Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 38


__ADS_3

>>author<<


Ocha mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ia menoleh ke atas nakas, melihat jam yang bertengger disana. Jam 2 siang.


"Aku tidur lumayan lama juga ya, nyaman sekali tidur di ranjang ini" ucapnya sembari mengelus-elus kasur yang ia tiduri.


Ocha bangun dari tempat tidurnya, mengikat rambutnya, lalu keluar dari kamar. Ia celingukan mencari bu Arni ataupun bi Anah. Rumah nampak sepi tak ada suara. Ia berjalan menuju ruang makan. Perutnya sudah berontak minta diisi. Ia kemudian duduk di kursi makan sambil menatap meja yang kosong.


"Lapar, tapi di meja gak ada makanan" gumamnya.


"Eh neng Ocha udah bangun, pasti lapar ya, sebentar bibi panaskan dulu lauknya ya" ucap bi Anah lalu pergi meninggalkan Ocha ke dapur.


Abi berjalan mendekati meja makan sambil tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Hampir satu jam ia berada di dalam kamar mandi. Bergelut dengan air dingin berusaha keras untuk menenangkan hasratnya akibat sentuhan tangan Ocha.


Ocha memalingkan wajahnya cepat saat matanya bersirobok dengan mata Abi. Ia malu mengingat dua hal yang sudah dilakukannya, yaitu bahwa ia telah dengan tanpa ijin meminjam handuk milik Abi dan tanpa rasa takut ia sudah membaca buku harian milik Abi.


Sama halnya dengan Abi. Ia juga memalingkan wajahnya sesaat setelah matanya beradu dengan mata Ocha yang indah. Wajahnya kembali bersemu dan memanas. Ia teringat kembali kelakuannya di kamar yang tanpa malu mencuri kesempatan mengecup tangan Ocha. Tapi dengan cepat ia mengatur rona dan mimik di wajahnya agar terlihat biasa saja di depan Ocha.


"Ehem!" Abi berdehem menetralkan hati sekaligus suasana canggung yang dirasakannya.


"Ocha sudah makan?" tanya Abi berbasa-basi sambil kemudian ia duduk di ujung meja makan. Ia sengaja untuk menjaga jarak dulu dari Ocha. Ia takut kebablasan lagi.


"Belum mas" ucap Ocha canggung. Masih ada rasa bersalah di hatinya karena sudah lancang membaca buku harian Abi.


"Ini makanannya neng, mas Abi mau makan sekarang?" tanya bi Anah.


"Iya bi, biar mas ambil sendiri saja piringnya bi" ucap Abi. Ia menolak di layani bi Anah. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak merepotkan orang lain.


"Ocha, kok bengong? Kamu mau mas yang ambilkan nasinya?" tanya Abi.


Ocha termenung sejenak tadi saat melihat sikap Abi yang begitu sopan bahkan pada asisten rumah tangga. Sikap santunnya memang sudah melekat pada kepribadiannya.


"Ah, gak mas, biar Ocha ambil sendiri" sergah Ocha. Dengan cepat ia menyendokkan nasi dan lauk di piringnya.


"Nah gitu dong makan bareng!" suara bu Arni tiba-tiba memecah keheningan mereka saat makan.


"Ocha kok sayurnya ga diambil? Harus banyak makan sayur loh" ucap bu Arni sambil menuangkan sayur di mangkok kemudian menyodorkannya ke hadapan Ocha.


"Iya tante makasih" ucap Ocha.


"Hmm padahal aku gak suka sayur bayam" gumam Ocha dalam hati.

__ADS_1


"Mas, mau anter Ocha jam berapa?" tanya ibunya.


"Terserah Ocha nya aja bu, mau dianter ke rumah sakit sekarang setelah makan juga mas siap" ucap Abi di sela makannya.


"Ehm mas Abi, kata mama, aku gak usah ke rumah sakit lagi. Mama udah pulang tadi siang. Jadi aku langsung pulang ke rumah aja" timpal Ocha menanggapi ucapan Abi.


"Oh begitu, ya sudah nanti mas antarkan Ocha langsung ke rumahnya saja, dan sekalian ibu minta tolong sebelumnya mampir ke mini market dulu untuk beli buah-buahan ya, mas" ucap bu Arni.


"Beli buah untuk di bawa Ocha dan untuk persediaan di rumah juga ya, mas" lanjut bu Arni.


"Iya bu" ucap Abi singkat.


.


.


.


Ocha sudah bersiap dengan membawa kopernya keluar kamar. Ia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumahnya.


"Tante, Ocha pamit pulang, terima kasih karena Ocha udah diijinin nginep di sini" ucap Ocha.


"Waduh si ibu nyuruh Ocha nginep lagi, bisa-bisa aku kena insomnia nih tiap malam gak bisa tidur" gumam Abi.


"Insya Allah tante" ucap Ocha singkat.


"Bu, mas pergi antar Ocha dulu, assalamualaikum" pamit Abi sambil mencium tangan ibunya.


"Nyetir mobilnya hati-hati ya mas, jangan ngebut-ngebut! Jangan sampe lecet ya menantu ibu!" ucap bu Arni yang disambut dengan semburat merah di pipi Abi dan Ocha.


"Aduh si ibu ngeledek terus sih" gumam Abi dalam hati.


.


.


Di dalam mobil, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Abi yang sedang fokus menyetir mobil menatap ke depan jalanan. Begitupun dengan Ocha yang menatap keluar kaca samping mobilnya. Pikirannya masih tertinggal di rumah Abi.


"Kayaknya aku bakal kangen deh sama kasur empuknya mas Abi. Tante Arni baik banget sama aku. Aku diperlakukan seperti anaknya sendiri, bener-bener nyaman seperti mama. Gimana nanti kalau aku udah jadi menantu disana ya? Eh kok jadi mikirin itu sih?! Malu ah!" celoteh Ocha dalam benaknya, hingga tak sadar kalimat terakhirnya, ia keluarkan dengan nada sedikit keras.


"Malu kenapa Cha?" tanya Abi.

__ADS_1


Ocha tersentak dalam lamunannya.


"Hah? Apa mas?" tanyanya bingung.


"Iya Ocha malu kenapa? Tadi bilang malu gitu" jelas Abi.


"Oh kedengeran ya" gumamnya dengan suara pelan.


"Apa? Kamu ngomong apa? Mas gak kedengeran" tanya Abi sambil menoleh ke arah Ocha.


"Ocha cantik banget sih! Aduh jantungku!" gumam Abi saat melihat wajah Ocha.


"Oh gak kok mas, gak bilang apa-apa. Abaikan aja haha" tampik Ocha tak mau membahas lebih lanjut isi lamunannya sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Ya Tuhan manis sekali senyumnya. Sabar mas, tahan, sebentar lagi!" gumam Abi saat melihat lesung pipit di pipi Ocha. Ia benar-benar tergila-gila pada senyuman Ocha.


Akhirnya mereka tiba di sebuah mini market, Abi memarkirkan mobilnya.


"Kamu mau tunggu di mobil atau mau ikut ke dalam market?" tanya Abi sebelum siap membuka pintu mobil.


"Aku tunggu di sini aja, mas" ucap Ocha.


"Oke, tunggu sebentar ya, mas ke market beli buah-buahan dulu" ucap Abi lalu membuka pintu mobil dan berjalan ke dalam mini market itu.


Ocha memainkan ponselnya sambil menunggu Abi kembali dari market. Tiba-tiba suara ponsel Abi yang ada di dashboard berbunyi. Panggilan tak terjawab. Lalu di susul suara berdenting. Sebuah pesan whatsapp masuk. Terlihat di layar ponsel sebuah nama. Tanpa sengaja Ocha membaca nama pengirim pesan di layar ponsel Abi.


"Ana. Siapa Ana?" ucap Ocha melafalkan nama di ponsel Abi.


"Bi Anah maksudnya? Masa sih di tulisnya hanya Ana. Gak ada panggilan Bibi nya? Bi Anah gitu. Kan bi Anah orang tua juga, ga seharusnya ditulis namanya aja kan" oceh Ocha mengomentari tulisan nama si pemanggil.


Rasa penasaran Ocha muncul. Ia berinisiatif untuk mengintip ponsel Abi. Ia merasa nama Ana bukanlah bi Anah. Tapi saat ia hendak menyentuh ponsel Abi, tiba-tiba suara pintu terbuka. Ocha segera memperbaiki posisi duduknya. Ternyata suara pintu belakang di buka. Abi meletakkan belanjaannya di bagasi belakang.


Abi kemudian membuka pintu mobil dan duduk kembali di belakang setir mobil.


"Maaf, lama ya nunggunya?" tanya Abi, setelah menutup pintu mobil.


"Enggak kok mas" jawab Ocha sembari menyunggingkan senyum tipis.


Dada Ocha berdetak kencang, ia takut Abi mengetahui niatannya yang ingin membuka ponselnya.


Abi kemudian melajukan mobilnya. Ia belum tahu ada pesan masuk ke ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2