Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 56


__ADS_3

>>author<<


"Kamu jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan telat makan! Kalau ada waktu, message aku ya" ucap Ocha pada sahabat karibnya itu.


Jadwal keberangkatan Nisa ke Perancis sudah tiba. Dan hari ini, Ocha dengan ditemani Abi mengantarkan Nisa sampai ke airport.


"Aku bakal kangen banget sama kamu, Cha!" ucap Nisa sambil mengeratkan pelukannya pada Ocha.


"Sama ... aku juga bakal kangen banget sama kamu, Nis. Inget ya, kalau ada waktu kirimin email, kirim foto-foto kegiatanmu di sana" ucap Ocha.


"Ayo, Nisa sayang. Time to go!" ucap maminya.


"Oke, Cha! Bye ... !" Nisa mengerlingkan sebelah matanya lalu melambaikan tangannya pada Ocha. Lambaian perpisahan.


Rencananya mami Nisa akan menemani Nisa sampai seminggu di Perancis untuk membantu Nisa segala halnya. Mulai dari memilih tempat tinggal, administrasi dan lain halnya.


Ocha masih berdiri terdiam menatap punggung Nisa yang kian menghilang dari pandangan mata. Tanpa ia sadari setitik bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Ayo sayang, kita pulang. Nisa pasti baik-baik saja dan berhasil menggapai cita-citanya" ucap Abi sambil merangkul bahu Ocha.


Ocha menurut saja. Ia kemudian menyambut gandengan tangan Abi dan berbalik untuk pulang.


.


.


Di perjalanan, Abi tak lantas mengantarkan Ocha pulang, ia malah membelokkan motornya ke arah pemakaman umum.


Ocha menatap sekitar dan bingung. Dalam hatinya penuh pertanyaan yang ingin segera ia utarakan pada Abi.


"Mas, kita mau kemana? Mas kita kok nyasar ke sini? Ini pemakaman umum, mas!" bisik Ocha dari balik punggung Abi.


Abi diam tak merespon, membuat Ocha semakin takut.

__ADS_1


"Mas Abi lagi kenapa sih? Ditanyain diem aja? Aku jadi tegang banget nih?" gumamnya dalam hati.


"Mas! Mas! Kita mau ngapain ke sini?" tanya Ocha panik, ia mengguncang-guncang punggung Abi.


Abi masih tak bergeming. Ia kemudian memarkirkan motornya di bawah pohon beringin yang besar.


Ocha semakin ketakutan. Ia hampir saja mau menangis karena saking takutnya.


"Tenang Ocha ... ! Jangan panik dulu!" ucap Abi menenangkan sambil menggenggam tangan Ocha.


"Dengarkan mas dulu! Ocha tatap mata mas! Tenang!" Abi masih berusaha menenangkan rasa takut Ocha.


"Kita ke sini sebentar aja kok. Mas harus melakukan sesuatu dulu di sini" ucap Abi.


Ocha terperangah semakin tak mengerti ucapan Abi.


"Melakukan apa?" Ocha mengeratkan kedua tangannya ke lengannya. Memeluk diri sendiri karena takut Abi akan berbuat yang di luar kendali manusia. Ia takut Abi akan melecehkannya di tempat ini.


Abi yang sedari tadi memerhatikan Ocha paham dengan perubahan sikap Ocha yang mulai memasang sikap defensive. Ia menghela nafas pelan berusaha menyusun kata-kata yang bisa dipahami Ocha sehingga tidak menimbulkan salah paham bagi Ocha.


Ocha menyimak setiap kata yang terlontar dari mulut Abi dengan seksama, meski masih dengan tangan yang terlipat di depan tubuhnya.


"Jadi ... di pemakaman ini, almarhumah adik mas dikuburkan di sini" Abi sengaja memberi jeda ucapannya demi untuk melihat reaksi wajah Ocha. Ia ingin tahu apakah Ocha mendengarkan penjelasannya ataukah masih dalam alam ketakutannya.


"Adik? Mas punya adik?" tanya Ocha kemudian.


"Iya, mas punya adik. Sini duduk dulu, kita duduk di bangku itu yuk! Biar tenang dan nyaman mas bercerita" ucap Abi sambil menarik Ocha untuk duduk di bangku kayu usang yang ada sedikit jauh dari tempat parkir motor Abi. Ocha menurut saja saat tangan Abi menggamit tangannya.


"Mas dulu punya adik perempuan, usianya baru tiga tahun. Saat kejadian itu mas berumur enam tahun, ibu dan adik mas mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah. Hingga adik mas harus dilarikan ke rumah sakit di Korea -saat itu mas dan keluarga masih tinggal di Korea. Adik mas kehilangan banyak darah dan ibu juga masih tak sadarkan diri meski lukanya tak separah adik" Abi menghela nafas berat saat menceritakan kenangan masa lalu yang memilukan bagi keluarganya.


"Ayah sangat panik saat itu, mondar-mandir mencari stok darah dari beberapa rumah sakit di Korea karena adik mas memiliki golongan darah yang langka dan sulit untuk mencari stok darahnya. Mereka menyebutnya golden Blood. Mas sendiri saat itu tak begitu memahami artinya. Yang mas tahu adalah adik mas tidak bisa diselamatkan karena stok darah tidak ada yang cocok" tutur Abi.


"Golden Blood? Apa itu mas? Aku baru mendengarnya" tanya Ocha penasaran.

__ADS_1


"Mas tidak begitu paham penjelasan kedokterannya, yang pasti sebutan untuk golongan darah yang sangat langka. Mas juga tidak mencari tau lebih jauh tentang hal itu dan kenapa adik mas bisa memiliki golongan darah itu. Setelah kejadian itu, ayah mas menutup semua hal-hal yang mengingatkan pada adik mas, mas pun menjadi menutup diri. Mas tidak mau mengungkit-ungkit lagi tentang semua hal yang berkaitan dengan kecelakaan itu. Ibu mas juga mengalami syok berat. Hingga akhirnya dokter menyarankan untuk kita pindah ke tempat yang baru yang tidak lagi berhubungan dengan kejadian kecelakaan" Abi menghela nafas lagi.


Ocha masih mendengarkan dengan seksama sambil mengingat kembali bahwa tante Arni pernah bercerita sedikit tentang masa lalunya saat ia menginap beberapa waktu yang lalu.


"Hingga akhirnya, ayah memutuskan untuk membawa kami pulang ke Indonesia demi mencari suasana baru untuk kesembuhan mental ibu dan mas" ujarnya.


"Lalu kenapa mas ke pemakaman ini? Bukankah adik mas meninggal di Korea?" tanya Ocha tak mengerti.


Abi tersenyum tipis sejenak sebelum kemudian bercerita lagi.


"Di pemakaman ini, mas memutuskan untuk hanya sekedar memberi simbol batu nisan saja sebagai pengingat mas bahwa ada salah satu anggota keluarga mas pernah pergi dari sisi mas. Ibu dan ayah tak pernah tau mas membuat batu nisan ini. Mas tidak mau membebani mereka dengan mengingatkan kembali memori pedih di masa lalu" jelas Abi.


Ocha mengangguk pelan, tanda mengerti. Ia memahami keinginan Abi yang mau mengenang adiknya. Yang sangat ingin menabur bunga di pusara adiknya, namun tak dapat dilakukannya karena jauh di Korea sana.


"Dan menurut mas, hari ini adalah terakhir kali mas ke sini. Karena mas sadar, doa bisa kita kirimkan di tempat manapun tak harus mendatangi makamnya. Mas sengaja mengajak Ocha, untuk menceritakan semua hal ini, agar Ocha tau sedikit demi sedikit tentang diri mas" ucap Abi.


"Baiklah ... sekarang kita pulang yuk! Mas sudah tidak ada beban lagi setelah menceritakan semuanya pada Ocha. Sekarang mas bisa memanjatkan doa-doa untuk adik mas di manapun, setiap selesai sholat" ucapnya lalu menggandeng tangan Ocha, mengajaknya pulang.


.


.


.


🌺 hai readers..


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Saat ini author sedang berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Dan untuk pembahasan tentang Golden Blood, teman-teman bisa search di mbah gugel. Soalnya kalau aku jelaskan di sini bisa tak kelar2 tanganku mengetik. Mohon maaf jika pengetahuan medisku minim, Tolong jangan di ambil serius ya, karena ini hanya novel karangan 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, terima kasih teman-teman...

__ADS_1


babay....😘


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕


__ADS_2