Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 36


__ADS_3

>>author<<


"Hmm.. bosan juga tinggal di rumah orang, gak bisa ngapa-ngapain" gumam Ocha di kamarnya.


Setelah sarapan tadi ia pun langsung masuk ke kamarnya lagi. Ia masih canggung berkeliaran di rumah Abi. Ia kemudian menelpon mamanya.


"Halo ma. Iya Ocha masih di rumah mas Abi kok. Papa gimana ma? Alhamdulillah kalau udah boleh pulang. Oh gitu, ya udah nanti Ocha sampein ke mas Abi gak usah jemput mama lagi. Mama hati-hati ya" ucap Ocha mengakhiri sambungan telpon.


Hari ini papa Irawan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Meskipun harus menuruti jadwal check up seminggu sekali. Ada perasaan lega dalam hati Ocha mendengar papanya sudah boleh pulang dari rumah sakit.


"Enaknya ngapain ya?" ucap Ocha sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Abi.


Ia kemudian teringat akan buku hijau yang belum sempat ia baca kemarin malam karena insiden mati lampu. Ia mendekati meja belajar milik Abi dan mulai mencari-cari buku itu.


"Dimana ya, kemarin kan aku ambil dari rak sini, terus, kemana ya bukunya" gumam Ocha sambil terus menelusuri rentetan buku yang berjejer rapi di meja belajar Abi. Ia mencari di setiap sudut meja belajar itu, tapi belum juga menemukannya.


Sampai ia mencari di bawah meja belajar, matanya langsung menangkap benda yang dicarinya. Ia mengambil buku bersampul hijau itu.


Ocha duduk di tepi ranjang, ia masih menimang-nimang antara membuka buku itu atau meletakkannya kembali ke tumpukan buku di atas meja belajar. Buku itu sangat menarik hati menurutnya. Mungkin karena sampulnya yang berwarna hijau terang yang membuat Ocha merasa penasaran untuk membuka isinya.


"Gak apa-apa kali ya kalau aku ngintip sedikit" ujarnya pelan.


Dengan perlahan Ocha mulai membuka halaman pertama dari buku itu.


*Sabt**u, 10 Agustus 201***6**


Malam ini adalah malam terakhir Bagas melajang. Hahaa senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya sahabat karibku dari kecil bisa menemukan belahan jiwanya.


Sedih? Jelaslah.. sebab hanya aku yang belum laku, sedihnya hiks..


Besok pagi-pagi aku harus siap-siap berangkat menghadiri acara akadnya Bagas. Itung-itung belajar hehee.


"Lucu juga. Ternyata buku ini semacam buku diary nya mas Abi ya" ujar Ocha dengan sedikit tersenyum tipis. Ia juga memuji dalam hati tulisan Abi yang sangat rapi.

__ADS_1


Rasa penasarannya belum terpuaskan. Ia kemudian membuka lembaran selanjutnya tanpa ragu lagi.


Minggu, 11 Agustus 2016


Akhirnya sah juga. Selamat ya bro. Sejarah telah mencatatmu sebagai seorang suami sekarang. Terharu.


Suami? Aku? Kapan dong? Haaah...


Seperti sebuah candu, Ocha kembali membuka lembaran selanjutnya dan membaca kata demi kata coretan Abi yang ada di buku itu tanpa ragu lagi.


Senin, 12 Agustus 2016


Rutinitas yang datar. Nothing special. Apalagi sekarang gak bisa nongkrong lagi bareng Bagas. Dia lagi asyik honeymoon tuh sama istrinya. Malangnya diriku hiks..


Dini hari nanti ada jadwal pertandingan bola di tv, tidur dulu lah biar kuat nonton. Ngantuk.


Jum'at, 16 Agustus 2016


"Dia? Siapa ya kira-kira? Bikin penasaran aja" gumam Ocha.


Hatinya mulai memanas, entah karena dipenuhi rasa penasaran ataukah rasa cemburu yang lebih mendominasi hatinya saat membaca tulisan itu. Ada perasaan gelisah di hatinya. Ia pun semakin gencar membaca halaman berikutnya, mencari penjelasan siapakah sosok "dia" yang Abi maksud.


Sabtu, 17 Agustus 2016


Acara hari ini sangat seru. Semuanya bersemangat dalam berpartisipasi memeriahkan acara 17-an di sekolah. Tahun ini aku jadi panitia bagian wara wiri alias bagian perlengkapan. Capek banget rasanya tapi ku merasa puas melihat tawa di wajah anak-anak. Mereka benar-benar senang kemeriahan acara 17-an di sekolah hari ini. Jadi gak ngerasa kesepian lagi deh.


Ocha kembali membuka lembaran berikutnya. Ia masih penasaran dengan tulisan Abi sebelumnya tentang "dia". Kosong. Tidak ada lagi coretan di buku hijau itu. Ia terus menyingkap tiap lembaran, mencari tulisan Abi selanjutnya. Tapi sayangnya Ocha tak menemukan apapun hingga halaman akhir buku itu. Yang ia temukan hanya sisa sobekan pada halaman akhir.


"Kayaknya bagian sini ada yang disobek deh. Hmm.. cuma segini isi buku ini" gumamnya.


Ocha meletakkan kembali buku hijau itu ke rak buku. Ia lantas mencari-cari buku yang serupa di rak buku milik Abi. Ia masih belum menyerah mencari tahu sosok yang Abi maksud. Rasa penasaran menyelimuti hati Ocha.


Nihil. Tak ada lagi buku yang berisi curhatan Abi. Ia akhirnya menyerah. Ia merebahkan badannya di tepi ranjang. Ia membuka aplikasi facebook dan mengecek pesan yang masuk. Tak ada pesan yang menarik. Ia kemudian teringat pada teman chatnya di dunia maya si "Angin Malam".

__ADS_1


Kucing Hitam : Hei angin! lama tak ada kabar! Sudah lupa rupanya dengan diriku!


Ocha mengirim pesan singkat pada teman chatnya itu. Tak ada balasan dari angin malam. Ocha mulai merasa bosan. Ia melirik jam di sampingnya. Pukul 11.00 siang.


"Bosan. Ngapain lagi ya supaya gak bosan?" gumamnya.


"Mau nonton tv, tapi malu keluar kamarnya, jadi bingung" ucap Ocha.


"Oh ya! Telepon Nisa aja ah, sudah lama banget kan gak hubungin dia" ucap Ocha. Ia kemudian menekan tuts di ponselnya menghubungi Nisa, sahabat karibnya.


Tuut..tuut..tuut..


Tak ada jawaban.


"Haahh.. benar-benar bete! Nisa juga gak bisa dihubungi" rutuknya.


Ocha kemudian merebahkan badannya ke tepi ranjang. Ia memainkan ponselnya, mencoba mengusir rasa bosannya.


"Tidur aja ah, tiba-tiba ngantuk nih" ucapnya setelah berkali-kali menguap di sela kegiatannya mengutak-atik ponselnya. Ia kemudian beringsut menarik selimut. Terlelap menjemput mimpi.


Entah apa yang membuat Ocha sangat menyukai ranjang milik Abi itu. Kasurnya yang empukkah atau suasana kamar yang bersih dan sejuk karena AC yang membuatnya ingin terus bergelung di atas ranjang itu.


.


.


Tok..tok..tok..


"Ocha sayang, keluar yuk nak, kita makan siang dulu" suara bu Arni dari balik pintu kamar. Hening, tak ada jawaban.


Ocha menggeliat kecil, tapi tak membuat kelopak matanya terbuka sedikitpun. Ia malah semakin lelap dalam tidurnya.


"Sepertinya dia sedang tidur, nanti saja dibangunkan lagi" ucap bu Arni kemudian meninggalkan kamar Ocha.

__ADS_1


__ADS_2