Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 22


__ADS_3

>>lanjut thor<<


"Loh kok belok mas?" tanya Ocha saat motor Abi berbelok ke jalan yang bukan arah pulang. Abi lalu menghentikan motornya di depan toko aksesoris komputer.


"Kesini sebentar ya, mas perlu membeli beberapa flashdisk dan kabel data untuk siswa mas di sekolah" ucap Abi.


"Kamu mau ikut mas masuk ke dalam toko?" tanya Abi.


"Aku tunggu disini saja" ucap Ocha.


"Males banget ngikut dia masuk ke toko, hiiyy.. ogah!!" gumam Ocha.


.


.


"Jangan kurang ajar ya!" terdengar suara Ocha berteriak di luar toko komputer itu. Abi langsung bergegas keluar mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Abang cuma mau kenalan aja neng, ga usah teriak-teriak kali, boleh dong abang minta nomer whatsappnya neng?" ucap seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapan Ocha. Ia berusaha meraih tangan Ocha. Melihat itu, Abi bergegas mendekati dan mencekal tangan bertato milik laki-laki itu.


"Siapa lu?! Berani cekal tangan gue!" ucap laki-laki bertato itu. Abi menduga laki-laki itu sedang dalam keadaan mabuk, karena tercium aroma alkohol dari mulutnya.


"Lepasin tangan lo! Mau gue hajar, hah?!" oceh laki-laki itu.


Abi masih diam, tangannya kuat mencengkeram tangan laki-laki itu. Ocha yang melihat adegan itu, seketika takut, gelisah dan bingung harus melakukan apa. Ia lalu berdiri di belakang Abi, memeluk lengan Abi yang satunya.


"Sebaiknya mas pergi dari sini, sebelum saya panggilkan petugas keamanan!" ucap Abi, tegas.


"Siapa lu berani ngancem gue?!" teriak laki-laki itu sambil menarik paksa tangannya yang tadi Abi cengkeram.


"Saya suaminya, jadi jangan ganggu istri saya! Sebaiknya mas pergi dari sini sekarang atau mau saya telpon polisi?!" ucap Abi seraya tangannya mengambil ponsel dari saku jeansnya. Laki-laki itu akhirnya menyerah, berjalan mundur lalu pergi dari hadapan Abi.


Abi kemudian berbalik menghadap Ocha, terlihat tubuh Ocha bergetar hebat. Melihat keadaan Ocha yang seperti itu akhirnya refleks Abi memeluk Ocha, menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Ocha menangis di pelukan Abi. Abi merasakan ketakutan yang luar biasa dari tubuh Ocha. Ia sedikit heran dengan reaksi tubuh Ocha yang bergetar dengan hebat hanya dengan kejadian yang singkat tadi.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ocha? Apakah Ocha punya trauma? Gejalanya seperti phobia" gumam Abi menganalisa kondisi Ocha saat ini. Ia kemudian menuntun Ocha ke bangku depan toko tersebut. Abi hendak pergi sebentar ke warung untuk membeli air mineral, tapi kemudian tangannya di cegah oleh Ocha.


"Jangan pergi.." ucap Ocha di sela tangisannya.


Akhirnya Abi mengurungkan niatannya untuk pergi ke warung membeli air minum. Ia lalu duduk kembali di samping Ocha, menarik bahu Ocha agar tubuhnya bisa bersandar ke dada bidang Abi, menggenggam erat tangan Ocha, mengusap lembut rambutnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya Ocha sudah merasa tenang, tangisnya pun sudah mulai mereda. Abi mengajak Ocha pulang. Ocha hanya mengangguk lemah.


.


.


.


"Makasih mas udah nganterin aku cari buku hari ini dan makasih juga tadi udah ngelindungin Ocha dari preman" ucap Ocha saat mereka sudah sampai dipintu gerbang rumah Ocha.


"Iya sama-sama. Gimana perasaan kamu? Udah mendingan? Atau masih perlu mas peluk lagi?" Abi mengedipkan mata genitnya untuk menggoda Ocha. Ocha tersipu, ia sedikit menahan senyumnya, tapi sayangnya tak bisa menutupi ceruk lesung di pipinya yang sudah terbentuk.


"Ya udah mas pulang dulu ya, besok mas datang lagi, nemenin kamu revisi skripsi. Salam buat mama papa kamu ya, assalamualaikum" ucap Abi pamit, ia menyalakan motornya lalu melaju, pulang.


.


.


"Eh si cantik udah pulang. Loh kok matanya sembab gini, kenapa sayang?" ucap mama Reni sambil mengelus pipi Ocha, hawatir.


"Gak apa-apa, Ocha ke kamar dulu ma, mau istirahat, capek" ucap Ocha menghindari pertanyaan mamanya.


Setelah punggung Ocha tidak terlihat lagi oleh mata, mama Reni mengambil ponsel dan menekan nomor Abi.


Tuut..tuut..tuut.. Beberapa kali mama Reni menelepon Abi tapi tidak ada jawaban. Mama Reni semakin gelisah, ada apa dengan anaknya dan Abi. Mama Reni hawatir sekali. Akhirnya mama Reni menelpon bu Arni.


Tuut..tuut..tuuut.. Ponsel bu Arni tidak aktif.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya?" gumam mama Reni.


Mama Reni melirik jam dinding di ruang tamu, jam 5 sore. Ia bergegas ke dapur menyiapkan menu makan malam.


"Nelponnya nanti abis makan malam saja, biar agak tenang" ucap mama Reni.


.


.


Abi keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yng ada pada lehernya. Kini ia merasa segar kembali setelah melepas peluh dan debu yang menempel pada tubuhnya seharian ini. Ia bergegas mengenakan kaos dan celana pendek yang ia siapkan di atas ranjangnya.


"Mas ayo makan!" suara bu Arni dari balik pintu kamar Abi.


"Ya bu!" tak sempat Abi mengambil ponselnya, ia langsung keluar kamar dan bergabung di meja makan dengan ayah ibunya.


Setelah makan, Abi tak langsung masuk ke kamarnya, ia bersantai ria menonton tv. Abi melirik jam di dinding, sudah jam 9 malam. Rasa kantuk mulai melanda matanya. Berkali-kali ia menguap.


"Mas, ibu baru buka ponsel sehabis di charge, ini ternyata banyak misscalled dari mamanya Ocha. Ada apa ya? Ibu telpon balik tapi ga di angkat" ucap ibunya.


"Astaga! Abi lupa mau telpon mamanya Ocha, ya udah nanti Abi saja yang menghubungi mamanya Ocha bu. Abi ke kamar dulu ya bu mau ambil ponsel" ucap Abi kemudian beranjak pergi ke kamarnya.


Abi meraih ponselnya yang ia letakkan tadi saat pulang dari rumah Ocha, di atas nakas. Di layar terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari mamanya Ocha.


Tuut..tuut...


"Halo tante, iya maaf tadi ponsel Abi ada di kamar jadi gak tau kalau tante telpon" ucap Abi.


"Iya tante tadi waktu mampir di toko komputer, Ocha sempat diganggu sama preman bertato" ucap Abi menjelaskan dengan detail kejadian tadi sore saat di toko komputer pada mama Reni, mamanya Ocha.


"Baik tante, Abi akan lebih berhati-hati" Abi menutup sambungan telponnya dengan mamanya Ocha. Kini ia paham kenapa tubuh Ocha bergetar sangat hebat karena rasa takut yang luar biasa. Ia sedikit menyesali perbuatannya yang meninggalkan Ocha sendirian di luar toko. Seharusnya ia menggandeng tangan Ocha dan membawanya masuk ke dalam toko.


"Seharusnya aku tidak meninggalkan Ocha sendirian tadi, kamu bodoh Abi!" Abi merutuki kesalahannya, benar-benar kesalahan fatal.

__ADS_1


__ADS_2