
>>author<<
Ting! Suara pesan pada ponsel Abi berbunyi.
Abi membuka pesan di ponselnya.
Mas, aku udah dapet tiketnya, tapi jadwalnya jam tujuh, gimana dong?
Isi pesan yang masuk ternyata dari Ocha. Abi sejenak berfikir.
"Jam tujuh malam? Sebaiknya aku menelpon ibu dan tante Reni terlebih dahulu untuk meminta ijin" ucapnya lalu ia menghubungi ibunya.
"Oke! Semua sudah mengijinkan, sekarang tinggal sisanya adalah urusan solat maghrib. Lebih baik cari tempat solat dulu" ucap Abi.
Ia lalu menelpon Ocha.
"Ocha, sudah beli cemilan untuk nonton? Oh, belum? Ya sudah kalau begitu, Ocha turun dulu ya ke lantai dasar, kita solat maghrib dulu sambil menunggu jadwal filmnya main, gak apa-apa 'kan? Oke, kalau gitu, mas tunggu ya di sini" Abi menutup sambungan telponnya.
Selesai meletakkan barang-barang belanjaan, Abi bergegas ke musolah kecil yang disediakan mall tersebut. Beberapa menit kemudian, Ocha pun sampai di mushola itu.
"Kita sholat maghrib dulu ya, kan filmnya masih lama, gak apa-apa 'kan?" tanya Abi. Ocha mengangguk.
.
.
"Laper gak?" tanya Abi setelah selesai sholat maghrib.
Ocha terdiam.
"Kita cari makan dulu yuk, tenang aja ... filmnya main masih 45 menit lagi kok. Kita lebih baik makan dulu, daripada nanti Ocha sakit perut, oke?" ucap Abi lalu menggandeng tangan Ocha menuju foodcourt.
.
.
"Mau beli popcorn?" tanya Abi saat sudah sampai di depan ruang bioskop.
"Gak ah udah kenyang, langsung masuk aja yuk, mas!" ucap Ocha sumringah.
Film yang ditonton mereka adalah film horor berjudul KUNTILANAK.
"Aduh aku deg-degan banget nih nonton horor!" gumam Ocha.
"Ocha ternyata suka film horor ya?" gumam Abi.
Ditengah-tengah film berjalan, tiba-tiba....
"Aaa..!!" Ocha berteriak histeris sambil berpaling memeluk tangan Abi.
Abi tersentak kaget. Sontak ia langsung meraih kepala Ocha dan membenamkannya ke dalam pelukannya.
"Aku takut, mas!" ucap Ocha masih memejamkan mata sambil masih memeluk tangan Abi.
Abi mengernyitkan dahi, heran.
__ADS_1
"Takut? Kukira suka film horor" gumam Abi.
"Gak usah takut, itu 'kan cuma film, gak nyata" ucap Abi menenangkan Ocha yang ketakutan.
"Udahan aja yuk mas, kita pulang!" ucap Ocha disela ketakutannya.
"Loh kok, pulang? Filmnya 'kan belum selesai, Cha" ucap Abi.
Tapi Ocha tetap memaksa Abi untuk segera keluar dari ruang bioskop itu. Hingga akhirnya Abi pun menuruti saja kemauan Ocha. Mereka keluar dari ruang bioskop tanpa menonton film sampai akhir.
Setelah keluar dari gedung bioskop, Ocha terdiam tak bergeming. Abi akhirnya memberanikan diri mengawali obrolan.
"Kalau takut filmnya kenapa pilih film horor? Mas kira, Ocha suka horor" tanya Abi setelah mereka berada di mobil.
"Emm ... sebenarnya tadi aku mau pilih film drama, tapi karena tiketnya sudah habis dan yang tersisa hanya tiket film horor, jadi Ocha beli deh" terang Ocha.
"Terus kenapa dibeli juga tiketnya kalau gak suka horor?" tanya Abi masih belum mengerti.
"Aku ... aku takut, mas marah sama aku" jawab Ocha hati-hati.
"Marah? Kenapa mas harus marah sama Ocha?" tanya Abi, tambah bingung.
"Aku takut, mas marah padaku karena gak jadi nonton dan akhirnya aku terpaksa beli tiket horor" jawab Ocha.
"Ya ampun Ocha! Mas pikir, kamu suka film horor. Jadi itu toh alasannya" Abi menepuk jidat.
"Kamu gemesin banget sih!" ucap Abi sambil mencubit gemas pipi Ocha.
"Aw! Sakit mas!" ucap Ocha memegangi pipinya yang dicubit.
Ocha mengangguk.
"Mas, stop!" tetiak Ocha tiba-tiba di tengah perjalanan pulang membuat konsentrasi Abi saat menyetir jadi buyar.
"Ada apa, Cha?!" tanya Abi was-was.
"Aku mau itu!" jawab Ocha sambil menunjuk pedagang yang ada di sisi jalan.
"Ya ampun, Cha! Bikin kaget mas aja deh. Ya sudah sebentar, mas cari parkiran mobil dulu" ucap Abi.
"Yuk, turun!" ucap Abi sambil mengulurkan tangan ke arah Ocha.
"Mba, pesen jagung bakarnya satu!" ucap Abi pada penjual jagung bakar yang di mau Ocha tadi.
"Kok pesen satu, mas?" tanya Ocha.
"Gak apa-apa. Mas masih kenyang" jawab Abi.
Tak lama kemudian jagung bakar pun matang. Ocha menyantap jagung bakarnya perlahan karena masih panas. Sedangkan mata Abi tak kunjung berkedip melihat Ocha.
"Apa sih ngeliatin aku terus? Malu ah mas!" ucap Ocha tersipu.
"Siapa yang ngeliatin kamu terus? Gak kok!" kilah Abi.
"Mas bohong ya?" tanya Ocha.
__ADS_1
"Mas gak bohong kok, mas lagi ngeliatin bidadari cantik di depan mas" ucap Abi lembut.
Seketika rona merah mencuat di wajah Ocha. Hatinya menghangat mendengar rayuan Abi.
"Mau?" Ocha menyodorkan jagung bakar yang sedang ia santap.
"Boleh?" tanya Abi.
"Beli sendiriii..!" goda Ocha sambil menarik kembali jagung bakar yang tadi ia sodorkan.
"Ih.. kamu nakal ya" ucap Abi sambil mencubit pipi Ocha.
"Eh, Cha! Itu liat di sebelah sana ada apa?" ucap Abi menunjuk ke sebelah kanan Ocha. Sontak Ocha menengok sisi kanannya.
"Mana? Gak ada apa-apa kok?" ucap Ocha kemudian menoleh balik ke arah Abi yang berada di sisi kirinya. Dan hup! Jari telunjuk Abi mengenai pipi Ocha.
"Ih mas, iseng banget deh!" ucap Ocha merajuk sambil menepuk-nepuk manja ke bahu Abi.
Abi tertawa kecil melihat Ocha yang kena tipuan recehnya.
"Pulang yuk! Udah jam 9 malam nih" ajak Abi sambil menunjukkan jamnya ada Ocha.
.
.
"Silakan masuk tuan putri" ucap Abi saat ia membukakan pintu mobil untuk Ocha.
Ocha tersipu diperlakukan dengan begitu lembut oleh Abi.
"Makasih ya, Cha" ucap Abi tiba-tiba di tengah kegiatannya menyetir mobil.
"Makasih buat apa?" tanya Ocha heran.
"Makasih untuk hari ini, mas senang banget bisa menghabiskan waktu dengan Ocha" ucap Abi, lalu menggenggam tangan Ocha yang berada di sampingnya.
"Mas, kita udah sampai!" Ocha menarik tangannya buru-buru, karena mobil sudah sampai di depan rumahnya.
Abi membukakan pintu mobil untuk Ocha.
"Makasih .... " ucap Ocha.
"Assalamualaikum ... !" ucap mereka bersamaan.
"Wa'alaikum salam .... " ucap mama Reni.
"Eh ... sudah pulang rupanya" lanjutnya.
"Udah ah Mah, ceritanya nanti lagi, Ocha mau mandi ... gerah" ucap Ocha lalu ngeloyor pergi saat mamanya hendak menginterogasi kegiatannya dengan Abi.
"Tante ... maaf, Abi langsung pamit saja. Sudah larut malam" ucap Abi pamit saat ditawari mama Reni untuk masuk hanya sekedar ngobrol-ngobrol.
Abi sudah merasa badannya cukup lelah dan lengket. Ia ingin segera pulang untuk mandi dan beristirahat.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya nak Abi. Wa'alaikum salam" ucap mama Reni.
__ADS_1