Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 47


__ADS_3

>>abi<<


"Assalamualaikum ... bu, mas udah pulang nih!" seruku sambil menenteng belanjaan di kedua tanganku, yang tadi siang kubeli bersama Ocha.


"Wa'laikum salam, sini biar ibu bantu bawakan juga. Mas, sudah dapat semua barangnya?" tanya ibuku sambil mengambil beberapa barang yang masih tergeletak di teras rumah.


"Sudah semua bu, tapi mas masih belum puas" jawabku sambil melepas lelah duduk di sofa.


"Belum puas? Maksudnya belum puas bagaimana, mas?" tanya ibuku sambil mengecek barang-barang yang sudah terkumpul di ruang tamu.


"Ini sudah semua kok, sesuai dengan syarat seserahannya" ucapnya lagi setelah mengecek satu persatu.


"Iya, sudah semua terbeli, tapi Ocha sepertinya belum senang bu, karena semua barang itu dibeli atas dasar kata "terserah" dari mulut Ocha" terangku.


"Lalu gimana dong?" tanya ibuku bingung.


"Nanti mas mau ajak Ocha lagi, beli sesuatu yang benar-benar dia sukai, atas kehendak sendiri untuk jadi seserahan tambahan" ucapku lalu beranjak pergi ke kamar.


.


.


Aku baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi air hangat, tiba-tiba saja notif pada ponselku berbunyi. Dengan segera kubuka notif itu dan ternyata ada email masuk.


Sebelumnya kutanggalkan handuk dan lanjut memakai kaos lalu aku membuka laptopku. Ku cek notif email yang tadi masuk di ponselku melalui laptop.


*Kepada saudara Reza Fabian Prasetyo.


Dengan ini kami menyatakan bahwa pengajuan saudara atas program beasiswa luar negeri kategori Doktor sudah memasuki tahap seleksi pertama, namun berkas anda belum dapat kami proses karena ada beberapa berkas anda yang belum lengkap. Silakan anda melengkapi lembali berkas-berkas persyaratan untuk pengajuan program ini ke tahap selanjutnya. Paling lambat pengiriman berkas akhir bulan ini. Terima kasih*.


Aku membaca isi dari email yang ku terima. Ternyata informasi lanjutan dari program beasiswa S2 yang kuikuti. Aku mengecek kembali berkas-berkas persyaratan yang ku ajukan dan ternyata ada beberapa yng belum kulengkapi.


"Hmm ... besok sajalah kulengkapi saat di sekolah" gumamku.


Aku kemudian membuka akun medsosku untuk mencari informasi dari teman-teman kuliahku. Kulihat beberapa pesan yang masuk dan mataku langsung tertuju pada satu pesan yang ingin segera kubuka. Siapa lagi kalau bukan pesan dari teman dunia mayaku Kucing Hitam.


"Dia ternyata sudah bisa move on, bagus deh kalau begitu" lirihku menanggapi pesannya bahwa si kucing hitam sudah bisa membuka hati lagi.


"Ngantuk ... sudah dulu untuk hari ini. Besok dilanjutkan di sekolah" ucapku sambil meregangkan otot dan menutup laptopku lalu lanjut ke ranjang untuk tidur.


.


.

__ADS_1


.


Seperti biasanya, sepulang sekolah aku mampir ke bengkel milik Bagas.


"Bro ... ! Kemana aja nih, baru keliatan?" tanya Bagas saat aku membuka helm dan masuk ke dalam bengkel.


"Sibuk!" jawabku singkat sambil duduk di depan meja dan langsung mengeksekusi beberapa laptop rusak milik para pelanggan.


"Laptop itu sepertinya aku pernah lihat, tapi dimana ya" gumamku dalam hati. Aku tanpa sengaja melihat laptop yang sedang dipegang Bagas.


"Bro, laptop siapa tuh?!" tanyaku akhirnya karena rasa penasaranku pada laptop itu.


"Yang mana? Yang ini? Oh, ini punya si kakak manis" ujarnya sambil masih mengutak-atik laptop itu.


"Kakak manis? Istri ke berapa lu?" ucapku asal.


"Sembarangan lu kalau ngomong! Kedengeran bini gue, bisa-bisa gue tidur di bengkel nih" ujarnya sewot. Aku tersenyum terkekeh ternyata Bagas takut istri juga.


"Ini laptop baru datang tadi siang, udah gue utak-atik masih belum nemu juga nih masalahnya dimana, bingung gue, mana nih layar juga retak. Coba lu cek deh, gue nyerah" ujarnya sambil angkat tangan bak menyerahkan diri lalu menyodorkan laptop itu padaku.


"Coba sini gue cek dulu" ucapku lalu mengecek tiap inci dari laptop itu. Dan sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki karena selain layar yang retak mempengaruhi fungsi LCD juga karena komponen di dalamnya terkena benturan keras sehingga tidak bisa beroperasi lagi dengan baik.


"Kayaknya gak bisa diselametin deh, paling bisa menyelamatkan memory dan beberapa yang lain. Coba lu hubungi "si kaka manis" itu untuk mengambil kembali laptopnya" ucapku.


"Halo neng Siti, bisa ke toko sebentar, iya oke ditunggu ya" ucap Bagas kemudian menutup sambungan telpon.


"Za, lu jadi tunangan akhir bulan ini?" tanyanya setelah membereskan laptop milik si kaka manis.


"Jadi" ucapku singkat karena sedang serius memperbaiki mesin printer milik pelanggan yang rusak.


"Tanggal berapa? Gue boleh hadir gak?" tanyanya kemudian.


"Belum nentuin tanggal. Buat apa lu hadir? Ini acara internal. Hanya keluarga saja yang menghadiri" ucapku sambil mengerutkan dahi heran dengan permintaan sobatku yang satu itu.


"Yaelah Za, pelit amat lu! Gue 'kan pengen tau cewek lu, se-sexy apa sampai bikin seorang Reza klepek-klepek" ujarnya diselingi senyum mesum khas-nya.


"Otak lu tuh dicuci, ngeres mulu pikiran lu!" jawabku sambil melemparkan obeng ke arahnya.


"Gue ke toilet bentar, nitip nih printer, jangan di acak-acak kerjaan gue!" ucapku sambil beranjak pergi ke belakang.


.


.

__ADS_1


Terdengar suara Bagas berbicara dengan perempuan saat aku keluar dari toilet. Aku melihat sosoknya dari belakang, perempuan itu pasti si kaka manis yang dimaksud oleh Bagas.


Perempuan berkemeja kotak-kotak lengan panjang yang ditekuk setengah. Memakai celana jeans biru panjang. Rambutnya yang terikat digulung ke atas asal-asalan.


"Nah ini ada mas Reza, dia yang menangani laptop neng Siti" ucap Bagas saat aku mendekat yang otomatis membuat perempuan itu akhirnya menoleh ke arahku.


"Ocha ... !" ucapku dengan setengah meninggi karena kaget.


"Mas Abi ... !" dia pun sama kagetnya denganku. Matanya membulat saat melihat wajahku.


"Lah kalian sudah saling kenal toh?" tanya Bagas yang tak ku hiraukan.


Aku langsung menarik tangan Ocha untuk keluar dari toko. Membuat Bagas semakin terpaku bingung.


"Ocha kenapa kesini?" tanyaku setelah berada di luar bengkel. Aku sengaja menarik Ocha, agar Bagas tak meneruskan pertanyaan-pertanyaan lain.


"A-aku ... ah laptopku rusak" ucapnya terbata.


"Oh jadi laptop putih itu milikmu, Cha?" tanyaku yang akhirnya paham. Pantas saja aku seperti pernah melihat laptop itu sebelumnya dan ternyata laptop itu milik Ocha.


Dia mengangguk pelan. Nampak dari raut wajahnya sepertinya ia tak nyaman ngobrol denganku. Ada apa ya? Apakah dia marah padaku? Aku mengajaknya ke warung nasi samping bengkel Bagas. Dia tak menolak, tetapi masih dengan diamnya. Lalu ku belikan ia minum agar sedikit mencair suasana canggung kami.


"Ocha dari rumah?" tanyaku setelah minuman disediakan oleh pelayan warung nasi itu.


Dia menggeleng sambil menyedot minuman es jeruk yang kupesankan untuknya.


"Ocha marah sama, mas?" tanyaku akhirnya tak tahan dengan diamnya Ocha.


Dia menggeleng.


"Aku ... hanya .... " ucapnya menggantung, membuatku semakin penasaran.


.


.


.


🌺 hai readers..


jangan lupa like, ken dan votenya ya terima kasih


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕

__ADS_1


__ADS_2