
>>author terus<<
"Gak bisa?" Kenapa gak bisa?" tanya Ocha heran.
"Ya mas gak bisa pergi tanpa membawamu pulang, itu perintah mama kamu" jawab Abi.
"Gak mau! Aku mau pulang sendiri, lagipula motorku ada di parkiran" bantah Ocha.
"Ya terserah kamu, mau pilih pulang sendiri atau pulang dengan mas, yang jelas mama kamu bilang, kalo mas pulang tanpa membawa Ocha, mas disuruh menginap di rumah kamu. Membantumu menyelesaikan skripsimu" ucap Abi. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Abi saja. Mama Reni hanya menyuruhnya menjemput Ocha, urusan motor nanti mama Reni menelpon orang bengkel langganan papa Irawan yang membawa motor Ocha pulang.
"What?!! Nginep?!! Mama kesurupan setan apa sih?! Kok ngasih perintah aneh gitu" batin Ocha berontak. Ia berpikir cepat untuk mengambil keputusan.
"Tapi kan aku ke kampus bawa motor, motorku mau dikemanain?" ucap Ocha masih mencoba mencari celah agar ia tidak pulang bareng Abi.
"Itu udah diurus sama mama kamu, jadi apa pilihanmu Cha?" cecar Abi.
"Aku hitung sampe 5 ya. Satu... Dua.. " hingga hitungan keempat Ocha masih diam. Sampai akhirnya " Li.. "ucap Abi menggantung.
"Oke iya! Aku pulang bareng mas, huh!!" Abi tersenyum penuh kemenangan. Sesaat ia mengirim pesan pada mama Reni, memberitahunya bahwa ia membawa Ocha pulang. Ocha mengekor Abi sampai ke parkiran motor.
"Pakai helmnya nih" Abi memakaikan helm milik Ocha yang ia ambil dari motor Ocha. Saat ingin menolak dipakaikan helm oleh Abi, Ocha melihat ada Doni tak jauh dari tempatnya berdiri. Ocha akhirnya membiarkan Abi memakaikan helm padanya.
"Ayo naik, kok bengong?" ucap Abi, melihat Ocha masih berdiri di samping motornya. Ocha tersentak, ia lalu menaiki motor Abi. Tanpa berpikir panjang lagi, Ocha langsung memeluk Abi dari belakang. Tindakan impulsifnya itu dipicu karena Doni terus saja melihat kearahnya.
Abi terkejut karena mendadak ada sentuhan atau lebih tepatnya sebuah pelukan dari belakang. Hatinya berdebar.
"Aduh jantungku, kedengeran gak ya" gumam Abi.
Ia lalu melajukan motornya keluar dari kampus. Melaju dengan kecepatan sedang.
Di tengah perjalanan Ocha masih belum melepaskan pelukannya, padahal alasan awal ia memeluk Abi adalah karena ada Doni. Tapi entah mengapa, Ocha merasa nyaman memeluk Abi. Perasaan kecewa, marah dan sedihnya pada Doni seolah tertumpah pada punggung yang ia peluk.
Bersandar adalah hal yang sebenarnya perlu ia lakukan. Selama ini Ocha selalu menyimpan sendiri perasaan kekecewaan dan keterpurukkan kisah cintanya dengan Doni. Karena Ocha tidak mau dinilai lemah dimata orang lain.
__ADS_1
"Udah sampe Cha" ucap Abi seketika menghentikan mesin motornya di depan rumah Ocha. Ocha tersentak dari lamunannya. Ia buru-buru melepas pelukannya lalu turun dari motor.
"Makasih" ucap Ocha singkat.
"Ya udah mas pulang ya, assalamualaikum" ucap Abi lalu melajukan motornya.
"Eh anak mama udah pulang, Loh mas Abi nya kemana?" tanya mama Reni.
"Pulang!" jawab Ocha sambil ngeloyor meninggalkan mama.
.
.
Ocha merebahkan badannya di ranjang empuknya. Matanya menatap ke langit-langit kamar. Terlintas dipelupuk matanya kejadian-kejadian bersama Abi. Mulai dari pertemuan pertama saat perjamuan beberapa waktu yang lalu, insiden sakit perut, makan siang bareng, hingga aroma maskulin Abi saat ia peluk tadi di motor. Semuanya bermunculan seperti potongan-potongan slide dalam sebuah film.
Ada perasaan hangat yang menelusup ke dalam relung hatinya jika mengingat perhatian dan perlakuan sopan Abi terhadapnya. Namun tak urung, perasaan bersalah singgah di hatinya jika mengingat perkataan kasarnya pada Abi.
Ia belum bisa membuka hatinya untuk siapapun termasuk Abi. Masih ada luka di hati Ocha. Ia takut jatuh cinta lagi, lebih tepatnya takut dikecewakan dan dikhianati lagi. Luka yang ditorehkan Doni masih membekas di hatinya.
.
.
.
"Assalamualaikum" ucap Abi lalu masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam, kok udah pulang mas?" tanya ibunya. Abi duduk menyenderkan badannya di sofa ruang tamu, setelah sebelumnya ia melepas kaos kakinya memasukkannya ke dalam lubang sepatu lalu menyimpan sepatunya di rak sepatu depan rumahnya.
"Tadi Abi ijin pulang cepat bu" ucap Abi, membuka jam tangannya dan membuka kancing kemeja lengannya lalu menariknya ke batas siku.
"Kenapa? Mas sakit?" tanya ibunya tiba-tiba khawatir.
__ADS_1
"Enggak.. tadi mas dapat pesan dari tante Reni. Mas disuruh jemput Ocha ke kampusnya" jelas Abi pada ibunya.
"Oo... ceritanya abis ketemu yayang yaa" senyum bu Arni menggoda anaknya.
"Apa sih ibu tuh biasa deh ngeledekin Abi aja" jawab Abi, sambil tersipu. Ia tersenyum mengingat pelukan Ocha saat di motor. Ocha adalah perempuan kedua yang memeluknya di motor selain ibunya. Abi tak pernah mau membonceng perempuan manapun di motornya, apalagi memeluknya.
"Hayoo... ada kejadian apa nih, sampe senyum-senyum sendiri" goda bu Arni.
"Gak ada kok, Abi masuk ke kamar dulu bu mau mandi, gerah nih" jawab Abi.
"Loh gak makan siang dulu mas?" tanya bu Arni.
"Udah makan bu, tadi dikampus" jawab Abi sambil lalu pergi ke kamarnya.
"Sepertinya ada kemajuan nih meskipun sedikit, jangan menyerah anakku!" gumam bu Arni setelah anaknya pergi ke kamar.
.
.
"Aduh sampe lupa! Laptop ketinggalan di sekolah, sebaiknya aku telpon pak Udin dulu" gumam Abi, ia teringat tadi buru-buru pergi tanpa membereskan laptopnya dulu.
"Halo pak Udin, iya tolong laptop saya yang ada di Lab komputer di bawa ke rumah pak Udin saja, nanti sore saya ambil ke rumah bapak, iya terima kasih ya pak, maaf merepotkan" Abi menelepon penjaga sekolah untuk mengamankan laptopnya yang ketinggalan.
Abi melirik jam kecil yang ada di atas nakas samping ranjangnya. Jam 2 siang. Ia membuka kemejanya menggantinya dengan kaos, lalu merebahkan badannya diranjangnya.
"Mandinya nanti aja lah, tidur siang sebentar" pikir Abi. Tapi sudah 30 menit, matanya masih terbuka. Ia tidak bisa tidur, ia kembali memikirkan Ocha.
"Aku pasti bisa membuatmu membuka hatimu untukku! Semangat!!" ucap Abi menyemangati diri sendiri. Ia lalu memainkan ponselnya, membuka aplikasi facebook yang sudah beberapa waktu ini ia lupakan. Karena kesibukannya.
Kira-kira begini deh Ocha meluk Abi dari belakang boncengan motor. Dag dig dug...
__ADS_1