Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 29


__ADS_3

>>author<<


Setelah melalui masa tenang pasca sidang skripsi akhirnya ditentukanlah tanggal dan tempat untuk wisuda.


Sudah sedari pagi tadi mama Reni membawa Ocha ke salon untuk mendandani Ocha. Mama Reni memilihkan baju kebaya untuk Ocha berwarna coklat terang, karena menurutnya karena kulit Ocha yang putih sangat cocok dan menjadikan penampilan Ocha sangat bercahaya jika dipadukan dengan kebaya warna itu. Model rambut dan riasan wajahpun mama Reni yang pilihkan. Semuanya terlihat sempurna. Mereka akhirnya berangkat menggunakan mobil papa Irawan menuju ke sebuah hotel tempat berlangsungnya prosesi wisuda universitas Ocha.


.


.


Rangkaian acara prosesi wisuda pun selesai. Ocha berjalan keluar ruangan yang ada di hotel itu. Ia mencari orang tua nya dari sekian kerumunan teman dan keluarga yang hadir disana. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya keluar dari kerumunan tamu yang hadir ke tepi gedung. Ia terkejut karena melihat seseorang yang menariknya berdiri di hadapannya. Ocha belum mengetahui siapa dia, karena wajahnya tertutupi oleh sebuah buket bunga mawar.


"Selamat ya Ocha!" kemudian seseorang itu menurunkan buket bunga dari pandangan wajahnya. Ternyata Abi! Ocha terharu sekali, melihat uluran bunga dari Abi. Ia tak menyangka, Abi akan datang dan mengucapkan selamat untuknya.


"Terima kasih mas!" ucapnya sambil menerima bunga pemberian Abi kemudian mencium aroma bunga mawar itu.


"Mama papamu dimana?" tanya Abi celingukan mencari orang tua Ocha.


"Sebentar mas, aku telpon mama dulu" ucap Ocha lalu mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang ia bawa.


"Halo ma, ada dimana? Ini Ocha ada diluar ruangan sama mas Abi. Oh gitu, ya udah iya oke" Ocha mengakhiri panggilan ponselnya.


"Tadi mamamu bilang apa Cha? Ada dimana mama dan papamu?" tanya Abi.


"Mama sama papa tadi pulang duluan, tiba-tiba kepala papa pusing. Aku disuruh mama pulang sama mas Abi, tapi..." ucap Ocha ragu. Ia bingung jika harus pulang dengan Abi. Bukan karena menolak enggan pulang dengan Abi, tapi karena ia saat ini mengenakan kebaya. Bagaimana bisa ia pulang di bonceng motor Abi.


"Tapi kenapa Cha?" tanya Abi was-was.


"Aku bingung mas.." ucap Ocha menggigit bibirnya. Bingung bagaimana mengutarakan kebingungannya pada Abi.


"Bingung kenapa lagi? Mas gak ngerti Cha, jangan setengah-setengah kalau ngomong. Mas jadi khawatir nih" ucap Abi. Kemudian ia menarik tangan Ocha, membawanya duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu.


"Ehmm aku pulang naik Grab car aja deh mas, gak apa-apa kan?" ucap Ocha ragu. Ia takut membuat Abi kecewa apalagi marah. Saat melihat Ocha yang sedang duduk dengan kaki yang merapat, Abi kemudian paham maksud Ocha. Ia tersenyum melihat keluguan Ocha.


"Ocha gak usah pulang naik Grab atau mobil siapapun, cukup pulang dengan mas saja. Mas kesini pakai mobil kok, jadi Ocha gak usah bingung lagi ya" ucap Abi. Ocha tersipu malu karena Abi mengerti kekhawatirannya tentang rok kebayanya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Abi sambil mengulurkan tangan ke hadapan Ocha. Ocha mengangguk lalu menggamit tangan Abi.


.


.

__ADS_1


Di dalam mobil selama perjalanan pulang, Ocha terdiam. Ia memikirkan papanya yang tiba-tiba sakit. Kemudian ia juga penasaran kenapa Abi menyusulnya menggunakan mobil, tidak seperti biasanya ia selalu menggunakan motor.


"Mas.."panggil Ocha.


"Hemm" jawab singkat Abi, matanya masih tetap fokus ke jalanan.


"Mas kok tumben bawa mobil?" tanya Ocha.


"Tadi pagi mas abis nganter ayah ke stasiun, ayah ada dinas ke Surabaya selama 3 hari" ucap Abi smbil sesekali menoleh ke arah Ocha.


.


.


Dua puluh menit lamanya perjalanan dari hotel ke rumah Ocha. Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Ocha. Abi bergegas keluar mobil dan memutari mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Ocha, meraih tangan Ocha. Abi paham kalau Ocha kesulitan turun dari mobil karena rok kebayanya yang sempit.


Saat membuka gerbang rumahnya, Ocha tak melihat mobil papanya. Ia kemudian bergegas membuka pintu, tapi ternyata pintunya terkunci.


"Ma..!" Ocha berteriak memanggil mamanya. Hening. Tak ada jawaban.


"Kenapa Cha?" tanya Abi setelah memarkirkan mobilnya.


"Coba kamu telpon lagi mamamu, tanyakan sekarang sedang dimana" perintah Abi. Ocha mengangguk lalu menelpon mamanya.


"Halo ma, rumah kok sepi, mama ada dimana? Rumah sakit mana? Oke Ocha ke sana sama mas Abi" Ocha menutup sambungan telponnya. Wajahnya pucat pasi, badannya menegang.


"Ada apa Cha?" tanya Abi was-was melihat raut wajah Ocha yang pucat.


"Papa masuk rumah sakit mas" jawab Ocha, kemudian satu bulir air mata jatuh di pipinya. Abi menarik bahu Ocha, memeluknya. Ia mencoba membuat Ocha tenang. Ocha terisak dalam dekapan Abi.


"Sekarang Ocha tenang dulu, kamu masuk rumah dulu, bawa kunci duplikat gak?" tanya Abi. Ocha mengangguk.


"Ocha masuk rumah dulu, ganti baju kebayanya dengan baju yang nyaman, setelah itu kita menyusul ke rumah sakit ya" ucap Abi sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Ocha.


Ocha melepaskan pelukannya, lalu mengambil kunci duplikat di tasnya. Papa Irawan memang membuat tiga kunci duplikat untuk istri dan anaknya. Hal itu dilakukan agar anak dan istrinya selalu bisa masuk rumah tanpa harus menunggu dirinya pulang.


Ocha membuka pintu rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah disusul Abi di belakangnya. Abi lantas menunggu Ocha di ruang tamu.


.


.

__ADS_1


"Mas aku sudah selesai" ucap Ocha. Abi menghentikan kegiatannya membaca koran yang ada di meja ruang tamu. Ia berdiri lalu berjalan keluar rumah. Ocha lantas mengunci pintu rumahnya dan keluar gerbang rumahnya. Abi buru-buru membukakan pintu mobil untuk Ocha.


.


.


"Permisi mbak, kami mencari kamar pasien atas nama Rizal Prasetya" ucap Ocha pada petugas resepsionis rumah sakit tempat papanya dirawat.


"Sebentar kami cek dulu. Ruang 3 mbak lurus saja ke orong itu kemudian belok kanan" ucap petugas resepsionis sambil tangannya mengarahkan petunjuk jalan menuju ruangan papa Ocha.


Ocha dan Abi kemudian berjalan ke lorong rumah sakit yang tadi ditunjukkan oleh petugas resepsionis. Tidak jauh akhirnya mereka menemukan ruangan tempat papanya di rawat. Ocha membuka pintu ruangan dan terlihat papa Irawan sedang terbaring lemah.


"Ma.." panggil Ocha pada mamanya yang sedang duduk di kursi samping ranjang papanya.


"Ocha sayang, sini" ucap mamanya. Ocha mendekati mamanya.


"Maaf ya sayang mama sama papa pulang duluan, gak menunggu acara kamu sampai selesai" ucap mama kemudian mengucapkan selamat untuk Ocha karena telah menjadi sarjana. Mamanya menciumi pipi aaknya terharu.


"Papa kenapa ma?" tanya Ocha sedih.


"Papa kamu tiba-tiba pusing saat di hotel tadi dan kata dokter tekanan darah papa naik. Karena terlalu capek dan banyak pikiran. Jadi dokter menyarankan papa untuk istirahat total sebab kalau dipaksakan melakukan aktivitas beresiko struk" Ocha tersentak pada penjelasan mamanya apalagi di akhir kalimat mamanya.


"Ocha kesini sendiri?" tanya mamanya.


"Sama mas Abi ma" ucapnya sambil sesekali mengusap tangan papanya.


"Loh mana nak Abi nya?" tanya mamanya.


"Mas Abi nunggu di luar" jawab Ocha.


"Kenapa nunggu di luar? Suruh masuk gih" ucap mamanya. Ocha kemudian keluar ruangan dan memanggil Abi.


.


.


"Ocha.." panggil papanya lemah.


"Ya pa" jawab Ocha.


"Abi mana?" tanya papanya. Abi kemudian bangun dari sofa yang ada di samping ruangan.

__ADS_1


__ADS_2