bapak?" ucap mami tiba-tiba yang sontak membuat aku dan Ocha tersedak dari mengunyah makanan.
Aku tersedak karena mendengar kata "bapak-bapak" dari ucapan mami. Mami kok bisa menyimpulkan jodohnya Ocha seorang bapak-bapak. Padahal aku gak pernah bilang begitu, seingatku sih begitu.
"Ya ampun, maaf ya, apa tante ada salah bicara, ya? Kalian jadi tersedak bersamaan begitu?" ucap mamiku sambil menyodorkan minum untukku dan Ocha.
"Gak kok tante, Ocha makannya buru-buru tadi jadinya tersedak" ucap Ocha. Jelas ia berbohong.
__ADS_1
"Oh gitu, Ocha makannya jangan buru-buru dong, pelan-pelan aja" ucap mami.
Ocha melotot ke arahku seolah meminta penjelasan kenapa mamiku berkata seperti itu.
"Ya sudah, makan yang kenyang ya, Cha. Tante tinggal ke belakang dulu ya" ucap mami setelah selesai menyediakan buah-buahan di meja makan.
"Nisaaa!!! Kamu cerita apa aja ke mamimu?!" ucap Ocha dengan nada pelan tapi tetap ada penekanan di ucapannya.
"Aku gak cerita yang macem-macem kok. Suer deh!" ucapku sambil mengacungkan dua jariku, jari telunjuk dan jari tengahku.
"Kok mami bilang aku dijodohin sama bapak-bapak?! Emang kamu ceritanya gimana ke mami, hah?!" ucapnya makin geram.
"Aku cuma bilang, Ocha mau dijodohin sama anak temen papanya yang kepala sekolah" jelasku.
"Ya ampun Nis! Mamimu jadi salah tanggap dengan kalimatmu itu! Dikira yang mau dijodohin sama aku adalah teman papaku yg jadi kepala sekolah. Pantas saja, mami bilang bapak-bapak, hadeuuhh.." ucapnya sambil tepok jidat.
"Ya maaf, Cha. Aku gak tahu kalau mami salah paham dengan omonganku. Maaf yah, pliiss.." ucapku memohon.
"Ya sudahlah, gak apa-apa juga. Lagian dia juga dipanggil bapak kok di sekolahnya" ucapnya.
"Kamu gak marah kan, Cha?" tanyaku was-was.
"Ya enggaklah Nisa sayang. Kamu kan sahabat terbaikku" ucap Ocha seraya memelukku.
.
.
.
🌺hai readers..
maafkan yah Miyoung lama up, hihihi..
tapi beneran deh gak ada maksud menggantung ataupun php, tapi dikarenakan lokdon, akhirnya otakpun ikutan lokdon (hehe ga ada hubungannya ya)
tapi anyway, Miyoung ucapkan banyak terima kasih buat kalian yang masih setia mendukung Miyoung dalam corat-coret unfaedah ini.
tetep semangat, dan tetap jaga kesehatan ya, semoga pandemic ini tak akan lama
love you all
__ADS_1
lots of love from Ro Miyoung 💕💕😘😘