
>>author<<
Tiba-tiba...
Ceklek.. suara pintu dibuka.
"Siapa ya?" terdengar suara barito setelah pintu terbuka. Sontak membuat Ocha kaget dan refleks membalikkan badannya ke sumber suara.
"Oh Ocha! Mas kira siapa yang ketuk-ketuk pintu" ternyata suara barito itu adalah suara Abi.
"Ah iya, maaf mengganggu mas. Ini anu eeee.." ucap Ocha tiba-tiba gugup.
"Ayo masuk dulu, ngobrolnya di dalam saja, jangan di depan pintu" ucap Abi sambil refleks tangannya menggamit tangan Ocha.
"Aw..!!" teriak Ocha tiba-tiba.
"Eh maaf, mas pegang tangannya kekencengan ya? Maaf" ucap Abi seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Bukan, bukan itu. Tapi, tangan mas Abi panas banget, aku agak kaget tadi" ucap Ocha.
"Mas Abi sakit demam ya? Badannya panas banget" ucap Ocha refleks tanpa sadar sudah mengecek dahi Abi dengan punggung tangannya, yang membuat Abi semakin panas karena setiap kali mendapat sentuhan dari Ocha, tubuhnya langsung bereaksi.
"Eee... iya, mas lagi kena demam. Ocha jangan dekat-dekat mas yah, takut ketularan" kilahnya, padahal ia berusaha menghindari tindakan impulsif lainnya dari Ocha yang membuat perasaannya semakin tak karuan.
"Ocha duduk dulu aja ya, mas ambilkan minum dulu" alasan Abi agar ia bisa menetralkan degup jantungnya akibat jarak yang terlalu dekat tadi saat Ocha mengecek suhu dahinya.
"Gak usah mas, aku gak lama kok" tolak Ocha.
"Gak apa-apa, sebentar ya, mas tinggal ke belakang dulu" ucap Abi lalu bergegas masuk ke dalam.
"Haduh..bakal lama lagi deh aku di sini" gumam Ocha.
"Ada apa mas? Kok panik gitu? Di depan ada siapa?" tanya bu Arni tiba-tiba mengagetkan Abi.
"Gak ada apa-apa kok bu. Di depan ada Ocha" jawab Abi.
"Ocha? Kenapa gak disuruh masuk aja? Kamu ini gimana sih?" ucap bu Arni lalu dengan cepat menemui Ocha yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ocha sayang, aduh kenapa gak langsung masuk ke dalam aja sih cantik?" ucap bu Arni sambil bercipika-cipiki ria.
__ADS_1
"Anu tante, Ocha disuruh mama antar makanan. Tadi Ocha ke sekolah mas Abi dan kata pak satpam bilang, pak eh mas Abi gak masuk karena sedang sakit. Jadi Ocha antar kesini" jelas Ocha sambil tersenyum kikuk.
"Oh gitu, iya mas Abi lagi demam sejak kemarin sore, Ocha sayang ayo masuk ke dalam yuk, kita sajikan makanan yang dibuat mamamu di meja makan" ucap bu Arni lalu dengan gesit menarik Ocha untuk ke ruang makan.
"Eh, apa?" Ocha tersentak kaget. Ia terlambat menolak ajakan bu Arni dan akhirnya menurut arahan bu Arni.
Dan akhirnya di sinilah, Ocha kembali duduk di meja makan berdampingan dengan Abi atas arahan bu Arni. Di depan Ocha sudah ada nasi dan lauk yang tadi ia bawa dari rumahnya.
"Nah, sekarang, Ocha suapi mas Abi ya, supaya mas Abi cepet sembuh dari demam" ucap bu Arni menggoda Ocha.
Entah mengapa, bu Arni senang sekali menggoda Abi dan Ocha. Menurutnya, pasangan Abi dan Ocha sangat manis karena si laki-laki yang malu-malu tapi mau dan si perempuannya ogah-ogahan tapi mau juga.
"Ayo, dimulai suapin mas Abi" ucap bu Arni masih tidak beranjak dari menatap keduanya.
"Aduh, kenapa jadi begini sih?! Nyuapin mas Abi di depan tante Arni, bikin kikuk aja deh!" gumam Ocha dalam hati.
"Aduh si ibu ngerjain aku terus nih, kalau begini, aku 'kan jadi tambah malu di depan Ocha" gumam Abi dalam hati.
Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya Ochapun menuruti perintah bu Arni. Ia akhirnya menyuapi Abi.
"Nah, gitu dong, 'kan enak lihatnya, ya sudah, lanjutkan ya, tante tinggal dulu" ucap bu Arni lalu pergi meninggalkan mereka yang sedang dilanda perasaan canggung.
"Gak apa-apa mas, biar Ocha suapin mas sampai makanannya habis" ucap Ocha.
Dengan penuh kelembutan dan kesabaran, Ocha menyuapi Abi. Tanpa mereka sadari, bu Arni tersenyum memperhatikan mereka dari kejauhan. Bu Arni lalu memotret mereka dengan ponselnya dan mengirimkannya ke nomer calon besannya, mama Reni.
.
.
Di kediaman rumah mama Reni.
"Si Ocha lama banget sih kirim makanannya!" ucap mama Reni.
"TING!" ada pesan masuk ke ponsel mama Reni
"Oh ini yang bikin si Ocha gak pulang-pulang. Rupanya lagi kangen-kangenan sama menantu gantengku" ucap mama Reni setelah melihat isi pesan pada ponselnya adalah foto Ocha yang sedang menyuapi Abi.
"Ya sudah deh, gak usah ditungguin kalau begitu" ucapnya kemudian.
__ADS_1
.
.
"Ocha udah makan belum?" tanya Abi.
Ocha menggeleng, sambil masih menyuapi Abi.
"Loh kok belum? Mas yang suapi ya, mau kan? Gantian 'kan Ocha sudah menyuapi, mas, sekarang mas yang suapi Ocha" ucap Abi lalu tanpa menunggu jawaban dari Ocha, ia langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk Ocha.
"Lah kok jadi suap-suapan gini sih?" gumam Ocha. Tapi ia juga tidak menolak disuapi Abi.
.
Setelah mereka selesai makan, jam di dinding sudah menunjukkan angka satu siang. Mereka masih duduk-duduk terdiam di ruang makan.
"Ocha, mas tinggal sebentar ya, mau solat dhuhur dulu, kamu mau bareng mas?" tanya Abi.
Ocha kebingungan ditanya Abi seperti itu. Namun akhirnya ia mengangguk dan kemudian ikut berjalan di belakang Abi menuju tempat solat.
Selesai solat dhuhur, Ocha merasakan ada perasaan lain yang menelusup ke relung hatinya. Ada perasaan damai yang dirasakan setelah solat berjamaah dengan Abi. Entah karena Ocha yang sering bolong-bolong solatnya ataukah karena baru pertama kali solat diimami oleh Abi. Dan perasaan itu membuat Ocha ingin merasakannya lagi.
"Ocha pulangnya nanti agak sorean aja yah, biar gak terlalu panas di jalannya. Nanti mas yang antar kamu yah" ucap Abi setelah mereka selesai solat dan sekarang sudah duduk di ruang tv.
"E..gak usah, mas. Ocha bawa motor sendiri kok. Ocha pamit pulang sekarang aja gak apa-apa, takut mama nungguin di rumah" ucap Ocha tergagap.
"Eh.. Ocha sayang jangan pulang buru-buru dong!" ucap bu Arni tiba-tiba datang dan mendengar ucapan Ocha yang mau pamit pulang.
"Nanti sore saja, biar Abi yang antar Ocha naik mobil" ucap bu Arni.
"Tapi tante.."
"Udah gak ada tapi-tapian! Motor Ocha disimpan di sini saja, nanti Abi yang antar Ocha pulang, oke?!" ucap bu Arni.
"O,oke tante" jawab Ocha meringis, ia bingung harus menjawab apa.
"Ocha gak usah khawatir sama mama, tadi tante sudah kirim pesan ke mamamu, jadi Ocha santai saja disini menemani Abi" ucap bu Arni.
Ocha masih terdiam. Bingung harus jawab apalagi kalau sudah berada di situasi seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudahlah" gumamnya menyerah.