Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 46


__ADS_3

>>Ocha<<


"Ah, segarnya ... "


Aku menghabiskan waktu lebih lama dari mandi yang biasanya di bath tub. Hari ini memang melelahkan. Tapi menyenangkan.


Aku mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk handuk kecil di tanganku sambil tanpa sengaja menatap barang yang berserakan di atas ranjangku. Kemudian aku terpaku melihat pada satu benda yang tergeletak di atas ranjangku. Benda yang kubeli tadi bersama mas Abi.


"Lucu juga ... " aku mengambil benda itu dan memperhatikan setiap detailnya.


Sebuah gelang anyaman mainan yang bermotifkan seperti garis zig-zag. Mas Abi yang pertama kali menemukannya saat kami berkeliling di mall mencari perlengkapan seserahan.


"Ocha, ini buat kamu ... masing-masing punya satu. Sini aku pakaikan di tanganmu"


Terngiang kembali kejadian saat di toko aksesoris. Saat itu mas Abi dengan sigap meraih tanganku dan langsung memakaikan gelang itu ke tanganku tapi buru-buru kutolak dengan alasan takut hilang. Gelang itu adalah gelang couple.


"Gelang ini berbentuk seperti sinyal detakan jantung di alat medis, kamu pernah liat 'kan? Jadi gelang ini mewakili detakan jantungku jika sedang bersamamu. Detaknya hidup artinya bersamamu aku merasa hidup kembali. Dan satu lagi, jika gelang ini didekatkan dengan pasangannya, akan mengeluarkan pendar cahaya hijau pudar"


Lagi-lagi kuingat alasan mas Abi membeli gelang mainan ini.


"Aku pakai deh, lagipula lucu juga bentuknya" ucapku lalu memakaikan gelang itu di tangan kiriku dan berpatut di depan cermin sambil menggerak-gerakkan tanganku.


"Oh ya, aku belum cek pesan medsosku. Rindu juga chat dengan Angin Malam" ucapku tiba-tiba teringat teman chat dunia mayaku.


"Wah ... kebetulan sekali dia sedang on" pekikku.


Kucing Hitam : " Hai bro! Lama gak chat, kemana aja nih? Sepi nih kamu jarang on"


Selang beberapa menit, lawan chatku tak membalas, padahal masih aktif notifikasi akunnya.


Ting! Akhirnya masuk balasan dari dia.


Angin Malam : " Hai juga ... maaf aku sibuk dengan urusanku. Kamu apa kabar? Sudah dapat kucing pengganti belum?"


Kucing Hitam : "Kabarku sudah lebih baik, bahkan jauh lebih baik sekarang. Aku sudah mulai membuka hati untuk cerita yang baru"


Angin Malam : "Wah ... selamat ya, aku ikut seneng untukmu. Oh ya, akhir bulan ini aku mau melamar kekasihku. Doakan aku ya supaya lancar semuanya dan aku diterima dengan baik oleh keluarga tunanganku"


"Tunangan? Akhir bulan ini? Kok bisa ya, secara kebetulan, kita sama-sama mengadakan acara tunangan di akhir bulan ini. Hmm ... jadi penasaran seperti apa gadisnya" gumamku dalam hati.


Kucing Hitam : " Selamat juga untukmu mas bro! Kapan dong aku dikenalkan dengan wanitamu, jadi penasaran nih. Pasti cantik banget ya, sampai-sampai kau tak berpaling ke arahku wkwkwkkk..."


Lama tak dijawab chat ku, tiba-tiba rasa kantuk menjalar ke pelupuk mataku dan akhirnya akupun tertidur karena sudah terlalu lelah badanku. Aku membiarkan laptopku masih menyala di hadapanku. Aku tertidur di meja belajarku dengan menangkupkan kedua lenganku sebagai pengganti bantal.


.


.


"Kucing Hitam! Kucing Hitam!"

__ADS_1


Brukk!! Tiba-tiba ada benda yang jatuh dari meja belajarku. Sontak akupun terperanjat bangun dari mejaku. Ah, ternyata hanya mimpi.


"Aduh sial!" aku meraih benda yang jatuh tadi. Ternyata laptopku terjatuh karena aku menggeliat saat tertidur di meja tadi.


Ku coba terus menekan tombol hidup, tapi laptop itu tak kunjung menyala. Ku utak-atik tapi sayangnya, laptopku ternyata mati total karena jatuh tadi, layarnya pun sedikit retak. Aku merutuki kesalahanku yang tak membereskan terlebih dahulu laptop yang tadi sempat kupakai chat dengan teman dunia mayaku.


"Kalau udah begini, gimana dong, haah ... " keluhku.


Aku akhirnya menyerah dan meletakkan kembali laptop ke atas meja belajarku. Lalu aku beringsut ke atas ranjang, melanjutkan tidurku karena rasa kantuk yang kembali mendera.


.


.


.


" Mah, pah, hari ini Ocha minta ijin keluar ya" ucapku ditengah kunyahan sarapan pagiku.


"Mau kemana, Cha?" tanya mamaku menyelidik.


"Mau ke toko servis komputer, mau benerin laptopku" ujarku ringan.


"Laptopmu rusak? Sejak kapan?" tanya mama tak kalah penasaran dari pertanyaan sebelumnya.


"Tadi malam" ujarku singkat.


"Udah ah, mah. Ocha jalan dulu ya. Assalamualaikum!" ucapku sambil mencium tangan mama dan papa. Tanpa menghiraukan lagi mama yang sudah bersiap untuk menuntut keterangan tentang rusaknya laptopku.


Aku menggendong tas ranselku yang berisi laptop keluar rumah. Aku memang sudah merapikan dan memasukkan laptop ke dalam ransel sedari bangun tidur. Aku berniat membawa laptopku ke tempat servis langgananku hari ini.


.


.


Kuhentikan laju motorku tepat di depan toko servis bernama "Alya", tempat servis komputer langgananku.


"Assalamualaikum, bang!" seruku di depan pintu toko.


"Wa'alaikum salam ... eh neng Siti apa kabar? Tumben mampir sini, pasti masalah laptop lagi ya?" ucap bang Jenggot dan aku langsung manyun mendengar nama asliku di sebut. Aku selalu mendengus kesal kalau bang Jenggot sudah memanggil nama depanku "Siti".


Bang Jenggot.


Nama aslinya sih aku gak tau, aku selalu memanggilnya bang Jenggot karena jenggotnya yang tebal. Sedangkan nama toko ini adalah nama anak perempuannya yng masih balita.


"Iya nih laptopku mati total, benerin dong!" ucapku tak menghiraukan ocehannya tentang pacarku Doni. Rasanya malas saja membahas lelaki penghianat itu, kupingku serasa gatal mendengar namanya disebut.


"Mati total kenapa nih? Ya ampun, ini layar kok bisa sampai retak gini neng? Lah ya kalau marah jangan main banting-banting laptop dong, neng. Apa gak sayang sama barang mahal begini" ucapnya sambil memperhatikan layar laptopku yang retak.


"Gak sengaja jatuh, bang. Bukan sengaja dibanting lah, mana tega sama laptop kesayanganku ini" ujarku membela diri.

__ADS_1


"Bisa 'kan bang diperbaiki? Aku tinggal disini ya, Bang. Jangan lupa kabari aku kalau sudah selesai" ujarku seraya mengenakan helmku lalu menaiki motorku dan melaju meninggalkan toko reparasi komputer itu.


.


.


Aku menghentikan motorku di depan rumah Nisa. Tadi sebelum ke toko servis komputer, aku sengaja menelpon Nisa untuk berkunjung ke rumahnya.


"Assalamualaikum ... !" teriakku di depan pintu gerbang rumah Nisa.


"Kum calam, bental yaa ... " terdengar suara cadel anak kecil. Suara yang kukenal milik Nadin keponakan Nisa.


"Hai ... ayo masuk, Cha" ucap Nisa setelah membukakan pintu untukku.


"Tadi aku dengar ada suara Nadin, nginep disinikah?" tanyaku sumringah.


Aku sangat senang bisa bertemu keponakan Nisa itu. Sesungguhnya aku sangat menyukai anak kecil, entah mungkin karena aku ank tunggal, tak mempunyai saudara kandung, jadi aku belum pernah merasakan keramaian bersama saudara terutama bertengkar dengan kakak atau adik.


"Halo Nadin cantik ... " ucapku sambil mencubit gemas pipi tembem Nadin.


"Aunty bawa sesuatu nih untuk Nadin, mau?" ucapku sambil mencari-cari sesuatu di dalam tasku dan aku yakin benda itu masih ada. Aku mengeluarkan sebuah permen lolipop coklat yang ada di tas ranselku.


"Asyiikk ... " teriaknya kegirangan.


"Masuk yuk, Cha. Kita ngobrol di kamarku aja, ada yang ingin kubicarakan serius denganmu" ajak Nisa dengan raut muka yang serius menatapku


"Bicara tentang apa? Kok mukamu tegang gitu" tanyaku heran.


"Ayok masuk dulu, nanti aku jelaskan" ucapnya smbil menarik tanganku, mengajakku masuk ke dalam kamar.


.


.


๐Ÿ’•Bonus visual gelangnya, maaf ya kalau gak sesuai dengan imajinasi kalian ๐Ÿ˜



.


.


.


๐ŸŒบhai readers..


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya. Makasih..


Lot's of love from Ro Miyoung ๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2