
>>now on Ocha<<
Hari ini aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Aku menyisir rambutku, melihat pantulan diriku di dalam cermin. Aku mengenakan kemeja kotak-kotak biru panjang dan celana jeans biru laut, lengan baju kemeja kulipat setengah hingga ke siku. Kugulung rambut ikalku ke atas. Haaahhh... Kuhembuskan nafas sejenak, berusaha memantapkan kembali keberanianku.
Hari ini hari selasa pagi. Aku bersiap bukan karena ada jadwal kuliah, tapi hari ini adalah hari penentuan hubunganku dengan Doni, pacarku. Setelah semalam dengan susah payah hampir 2 jam terus menerus aku menelepon dan terus menerus ku kirim pesan via whatsapp, messenger, dan semua medsos yang biasa ia gunakan, akhirnya aku bisa juga dapat balasan pesan. Aku memintanya besok alias hari ini untuk bertemu denganku setelah jadwal kuliahnya selesai di kantin kampus. Aku mau meminta penjelasan darinya, kenapa akhir-akhir ini dia menghindariku.
"Loh anak mama koq udah rapi gini, bukannya kalo selasa ga ada jadwal kuliah ya, mau kemana Cha..? selidik mama.
"Ocha mau ketemu Doni ma" jawabku sambil mengunyah roti sandwichku.
"Cha.. bisa gak mulai sekarang kamu jaga jarak sama Doni." ucap mama lembut, terlihat ada nada kehati-hatian dalam ucapan mama. Mungkin agar aku tidak tersinggung oleh perkataannya. Aku tidak menyahuti ucapan mama, karena memang saat ini aku dan Doni pun sudah ada jarak di antara kami.
"Sayaang... dari pertama waktu kamu cerita ke mama kalo kamu suka sama Doni, mama tidak melarang kamu berhubungan dengan Doni, malah mama merasa senang, akhirnya anak mama puber juga" sejenak mama menggantungkan ucapannya, kemudian melanjutkannya.
"Mama pikir, cinta Ocha pada Doni itu hanya cinta monyet, jadi mama biarkan. Sengaja mama biarkan perasaanmu tumbuh supaya kamu lebih mengerti perasaan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta, sebagai pembelajaranmu menjadi perempuan yang lembut" lanjutnya.
"Mama sebenarnya khawatir saat kamu tumbuh menjadi remaja tomboy. Kamu bahkan tidak punya pakaian anak perempuan, satu-satunya pakaian perempuanmu hanya rok sekolahmu saja. Jadi saat sampai SMA kamu masih suka sama Doni, mama biarkan, meski mama tetap memantaumu" ucap mama menjelaskan tujuan mama membolehkanku pacaran dengan Doni.
"Tapi sampai detik ini kamu kuliah semester akhirpun kamu masih belum berubah. Sikapmu masih tetap tomboy, suka selengean, jauh dari kata feminim. Itu artinya Doni belum bisa membuatmu berubah menjadi perempuan dewasa yang lembut. Kamu harus sudah mulai menata masa depanmu nak.. " ucap mama. Kini mama sudah berpindah duduk di sampingku.
"Mama hanya ingin melihatmu bahagia. Mama ingin memberikan pilihan-pilihan yang terbaik buatmu nak.." mama membenarkan anak rambutku yang terjatuh di pipiku, mengaitkannya pada telingaku.
__ADS_1
"Mama sayang sekali sama Ocha, mama tidak mau melihat anak kesayangan mama menderita" ucap mama lirih. Ada gurat harapan dan kesedihan dalam ucapan mama. Aku mengerti sedikit pada ucapan terakhir mama. Mama pasti tidak mau aku menikah dengan Doni, karena Doni anak broken home.
Dulu orang tuanya tinggal di Jakarta, dia di kota ini tinggal dengan nenek dari ibunya. Setelah Doni SMA, Doni akhirnya mengetahui kalau ayahnya berselingkuh dan sudah menikah lagi dengan wanita selingkuhannya. Doni meminta mamanya untuk tinggal bersama Doni di kota ini. Memulai kehidupan yang baru bersama ibunya tanpa ayahnya.
Sebenarnya mungkin alasan mama bukan karena Doni anak broken home, hanya saja insting seorang ibu lebih tahu alasan terbaik untuk anaknya, menurut pendapatku saja sih.
"Ocha juga sayang mama dan papa. Maaf Ocha belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk mama dan papa" ucapku sambil memeluk mama. Aku merasa bersalah pada mama dan papa. Aku belum bisa merubah sikapku.
Tapi selain kesalahanku yang belum merubah sikap tomboyku, aku tidak merasa punya kesalahan lain pada mama dan papa. Pelajaran di sekolahku dulu tidak pernah anjlok karena pikiranku teralihkan oleh pacaran atau kegiatan ekskul basketku. Sampai saat aku kuliah pun, semua tugas aku kerjakan dengan baik. Aku menjaga diri agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja.
Apapun yang terjadi dalam keseharianku, aku selalu menceritakan pada mama. Termasuk hubungan pacaranku yang biasa saja dengan Doni.
Gaya pacaranku sedikit unik, atau bahkan lebih seperti aneh, menurut pandangan Nisa. Dari dulu aku tidak pernah mau bergandengan tangan dengan Doni setiap kali kami jalan bareng. Jadi kalau mau jalan, ya jalan saja tidak usah pakai gandengan tangan, emangnya truk gandeng! Kilahku saat ditanya Doni kenapa aku tidak mau digandeng tangannya.
Dan yang paling anehnya lagi, menurut pandangan Nisa lagi hehe, aku tidak pernah memeluk Doni setiap bonceng motornya. Tanganku selalu ku taruh di bahunya. Persis seperti naik motor dengan abang ojek. Malas aja nempel-nempel di siang hari bolong, cuaca panas, gerah, masa harus nempel-nempel gitu. Males banget deh.
Tapi selama ini Doni tidak pernah protes dengan kelakuanku. Sikapnya yang pengertian itulah yang membuatku selalu nyaman dengan Doni. Ia tidak menuntutku seperti cewek-cewek yang lain.
"Mama tidak berusaha memaksa perasaan Ocha, tapi alangkah baiknya mulai sekarang Ocha membuka pikiran Ocha lebih luas lagi. Bagaimanapun juga Ocha sebentar lagi lulus kuliah dan kemudian tentu harus menikah, jadi..." mama menghentikan ucapannya sejenak. Menatap tajam bola mataku.
"Jadi mama harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik dan bijaksana ya sayang" ucap mama lalu mengecup keningku.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan, mencoba meresapi setiap perkataan mama.
"Ma Ocha berangkat dulu ya" ucapku lalu mencium tangan mama.
.
.
.
.
"Hai Nis! Udah lama nunggu disini?" tanyaku pada Nisa yang sedang menikmati sarapan bubur ayam di kantin kampus.
"Gak sih, baru aja, udah makan belum? Sarapan dulu gih biar kuat, sebelum perang!" sindir Nisa.
"Udah sarapan tadi di rumah" aku tak menghiraukan sindiran Nisa karena perasaan gugup mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
"Nis, kok aku deg-degan ya" ucapku semakin gugup.
"Ya iyalah deg-degan, kan kamu masih hidup, kalau kamu udah mati tuh, baru gak bisa ngerasain deg-degan lagi!" canda Nisa berusaha mentralkan rasa gugupku. Aku hanya nyengir setengah hati. Sungguh rasa gugup yang menjengkelkan!
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian Doni datang. Hatiku berdegup kencang, bagaimana tidak? Sudah sekian lama aku tidak bertemu sosoknya, mungkin hampir sebulan. Itupun kulalui dengan enjoy karena aku sedikit lupa karena disibukkan oleh kegiatan kampusku yang mulai padat.