
>>author<<
"Yang ini aja ya jeng, kayanya bagus, simple tapi ada kesan mewahnya ya" ucap bu Arni pada besannya saat menunjuk salah satu cincin berwarna putih dengan ornamen diamond di tengah cincinnya.
"Kalau aku sih terserah jeng Arni dan nak Abi saja" ucap mama Reni.
"Kalau Ocha sayang, bagaimana? Suka gak?" tanya bu Arni.
Baru saja Ocha membuka mulutnya dan belum sempat Ocha mengeluarkan suara, langsung disambar oleh Abi.
"Langsung coba saja bu ke jari Ocha" ucap Abi.
Ia lalu dengan gesit mengambil cincin itu dan tanpa meminta ijin Ocha lagi, ia langsung menarik jemari tangan Ocha. Ia memasukkan cincin emas putih itu ke jari manis Ocha. Dan ternyata pas!
Bu arni dan mama Reni terperangah dengan tindakan impulsif Abi. Mereka saling berpandangan terkejut, ternyata Abi bersemangat sekali memilihkan cincin untuk Ocha. Ada rona bahagia di wajah mama Reni.
"Syukurlah, Ocha mendapatkan pasangan hidup yang mencintainya" gumam mama Reni.
"Mba! Saya mau yang ini tolong dengan kotak perhiasannya juga yang itu" tunjuk Abi ke arah kotak perhiasan merah yang sedari tadi ia perhatikan.
Kotak perhiasan itu adalah kotak unik dengan berbentuk hati yang merupakan kotak berlapis dua. Abi sengaja membelinya, karena ia berniat kelak jika sudah memperistri Ocha, ia akan kembali lagi ke toko perhiasan itu dan membelikan perhiasan lainnya untuk Ocha.
"Wah, jeng Reni, sepertinya kita sudah tidak diperlukan lagi nih di sini, dunia hanya milik mereka berdua. Kita cuma figuran ya, jeng" ucap bu Arni dengan nada menggoda anaknya.
Abi tersentak mendengar celoteh ibunya. Spontan tersadar dari tindakannya tadi karena terbawa imajinasinya menyematkan cincin di tangan Ocha. Ia kemudian tersipu.
"Ehem..! Ibu apa sih bikin malu mas aja" bisik Abi pada ibunya.
"Ya sudah jeng, tugas kita disini sudah selesai, kita lanjut ke tempat WO yuk" ucap mama Reni.
"Loh, mah?! Aku gimana?" tanya Ocha bingung. Ia sama sekali belum tahu rencana keseluruhan hari sabtu ini.
"Kok bingung? Kamu dan Abi lanjut membeli perlengkapan yang lainnya. Mama dan tante Arni mau mengurus persiapan lainnya, oke?" jelas mamanya.
"Tapi mah..." ucapan Ocha menggantung saat mamanya menutup mulutnya dengan jari. Lalu pergi melambaikan tangan dari jauh.
Suasana tiba-tiba hening. Ocha merasa canggung berjalan berdua dengan Abi. Mereka masih terdiam setelah keluar dari toko perhiasan tadi.
"Kita beli minum dulu yuk, Ocha haus gak?" ucap Abi mengawali pembicaraan.
Ocha mengangguk, masih terdiam. Tak berapa lama atau bahkan sepersekian detik, Ocha merubah raut wajahnya menjadi terkejut. Ia kaget ketika tiba-tiba Abi menggandeng tangannya menuju cafe di mall tersebut. Ada perasaan hangat yang menelusup di relung hatinya. Perasaan berdebar bersentuhan dengan tangan Abi.
Ia tak berani menengok ke arah sosoknya. Hanya berani melirik sedikit, yang terlihat oleh ekor matanya hanyalah bahu laki-laki disampingnya yang kekar. Lalu beralih melihat tangan kirinya yang sedang digenggam oleh tangan Abi.
"Ocha mau minum apa?" tanya Abi setelah sampai di cafe dan mencari tempat duduk.
"Apa aja, terserah" jawab Ocha pendek.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abi.
"Apanya?" tanya Ocha balik.
"Ocha marah sama mas ya?" tanya Abi.
Ocha mengernyitkan dahi tak paham.
"Maksud, mas apa?" tanya Ocha tak mengerti.
"Ocha gak suka ya sama cincin pilihan mas?" tanya Abi.
"Kenapa mas punya pikiran seperti itu?" tanya Ocha semakin tak paham.
"Mas pikir Ocha gak suka sama cincin yang tadi dibeli, soalnya Ocha dari tadi diem aja dan jawabannya singkat gitu" ucap Abi.
Ia takut Ocha marah dan kecewa padanya. Padahal ia sungguh berharap hari ini bisa menghabiskan waktu dengan Ocha.
"Ya ampun, nih cowok baperan banget atau akunya yang emang bener keliatan badmood ya? Jadi ngerasa bersalah" gumam Ocha.
"Aku... laper" ucap Ocha bohong. Ia tak mau menjawab jujur bahwa alasan diamnya adalah karena gugup dan deg-degan jalan dengan Abi.
"Oh, Ocha lapar? Kenapa gak bilang sama mas dari tadi, Ocha mau pesan makanan apa?" tanya Abi sumringah.
Ocha melirik jam di tangannya. Jam 11.
"Cha! Ocha! Kok bengong?!" Abi akhirnya mengguncang tangan Ocha karena dari tadi Ocha tak juga bergeming dari lamunannya.
"Eh iya, mas, maaf" ucap Ocha terbata.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi banyak diemnya, sekarang malah bengong. Kenapa sayang?" ucap Abi lembut.
Ocha tersentak, telinganya menghangat mendengar kata sayang keluar dari mulut Abi. Degupan jantung semakin berpacu kencang. Ditambah usapan lembut tangan Abi pada punggung tangannya.
"Gak mikirin apa-apa kok. Ee...aku cantik gak, mas?" tanya Ocha spontan.
"Aduh begok! Kenapa pertanyaan itu sih yang keluar dari mulut" gumam Ocha sambil meringis menyadari kebodohannya.
Wajahnya seketika merah padam karena malu dengan perkataan sendiri.
"Ocha, cantik. Cantik banget. Gak ada yang lebih cantik dan manis di dunia ini selain perempuan di hadapan mas ini. Mas emang gak salah pilih calon istri" ucap Abi sambil menatap lekat bola mata Ocha.
Ocha merasa kikuk. Perasaannya jadi semakin kacau. Dan yang paling membuat telinganya semakin menghangat adalah perasaan "GeEr" karena dipuji. Kini hatinya serasa melambung ke atas awan.
"Apa sih mas, gombal!" ucap Ocha sambil tertunduk malu.
"Loh kok gombal? Mas serius, mas suka banget sama Ocha. Baru kali ini mas gak bisa tidur semalaman gara-gara besoknya mau pergi jalan-jalan sama perempuan" ucap Abi jujur.
__ADS_1
"Oh ya? Jadi, mas tadi malem gak bisa tidur?" tanya Ocha.
"Aduh jadi keceplosan 'kan" gumam Abi.
"Ah, ee.. anu gak kok" jawab Abi sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Hayo ngaku..beneran gak bisa tidur?" goda Ocha.
Dan selanjutnya suasanapun akhirnya mencair. Mereka mengobrol dengan santai dan seru tanpa ada "jaim (jaga image)" lagi.
.
.
"Mas, nonton yuk!" ucap Ocha tiba-tiba. Langkahnya terhenti saat ia melintasi bioskop di mall tersebut.
Setelah mereka makan di cafe tadi lalu membeli beberapa perlengkapan seserahan pernikahan, mereka berniat untuk pulang.
"Nonton?" tanya Abi.
"Iya nonton, ayolah. Aku udah lama gak nonton" ucap Ocha dengan wajah memelas sambil menarik tangan Abi.
"Aku cek jadwal film dulu ya" ucap Ocha.
"Tunggu, Cha!" teriak Abi yang membuat langkah Ocha terhenti.
"Kenapa? Gak mau nonton?" tanya Ocha sedikit kecewa.
"Bukan begitu, ini mas tangannya penuh loh. Jadi, sekarang Ocha cek jadwal dan beli tiketnya dulu aja, mas ke parkiran mau simpen barang-barang ini. Gak apa-apa 'kan?" tanya Abi.
Ia sebenarnya ingin menolak ajakan Ocha karena hari sudah sore. Jam ditangannya sudah menunjukkan angka lima, tapi ia tak tega melihat raut kecewa Ocha.
"Oke deh, nanti sekalian aku belikan popcorn dan minumnya" ucap Ocha lalu berjalan ke loket pembelian tiket bioskop.
"Mana kuat aku melihat wajah kecewamu, sayang" gumam Abi. Ia lalu bergegas ke parkiran mobil untuk menyimpan semua belanjaan.
.
.
.
🌺hai readers..
**jangan lupa klik like, komen dan vote bintang 5 nya ya, makasih
lost of love from Ro Miyoung 💕💕💕**
__ADS_1