Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 33


__ADS_3

>>Ocha<<


Dan disinilah aku, berdiri di depan pintu rumah mas Abi. Mama menyarankanku untuk menginap di rumah tante Arni, karena mama khawatir malam ini aku tidur sendiri di rumah.


"Ayo masuk Cha" suara mas Abi membuyarkan lamunanku. Ini adalah kedua kalinya aku mendatangi rumah mas Abi. Dulu pertama kali saat insiden memalukan yaitu aku terkena serangan sakit perut, sehingga mas Abi langsung membawaku ke rumahnya untuk dirawat bi Anah. Dan sekarang dalam keadaan sadar aku kini akan menginap di rumah ini.


"Kok diem aja di situ? Ayo masuk Cha, sudah mau maghrib nih, ayo masuk" mas Abi lantas menggamit tanganku, mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Perasaanku tak karuan, malu campur takut.


Malu? Karena baru kali ini aku menginap di rumah orang yang tak lama ini aku kenal.


Takut? Karena mas Abi juga seorang laki-laki, aku takut mas Abi bertindak kurang ajar padaku.


"Eh ada si cantik Ocha, ayo sini masuk sayang, jangan malu-malu ayoo.." ucap tante Arni, ibunya mas Abi. Tante Arni mencium kedua pipiku lalu menggandengku menuju ruang makan. Kulihat mas Abi tidak ikut masuk ke dalam denganku, ia kembali lagi ke mobil, membawa koper milikku.


"Ayo Ocha duduk sini, kita makan malam dulu ya, kamu pasti belum makan kan?" ucap tante Arni. Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, tante Arni langsung menuangkan nasi dan lauk ke atas piringku. Mas Abi sudah duduk di sampingku. Tante Arni juga sudah menyiapkan piring dan nasi untuk Abi.


"Ayo dimakan, jangan malu-malu, biar maghnya gak kambuh lagi" aku menurut saja perintah ibunya mas Abi.


"Oh ya Ocha nanti tidur di kamar Abi saja ya" ucap tante Arni tiba-tiba di tengah suasana makan malam.


"Uhuk..uhukk..!" aku tersedak karena kaget mendengar perkataan tante Arni. Bagaimana bisa, aku tidur sekamar dengan mas Abi. Aku meminum air putih di depanku, berusaha menghilangkan ganjalan di tenggorokanku.


"Tunggu dulu dong, ibu belum selesai bicara kok, udah pada batuk aja" ucap tante Arni.

__ADS_1


"Ocha tidur di kamar mas Abi, sedangkan mas Abi pindah tidur di kamar belakang" jelas tante Arni. Aku bernafas lega, kupikir tante Arni sedang tidak sehat pikirannya.


"Kamar belakang kan sempit dan belum sempat dirapikan jadi biar mas Abi saja yang tidur disana, nanti ibu suruh bi Anah yang bereskan. Ibu mana tega membiarkan calon menantu ibu tidur tidak nyenyak" ledek tante Arni. Aku tersipu. Ada perasaan aneh dalam hatiku mendengar kata "menantu", seperti ada yang menggelitik di telingaku.


"Gak apa-apa tante, biar Ocha tidur di kamar belakang saja" ucapku. Aku enggan tidur di kamar mas Abi.


"Tidur di kamar mas Abi yang bikin aku gak bisa tidur nyenyak!" pikirku


"Kamar mas Abi dan kamar belakang sudah siap semua bu" suara bi Anah memberikan laporan pada tante Arni.


"Oh ya bi, tolong koper Ocha bawa ke dalam kamar mas Abi ya" perintah tante Arni. Tapi sebelum bi Anah melaksanakan perintah tante Arni, mas Abi dengan sigap membawa koperku masuk ke dalam kamar mas Abi yang nantinya aku tempati. Ia kemudian mengambil beberapa barang-barangnya untuk di pindah ke kamar belakang.


"Nah Ocha, kamu istirahat gih, kamarnya sudah siap, jangan takut, mas Abi gak akan berani masuk ke kamar, dan semua seprei selimut semuanya baru kok, jadi tenang saja, kamu bisa tidur nyenyak malam ini. Jangan khawatirkan papa dan mama kamu, semua pasti baik-baik saja, okey?" ucap bu Arni mengantarkan Ocha ke kamar Abi.


.


.


Aku kemudian mengalihkan tatapanku dari jendela kamar mas Abi. Sambil melipat kedua tanganku karena dingin aku mengamati setiap sudut kamar mas Abi. Ranjang yang berukuran cukup besar, ranjang yang dulu aku pernah tiduri saat insiden sakit perut. Memalukan!


Lemari pakaian yang besar, jelas sekali bahwa kamar mas Abi memang berukuran besar, terlihat dari barang-barang yang didalamnya berukuran besar. Hanya meja rias saja yang berukuran kecil, yang diatasnya bertengger beberapa perlengkapan perawatan kulit milik laki-laki.


"Ternyata resik juga ya orangnya" batinku.

__ADS_1


Aku menelisik setiap inci kamar mas Abi, semuanya tertata rapi, kemudian aku menatap meja belajar di sudut kamar. Ada banyak deretan buku-buku tersusun rapi. Buku-buku tentang ilmu komputer, ilmu kependidikan, dan beberapa novel. Aku mengerutkan kening, karena merasa tertarik dengan salah satu buku yang menurutku berbeda dengan buku-buku yang lain.


Aku mengambil buku bersampul hijau itu. Tak ada judul di depannya maupun di belakangnya. Ketika aku hendak membuka buku itu, ada perasaan ragu yang menderaku. Aku kemudian meletakkan kembali buku itu di atas meja belajar, tapi rasa penasaranku sangat mengganggu hatiku sehingga mendorong keberanianku untuk membaca buku itu. Dengan perlahan aku mengambil kembali buku itu dan perlahan membukanya.


Jedeerr..!! Suara petir sangat keras memekakkan telingaku.


"Aaaaaa...!!!" Aku berteriak ketakutan sambil menutup telingaku. Sontak buku itu terlempar dari tanganku dan terjatuh ke bawah meja belajar. Tiba-tiba saja lampu kamar padam. Aku semkin ketakutan. Dan ternyata semua lampu rumah di sekitar rumah mas Abi padam. Aku berjalan perlahan mendekati pintu, meraba setiap benda yang bisa kugapai.


Aku membuka pintu dengan tergesa-gesa kemudian berhambur keluar dan tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memeluk orang yang ada di hadapanku. Suasana rumah sangat gelap hanya diterangi oleh senter lampu ponsel dan ternyata orang yang di hadapanku adalah mas Abi.


Mas Abi menuntunku ke kursi makan lalu mengambilkan air minum yang ada di meja makan untukku.


"Ocha kenapa mas?" tanya tante Arni, ia membawa sebuah lilin di tangannya.


"Tadi Ocha mungkin kaget bu karena suara petir yang keras tadi dan tiba-tiba listrik rumah juga padam" jelas mas Abi.


"Mas, tolong kamu nyalakan beberapa lilin di setiap ruangan, agar rumah lebih terang" perintah tante Arni.


"Mas jangan pergi, duduk di sini saja" ucapku lemah. Aku menggamit tangannya saat ia hendak pergi menyalakan lilin ke ruangan lain.


"Ya sudah mas Abi temani Ocha saja, biar ibu yang menyalakan lilin" ucap tante Arni.


"Mas antar kamu ke kamar ya? Sudah ada lilin kok di dalam" ucap mas Abi setelah tante Arni masuk ke kamarku menyalakan lilin. Mas Abi memapahku masuk ke kamar.

__ADS_1


Ada dua lilin di kamar itu, satu lilin diletakkan di atas meja belajar mas Abi dan satunya lagi di atas nakas sebelah ranjang. Aku naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhku yang setengah menggigil karena kedinginan.


Lagi-lagi aku mengggamit tangan mas Abi saat mas Abi hendak beranjak keluar kamar. Aku tak mau ditinggalkan mas Abi, aku takut tidur dalam keadaan gelap. Biasanya kalau mati lampu, aku selalu tidur ditemani mama.


__ADS_2