Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 32


__ADS_3

>>masih author<<


"Assalamualaikum" ucap Abi lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk Cha" ajak Abi. Ocha masih berdiri di depan pintu rumah Abi. Ini adalah kedua kalinya ia mendatangi rumah Abi. Dulu pertama kali saat dirinya terkena serangan sakit perut, sehingga Abi langsung membawanya ke rumahnya untuk dirawat bi Anah. Dan sekarang dalam keadaan sadar ia akan menginap di rumah ini.


"Kok diem aja di situ? Ayo masuk Cha, udah mau maghrib nih, ayo masuk" Abi lantas menggamit tangan Ocha, mengajaknya masuk ke rumah.


"Eh ada si cantik Ocha, ayo sini masuk, jangan malu-malu ayoo.." ucap bu Arni, ibunya Abi. Bu Arni mencium kedua pipi Ocha lalu menggandengnya menuju ruang makan. Abi tidak ikut masuk ke dalam, ia kembali lagi ke mobil, membawa koper milik Ocha.


"Ayo Ocha duduk sini, kita makan malam dulu ya, kamu pasti belum makan kan?" ucap ibu Arni. Tanpa menunggu jawaban Ocha lagi, ibu Arni langsung menuangkan nasi dan lauk untuk Ocha. Abi sudah duduk di samping Ocha. Ibu Arni juga sudah menyiapkan piring dan isinya untuk Abi.


"Ayo dimakan, jangan malu-malu, biar maghnya gak kambuh lagi" Ocha menurut saja perintah ibunya Abi.


"Oh ya Ocha nanti tidur di kamar Abi saja ya" ucap bu Arni tiba-tiba di tengah suasana makan malam.


"Uhuk..uhukk..!" Abi dan Ocha tersedak secara bersamaan. Mereka kaget dengan perintah bu Arni.


"Tunggu dulu dong, ibu belum selesai bicara kok, udah pada batuk aja" ucapnya sambil senyum melihat tingkah anak dan calon menantunya.


"Ocha tidur di kamar mas Abi, sedangkan mas Abi pindah tidur di kamar belakang" jelas bu Arni.


"Kamar belakang kan sempit dan belum sempat dirapikan jadi biar mas Abi saja yang tidur disana, nanti ibu suruh bi Anah yang bereskan. Ibu mana tega membiarkan calon menantu ibu tidur tidak nyenyak" ledek bu Arni. Ocha dan Abi tersipu bersamaan. Hati Abi merasa hangat mendengar ucapan ibunya.


"Gak apa-apa tante, biar Ocha tidur di kamar belakang saja" ucap Ocha.

__ADS_1


"Tidur di kamar mas Abi yang bikin aku gak bisa tidur nyenyak!" pikir Ocha.


"Kamar mas Abi dan kamar belakang sudah siap semua bu" suara bi Anah memberikan laporan pada majikannya.


"Oh ya bi, tolong koper Ocha bawa ke dalam kamar mas Abi ya" perintah bu Arni. Tapi sebelum bi Anah melaksanakan perintah majikannya, Abi dengan sigap membawa koper Ocha masuk ke dalam kamarnya. Ia kemudian mengambil beberapa barang-barangnya untuk di pindah ke kamar belakang.


"Nah Ocha, kamu istirahat gih, kamarnya sudah siap, jangan takut, mas Abi gak akan berani masuk ke kamar, dan semua seprei selimut semuanya baru kok, jadi tenang saja, kamu bisa tidur nyenyak malam ini. Jangan hawatirkan papa dan mama kamu, semua pasti baik-baik saja, okey?" ucap bu Arni mengantarkan Ocha ke kamar Abi.


.


.


Gemericik suara rintik hujan terdengar dari balik jendela kamar. Malam ini hujan turun membasahi bumi. Seolah menumpahkan seisi air dari langit, hujan turun cukup deras, sesekali kilat dan petir bergemuruh menghiasi cakrawala. Seperti sebuah simfoni alunan lagu saat hujan turun.


Ocha kemudian mengalihkan tatapannya dari jendela kamar Abi. Ia mengamati setiap sudut kamar Abi. Ranjang yang berukuran cukup besar, ranjang yang dulu ia pernah tiduri saat insiden sakit perut. Lemari pakaian yang besar, jelas sekali bahwa kamar mas Abi memang berukuran besar, terlihat dari barang-barang yang didalamnya berukuran besar. Hanya meja rias saja yang berukuran kecil, yang diatasnya bertengger beberapa perlengkapan perawatan kulit milik laki-laki.


Ia menelisik setiap inci kamar Abi, semuanya tertata rapi, kemudian ia menatap meja belajar di sudut kamar. Ada banyak deretan buku-buku tersusun rapi. Buku-buku tentang ilmu komputer, ilmu kependidikan, dan beberapa novel. Ocha merasa tertarik dengan salah satu buku yang menurutnya berbeda dengan buku-buku yang lain.


Ocha mengambil buku bersampul hijau itu. Tak ada judul di depannya maupun di belakangnya. Ketika ia hendak membuka buku itu, ia didera rasa takut, takut keluarga Abi mengiranya berlaku tidak sopan sebagai tamu. Ia kemudian meletakkan kembali buku itu di atas meja belajar, tapi rasa penasaran Ocha sangat mengganggu hatinya sehingga mendorong keberaniannya untuk membaca buku itu. Dengan perlahan ia membuka buku itu.


Jedeerr..!! Suara petir sangat keras memekakkan telinga.


"Aaaaaa...!!!" Ocha berteriak ketakutan. Buku itu terlempar ke bawah meja belajar. Tiba-tiba saja lampu kamar padam. Dan ternyata semua lampu rumah di sekitar rumah Abi padam. Listrik padam dikarenakan petir tadi yang menyambar gardu listrik.


Abi yang sedang menonton tv acara bola pun sontak kaget. Ia bergegas mengetuk pintu kamar. Ocha membuka pintu dengan tergesa-gesa kemudian berhambur keluar dan tanpa ia sadari ia memeluk Abi. Suasana rumah sangat gelap hanya diterangi oleh senter lampu ponsel Abi.

__ADS_1


Abi memeluk Ocha dengan erat, memapahnya menuju kursi makan dan mendudukkannya. Ia lalu mengambil air minum yang ada di meja makan untuk diberikan pada Ocha. Bu Arni kemudian keluar dari kamar sambil membawa lilin di tangannya.


"Ocha kenapa mas?" tanya ibunya.


"Tadi Ocha mungkin kaget bu karena suara petir yang keras tadi dan tiba-tiba listrik rumah juga padam" jelas Abi. Ia duduk di samping Ocha sambil memerhatikan nafas Ocha yang terengah-engah karena takut.


"Mas, tolong kamu nyalakan beberapa lilin di setiap ruangan, agar rumah lebih terang" perintah bu Arni.


Abi hendak beranjak dari duduknya tiba-tiba tangan Ocha menariknya.


"Mas jangan pergi, duduk di sini saja" ucap Ocha lemah. Abi bingung, bagaimana bisa ia melaksanakan perintah ibunya jika tangannya saat ini digenggam erat oleh Ocha.


"Ya sudah mas Abi temani Ocha saja, biar ibu yang menyalakan lilin" ucap ibunya yang mengerti keadaan Ocha.


"Mas antar kamu ke kamar ya? Sudah ada lilin kok di dalam" ucap Abi memapah Ocha masuk ke kamarnya.


Ada dua lilin di kamar itu, satu lilin diletakkan di atas meja belajar Abi dan satunya lagi di atas nakas sebelah ranjang. Ocha naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya.


Lagi-lagi Ocha mengggamit tangan Abi saat Abi hendak beranjak keluar kamar. Ia tak mau ditinggalkan Abi, ia takut tidur dalam keadaan gelap. Di rumahnya saat listrik padam ia biasa tidur ditemani oleh mamanya.


"Hemm gimana nih kalau begini terus lama-lama aku bakal gak kuat. Aku kan juga laki-laki normal" batin Abi.


Bagaimana bisa Abi menahan lebih lama lagi hasrat terpendamnya jika terus berduaan dengan pujaan hati dalam kamar yang temaram cahayanya begini. Apalagi Ocha terus menggenggam tangannya, seolah teralirkan aliran panas ke telapak tangannya, membuat hatinya semakin menghangat dan detak jantungnya semakin terpacu.


"Ocha..mas keluar ya, nanti biar ibu yang menemani Ocha tidur ya" ucap Abi akhirnya. Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan Ocha dalam keadaan ketakutan dan ia juga segan meminta ibunya menemani Ocha. Tapi ia yakin, ibunya pasti mau menemani Ocha tidur malam ini karena di rumahnya saat ini hanya mereka bertiga, bi Anah pembantunya tidak pernah menginap, ia selalu pulang jam lima sore dan datang pagi-pagi sekali.

__ADS_1


Itu adalah pilihan yang bijak daripada ia harus berkejaran dengan rasa yang tidak karuan di hatinya jika berada dekat dengan Ocha semalaman.


__ADS_2